Berbagi Informasi Untuk Guru Indonesia
PENGUNJUNG





APLIKASI BLOG GURU INDONESIA

IBN

translate

BisnisNgeTren.Com ya Paytren milik Ust. Yusuf Mansur Veritra Sentosa Internasional Treni KLIKVSI VSI

Cerita Rakyat Suku Toraja, Kisah Runtuhnya Eran Di Langi’

Suku Toraja sangat kaya akan adat dan budayanya yang unik, demikian halnya dengan cerita-cerita atau mitos suku toraja pada zaman dahulu kala, yang diceritakan secara turun temurun sampai sekarang, ada begitu banyak dan menarik untuk kita ketahui meskipun terkadang cerita-cerita tersebut menceritakan sesuatu yang mungkin di luar nalar pemikiran kita sebagai manusia.

sala satu mitos atau cerita suku Toraja yang sangat menarik untuk kita ketahui yakni kisah tentang Pong Mula Tau atau asal manusia pertama versi Suku Toraja, berikut kisahnya:

Asal Mula Manusia Pertama Versi Suku Toraja Atau Mitos Pong Mula Tau
Tradisi suku toraja menceritakan tentang sejarah perkembangan aluk sanda pitunna.konon aluk sanda pitunna dibawah oleh “pong mula tau”(manusia pertama menurut versi toraja) yang turun dari kayangan dan menetap di daerah bamba puang(tempatnya di sekitar daerah kotu,desa lakawan (kabupaten Enrekang) kemudian aluk sanda pitunna itu tidak dipedulikan lagi, bahkan dilanggar dan diperkosa oleh keturunan pong mula tau. Mereka mulai bertindaak dan mengikuti nafsu serahkanya, cakar mencakar, kutuk mengukuti seorang terhadadap yang lain.

Dalam bahasa toraja dikatakan:
neneqmi ade sitampakan ropu sisapuan palaq (kutuk mengutuki seorang dengan yaang lain)
Siseru biqtik sirumbe takiaq(rampas merampas dengan mempergunakan kekuatan badan)
Untengkai kalok alukna rampanan kapaq(untodo tinting pemalinna passulean allo(melanggar dan memperkosa semua adat istiadat perkawinan beserta pantangan pantangannya)

Maka terjadilah semacam”chaos” yang memuncak dengan tindakan najis dan penghianatan yang dilakukan oleh londong di rura bersama isterinya sa’pang di galeto

Diceritakan bahwa kawin mawin atara bersaudara sepupu sekali,bersaudara sepupu dua kali,sepupu tiga kali, hanya di isinkan oleh puang matua sang pencipta sampai generasi ke 3 keturunan pong mula tau. Sesudah itu, mereka yang boleh saling mengawini, hanyalah mereka yang sudah berada pada tingkat hubungan bersaudara sepupu empat kali( bahkan menurut tominaa tato’ dena’) sampai sepupu lima kali masih dilarang oleh puang matua sang pencipta. Sejak itu orang yang bersepupuh 1 kali sampai 5 kali pantang karena dilarang oleh puang matua sang pencipta. Pelanggaran terhadap penggarisan itu akan berakibat mala petaka bagi manusia dan seluruh mahkluk hidup.

Konon terjadilah bahwa seorang yang bernama londong di rura bersama isterinya bernama saqpang di galeto yang mendiami lembah rura yang subur dan makmur, berada dalam keadaan yang serba berkelimpahan kaya raya. Mereka dikaruniai anak 8 orang, 4 orang pria dan 4 orang wanita, dengan pendirian dan perhitungan supaya harta bendanya tiada terbagi kepada orang lain, maka mereka memutuskan untuk mengadakan perkawinan antara kedelapan orang anak kandungnya itu, berpasang pasangan seorang dengan yang lain. Untuk melaksanakan niatnya itu maka londong di rura mengirim seorang utusan ke seluruh daerah kediaman suku toraja menemui para ahli adat untuk meminta restu  dan sekaligus mengundang mereka untuk menghadiri pesta perkawinan itu.

Semua utusan itu kembali dan menyampaikan pesan bahwa tindakan mengawinkan orang bersaudara kandung,dalam bahasa toraja disebut “umpasirampanan kapaq to sangpatonian,umpasikulleasan passulean allo tosangtaran lolo”  hanyalah diisinkan oleh  puang matua sang pencipta antara anak kandung pong mula tau.orang yang bersaudara satu kali sampai sampai tiga kali sudah dilarang oleh puang matua sang pencipta.

Mendengar pesan para ahli adat itu, Londong di rura bersama anaknya saqpang di galeto, tidakl merasa puas lalu memutuskan untuk mengirim utusannya langsung menghadap puang matua sang pencipta.utusan londong di rura iotu segera naik ke langit melalui “eran di langiq”(tangga ke langit) sebuah tangga menurut tradisi konon berdiri tegak,puncaknya sampai ke  lapis langit yang ke tujuh,tempat manusia turun naik pergi menghadap puang matua,yang sampai kini dikenal dengan nama bamba puang(secara harafiah  berati pintu gerbang tuhan) maksudnya pintu gerbang tempat pergi  mengahadap hadirat tuhan pencipta alam semesta.

Diceritakan bahwa puang matua sang pencipta,memberikan kepada utusan londong di rura itu buah pinang, sebuah yang bulat utuh, sebuah yang terbalah dua,  sebuah yang dibelah empat dan sebuah lagi yang dibelah delapan, dengan pesan bahwa sekembalinya ke bumi segera menanam buah buah pinang itu ke dalam tanah. Apabilah buah pinang yang utuh itu bertumbuh , itu berarti bahwa orang yang bersaudara kandung itu dapat dikawinkan seorantg dengan yang lain, apabialh pinang yang dibelah dua yang tumbuh, maka itu berarti orang bersepupu satu kali dapat dikawinkan  satu dengan yang lain. Apa bila yang di belah empat yang tumbuh, maka orang yang berrsaudara sepupu empat kali dapat dikawinkan  seorang dengan yang lain.

Pesan puang matua sang pencipta itu, segera dilaksanakan oleh londong di rura dengan harapan dan keyakinan bahwa hanyalah buah pinang yang utuh itu aklan bertumbuh, sehingga rencananya pasti terkabul dan terlaksana.”mempalaq palaq bangrikiq langngan olo malaqbiqna puang matua to kaubanan, apa inang puang matua ia tu penggarontosanna mintuq katonganan”(manusia hanyalah merencanakan sesuatu dan memohon berkat tuhan,lalu tuhanlah yang menentukan segalah galahnya”

Konon dengan kekuasaan tuhan sang pencipta, maka hanyalah buah pinang yang dibelah empat(dalam bahasa toraja disebut kalosi ditepo) dan buah pinang yang dibelah jadi delapan disebut kalosi disigiq sigiq yang bertumbuh,sedangkan byah pinang yang utuh dan dibelah dua menjadi busuk dan menjadi busuk dalam tanah.

Kejadian itu sangat bertentangan dengan dengan angan angan dan keyakinan londong di rura bersama isterinya kalau yang akan tumbuh adalah yang utuh dan bukan yang sudah dibelah belah. Sebab itu londong di rura dan isterinya bersikeras tengkuk untuk melaksanakan perkawinan antara  kedelapan anak kandungnya.

Maka direncaanakanlah oleh londong di rura untuk melaksanakan upacara perkawinan antara anak anak kandungya itu dalam bentuk upacara “maqbuaq kasalle”(upacara syukuran tradisional yang tertinggi dalam tradisi suku toraja). diundangya semua pemuka pemuka adat diseluruh deaerah kediaman suku toraja untuk datang menghadiri dan meramaikan upacara itu. Terjadilah, ketika tiba hari pelaksannaanya murka dan laknat puang matua sang sang pencipta turun atas londong di rura sekeluarga bahakan bagi semua yang hadir dan bahkan sedasng menuju ke upacara maqbuaq kasalle tersebut lengkasp dengan busana dan perhiasann pestas yang mahal mahal harganya.

Eran di langiq pun ditumbangkan oleh puang matua, sehingga putuslah hubungan langsung antara manusia dengan puang matua. Lembah di rurs pun ditenggelamkan ke dslm tanah dsn musnahlah semua yang hadir dalam pesta meriah itu,bahakan yang sedang menuju kep pesta itu musnah dan menjadi batu beserta hewan hewan yang dibawahnya.

Sejak itu perkawinan antara saudara kandung, sepupu satu kali sampai tiga kali dipantang oleh suku toraja

Demikianlah cerita atau mitos secara singkat tentang Asal usul Pong Mula Tau versi Suku Toraja, semoga bermamfaat

Sumber Artikel Dari Buku Karangan C. Salombe’

 

Daftar Raja-Raja Sangalla Dan Sistem Pemerintahan Adat Sangalla

Pusat pemerintahan Palodang di Sangalla’ berada di Kaero dengan sebutan “Tongkonan layukna Kabarealloan Isungan Kapayungan to Kalindobulaan todikasiri’ mata bubunna, dikabangnga’ tondon turunanna”

Wilayah Pemerintahannya meliputi seluruh wilayah sangalla, yang terdiri dari 24 penanian yang membentang dari utara ke selatan( dari balik sampai uluwai). Sebelah timur berbatasan dengan wilayah adat Bastem, sebelah selatan berbatasan dengan wilayah adat Alla'(kab. Enrekang) dan wilayah mengkendek sebelah barat berbatasan dengan wilayah Makale dan sebelah utara berbatasan dengan wilayah adat Kesu’.

Penanggung jawab tongkonan Kaero “kabarealloan” diberi gelar PALODANG,Tongkonan layuk Kaero diberi gelar “Tongkonan pattola baine, to dikasiri’ mata bubunna, dikabangnga’ tondon turunanna atau tongkonan layukna kalindo bulaan isungan kapayungan kabarealloan”.

Palodang dipilih dari keluarga kabarealloan berdasarkan keturunan garis lurus atau keluarga Tamborolangi’ yang dipilih oleh wakil-wakil to ma’duang salu atau wakil-wakil dari penanian dan khalayak umum melalui kombongan kalua’. di tiap-tiapa penanian dilakukan kombongan untuk memilih utusan untuk menghadiri kombongan kalua’. yang terpilih dikukuhkan oleh tongkonan Solo’.

Pelantikan atau ditakko dalam kedudukannya sebagai Puang Massang Lanpadang ri Ranteallo dalam wilayah penanian Aa’. Pelaksana pelantikan adalah toparengnge’ dari tongkonan Solo’. Acara pelantikan dengan memotong seekor kerbau belang dan seekor babi serta lambang-lambang kebesaran. Upacara dilakukan pada pagi hari dan berakhir sebelum rembang tengah hari dan diantar oleh seorang sando atau tominaa.

Dengan asumsi bahwa kecuali Puang Tamborolangi’ dengan turunannya yang ketiga masih Puang Massang selanjutnya turunan selanjutnya tidak menutup kemungkinan melalui perkawinan-perkawinan bulaan( dipaitidak mustahil bahwa kritria Massang tidak ada lagi.

Untuk itumaka sebelum dilantik untuk dijadikan Puang Massang maka terlebih dahulu  diberikan minum dari irusan (dipairu irusan bulaanna Puang To Mellao Langi’) maka menjadilah Puang Massang. Selanjutnya dimulalilah pelantikan dengan istilah Tonna Dibunna Padang ri Ranteallo( penuturan  panginan to parengnge’ Solo’).

Adapun kapalodangan di sangalla’ sebagai berikut:

  1. Puang Sanda Boro (I), ayah Puang Lakipadada sekitar tahun 1257
  2. Puang Palodang Dolo(II)
  3. Puang Matasak Pattala Bantan (III) ada versi lain bahwa Puang Pattala Bantan Adalah Puang Palodang yang pertama
  4. Puang Timban atau Puang Pasalin  I era perang luwu (IV)
  5. Puang Kapu’ Boro (V)
  6. Puang Paseno Langi’ (IV)
  7. Puang Tumba’ Paseno Langi’ (VII)
  8. Puang Tanggulungan (VII)
  9. Puang Samparaya (IX)
  10. Puang Galugu (X)
  11. Puang Pabuaran Dolo (XI)
  12. Puang Tempang/Puang Tandiara’ (Raya Sampin I) (XII)
  13. Puang Raya Sampin II (XIII)
  14. Terjadi masa transisi.

Masa transisi terjadi karena pada saat kekuasaan Puang Raya Sampin II, terjadilah perang saudara dengan Puang Bullu Matua dari Pantan Makale, Puang Raya Sampin II terdesk dan akhirnya mengungsi ke Bajoe’ Palopo Selatan, dan yang menggantikan Puang Raya Sampin II  adalah sepupunya yang bernama Puang Datu Baine(sementara) yang tak lain adalah anak Puang Bullu Matua, sehingga pada saat itu Kaero digelar Tongkonan Datu Baine.

Daftar Raja-Raja Sangalla Dan Sistem Pemerintahan Adat Sangalla
Selanjutnya Puang Bullu Matua membagi negeri ini menjadi 3 wilayah pemerintahan yang dikenal dengan nama Tallu Lembangna yakni:

  1. Makale Basse Kakanna
  2. Sangalla Basse Tangngana
  3. Mengkendek Basse Adinna.
Pada masa itu mulailah dibangun Kapalodangan kembali di sangalla dengan urutan sebagai berikut:
  1. Puang Bullu Matua (Palodang Tangnga) (I)
  2. Puang Kanna (Datu Baine) (II)
  3. Puang Bulean Batu (III)
  4. Puang Paeloan (IV)
  5. Puang Pata’dungan (V)
  6. Puang Pasalin II (VI)
  7. Puang LIma Bayu (VII)
  8. Puang Pela’ Mundan  (VIII)
  9. Puang Pararrak (IX)
  10. Puang Pasanggang (X)
  11. Puang Tandilangi’ (XI)
  12. Puang Limbu Langi (XII)
  13. Puang Laso’ Rinding (XIII) 1912 – 1971
  14. Kosong Sampai sekarang

Demikianlah daftar raja2 atau Puang Sangalla dan system Pemerintahan Adat Sangalla yang berpusat di Tongkonan Layuk Kaero, semoga bermamfaat.

(sumber artikel dari buku sejarah tentang aluk, adat dan budaya tallu lembangna di Toraja)

 

Sekilas Tentang Hubungan Puang Tamborolangi’ Dengan Aluk Sanda Saratu’

Ketika To Lembang( wilayah adat) mulai berkembang dan mereka membentuk komunitas serta mengangkat pemimpinnya sendiri, mulailah timbul persaingan diantara komunitas, mulailah timbul kekacauan dan persaingan bahkan timbul peperangan diantara komunitas.

Menurut kegenda yang berkembang di Sangalla bahwa ketika dewa melihat sudah terjadi kekacauan di atas bimi dimana Aluk Sanda Pitunna sudah tidak berfungsi lagi, maka diturunkanlah Aluk Sanda Saratu’ dari langit, untuk melengkapi atau melaksanakan aluk sanda pitunna.

Tetapi aluk sanda saratu’ tidak lagi berjalan karena tidak ada lagi saling kepercayaan antara To Lembang, untuk itu diturunkanlah Puang Tamborolangi’ untuk menjalankan aluk sanda saratu’ sebagai pedoman atau kelengkapan aluk sanda pitunna.

Jadi aluk sanda saratu’ diturunkan terlebih dahulu dengan tujuan melindungi masyarakat serta menegakkan aluk sanda pitunna, baru kemudian diturunkan Puang Tamborolangi’  untuk melaksanaknnya.

Bila disimak secara mendalam, maka aluk sanda saratu’ melindungi masyarakat sedangkan Puang Tamborolangi’ sebagai alat untuk menegakkan aturan bukan dipakai to manurun sebagai alat kekuasaannya.

Sekilas Tentang Hubungan Puang Tamborolangi
Jadi proses turunnya aluk sanda saratu’ menggambarkan visi kepemimpinan Puang Tamboro Langi’ yaitu alat intuk mengabdi dan melindungi masyarakat.

Menurut cerita, Puang Tamborolangi’ turun dari langit di puncak Gunung Kandora. Puang Tamborolangi’ mendirikan rumah yang disebut banua ditoke’, tondok dianginni, kedenni tau sae lan di ullin, mulambi’ mo tondok ditoke’, banua dianginni inanna unnissan kada silambi’ tondokna tosirenden kada dipatau bunga’ kemudian berpindah ke bukit Kandora bagian utara, menjadi patron atau ikatan dalam  perkembangan masyarakat dan kebudayaan Toraja.

Ada versi lain yang menceritakan bahwa, Puang Tamborolangi’ turun di buki sarira atau palo’ko’ Ullin. Selanjutnya Puang Tamborolangi” membawa satu pranata yang disebut Aluk sanda Saratu’ yang diwariskan kepada perkembangan tatanan kehidupan masyarakat dan kebudayaan Toraya.

Demikianlah sekilas tentang hubungan Puang Tamborolangi” dengan Aluk Sanda Saratu’. Semoga bermamfaat.

Ritual Pemakaman Yang Unik Dari Suku Toraja,Ma’ Lantang Pangngan

Prosesi adat ma’lantang pangngan belum begitu dikenal oleh masyarakat toraja sendiri,karena adat ini termasuk langkah dan hanya terdapat di daerah-daerah tertentu di toraja.Prosesi adat ini diadakan pada upacara pemakaman atau rambu solo jika yang meninggal masih tergolong muda(mate malolle’).

Lantang pangngan ini dibuat oleh para pemuda atau sahabat-sahabat dari almarhum di daerah setempat. Pengadaan lantang pangngan ini dibuat oleh para sahabat-sahabat almarhum atas inisiatif sendiri sebagai tanda kerinduan untuk bermain dengan almarhum. Pembuatan lantang pangngan ini membutuhkan waktu yang lama paling kurang dua minggu,tergantung dari kreatifitas dari lantang pangngan itu,serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit,bahkan ada yang mencapai sepuluh juta bahkan lebih.

Ritual Pemakaman Yang Unik Dari Suku Toraja,Ma' Lantang Pangngan

Ritual Pemakaman Yang Unik Dari Suku Toraja,Ma' Lantang Pangngan
Awalnya lantang pangngan ini hanya sederhana berbentuk miniatur rumah dengan aksesoris toraja dan sekelilingnya dipasang lilin-lilin. Dan sekarang lantang pangngan ini sudah memiliki berbagai macam bentuk miniatur yang beraneka ragam dengan aksesoris-aksesoris yang membutuhkan biaya yang mahal.

Ritual Pemakaman Yang Unik Dari Suku Toraja,Ma' Lantang Pangngan
Prosesi adat ma’lantang pangngan ini diadakan pada malam terakhir sebelum almarhum dikuburkan. Pada sore hari menjelang prosesi adat ma’lantang pangngan,semua lantang pangngan dikumpulkan untuk melakukan persiapan memasuki halaman pelataran duka. Setiap lantang pangngan mempersiapkan orang khusus yang akan menyanyikan kidung ratapan yang disebut to ma’retteng. Isi dari kidung ini tentang kesedihan dimana sahabat-sahabat almarhum belum rela menerima kepergian sahabat tercinta mereka,serta kisah-kisah hidup para sahabat dan almarhum,dan terakhir pada kidung ini ada ungkapan kata penghiburan dimana isinya mengatakan bahwa kita tidak boleh larut dalam kesedihan,semua adalah kehendak tuhan dan kitapun semua akan mengalami kematian.

Ritual Pemakaman Yang Unik Dari Suku Toraja,Ma' Lantang Pangngan

Ritual Pemakaman Yang Unik Dari Suku Toraja,Ma' Lantang Pangngan
Selain to ma’retteng terdapat juga barisan anak-anak yang memikul hasil dari kebun dan sawah seperti jagung,padi,ubi dll,serta pa’piong dua’kayu(ubi yang dimasak dengan menggunakan bambu), dibelakang lantang pangngan berbaris ibu-ibu serta gadis-gadis dan sahabat alamarhum lainnya. Setiap orang yang masuk dalam rombongan membawa serta uang koin yang akan dilemparkan ke baki yang sudah disiapkan.

Ritual Pemakaman Yang Unik Dari Suku Toraja,Ma' Lantang Pangngan

Ritual Pemakaman Yang Unik Dari Suku Toraja,Ma' Lantang Pangngan
Pada saat prosesi berlangsung,semua lampu dimatikan lantang pangngan memasuki pelataran duka satu persatu dengan rombongan masing-masing.

Diheningnya malam yang hanya diterangi oleh lilin dan lampu-lampu dari lantang pangngan,arak-arakan lantang pangngan berlangsung,satu persatu memasuki halaman duka dengan rombongan masing-masing,dengan langkah pelan dan wajah tertunduk memasuki halaman duka,lantunan suara to ma’retteng yang menyayat hati serta gemerincing suara uang logam yang dilemparkan ke baki membuat suasana prosesi berlangsung penuh kekusyukan,semua yang hadir terdiam larut dalam situasi malam itu, sambil mengenang kisah kebersamaan mereka dengan almarhum.

Ritual Pemakaman Yang Unik Dari Suku Toraja,Ma' Lantang Pangngan

Ritual Pemakaman Yang Unik Dari Suku Toraja,Ma' Lantang Pangngan
Hai kawan,lihatlah kami datang dengan penuh duka,kami membawa mainan untukmu,mari kita bermain bersama-sama. Malam ini hari terakhir kita bermain bersama,besok kau akan pergi untuk selamanya…

Setelah semua lantang pangngan memasuki halaman duka,para keluarga menyambut rombongan dengan penuh rasa terimakasih atas kehadiran sahabat-sahabat dari almarhum.

Semua lantang pangngan ini akan dibawa ke kuburan dimana alamarhum dikuburkan.

WISATA TETE LITAK
ADMIN
Alexa Rank
POPULER
Like Box Facebook