Berbagi Informasi Untuk Guru Indonesia
PENGUNJUNG





APLIKASI BLOG GURU INDONESIA

IBN

translate

BisnisNgeTren.Com ya Paytren milik Ust. Yusuf Mansur Veritra Sentosa Internasional Treni KLIKVSI VSI

MATERI KULIAH

Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar.
Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan.

Zaman prasejarah

Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan dedaunan atau batu mineral berwarna. Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.

Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar).
Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan objek-objek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari objek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap objeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam objek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya.

Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.

Seni lukis zaman klasik

Seni lukis zaman klasik kebanyakan dimaksudkan untuk tujuan:

  • Mistisme (sebagai akibat belum berkembangnya agama)
  • Propaganda (sebagai contoh grafiti di reruntuhan kota Di zaman ini lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin bentuk-bentuk yang ada di alam.
  •  Hal ini sebagai akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan dimulainya kesadaran bahwa seni lukis mampu berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam banyak hal.

Seni lukis zaman pertengahan

Sebagai akibat terlalu kuatnya pengaruh agama di zaman pertengahan, seni lukis mengalami penjauhan dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sihir yang bisa menjauhkan manusia dari pengabdian kepada Tuhan. Akibatnya, seni lukis pun tidak lagi bisa sejalan dengan realitas.
Kebanyakan lukisan di zaman ini lebih berupa simbolisme, bukan realisme. Sehingga sulit sekali untuk menemukan lukisan yang bisa dikategorikan “bagus”.
Lukisan pada masa ini digunakan untuk alat propaganda dan religi. Beberapa agama yang melarang penggambaran hewan dan manusia mendorong perkembangan abstrakisme (pemisahan unsur bentuk yang “benar” dari benda).

Seni lukis zaman Renaissance

Berawal dari kota Firenze. Setelah kekalahan dari Turki, banyak sekali ilmuwan dan budayawan (termasuk pelukis) yang menyingkir dari Bizantium menuju daerah semenanjung Italia sekarang. Dukungan dari keluarga deMedici yang menguasai kota Firenze terhadap ilmu pengetahuan modern dan seni membuat sinergi keduanya menghasilkan banyak sumbangan terhadap kebudayaan baru Eropa. Seni rupa menemukan jiwa barunya dalam kelahiran kembali seni zaman klasik. Sains di kota ini tidak lagi dianggap sihir, namun sebagai alat baru untuk merebut kembali kekuasaan yang dirampas oleh Turki. Pada akhirnya, pengaruh seni di kota Firenze menyebar ke seluruh Eropa hingga Eropa Timur.

Tokoh yang banyak dikenal dari masa ini adalah:
• Tomassi
• Donatello
• Leonardo da Vinci
• Michaelangelo
• Raphael

Revolusi Industri di Inggris telah menyebabkan mekanisasi di dalam banyak hal. Barang-barang dibuat dengan sistem produksi massal dengan ketelitian tinggi. Sebagai dampaknya, keahlian tangan seorang seniman tidak lagi begitu dihargai karena telah digantikan kehalusan buatan mesin. Sebagai jawabannya, seniman beralih ke bentuk-bentuk yang tidak mungkin dicapai oleh produksi massal (atau jika bisa, akan biaya pembuatannya menjadi sangat mahal). Lukisan, karya-karya seni rupa, dan kriya diarahkan kepada kurva-kurva halus yang kebanyakan terinspirasi dari keindahan garis-garis tumbuhan di alam.

Sejarah seni lukis di Indonesia

Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini.
Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktekkan pelukis Belanda. Raden Saleh kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa. Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama. Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah “kerakyatan”. Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.
Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda. Perjalanan seni lukis Indonesia sejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.
Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif atau seni kontemporer, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): “Installation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.

Pelukis terkenal Indonesia
• Affandi
• Jeihan
• Kartika Affandi
• Lee Man Fong
• Mario Blanco
• Otto Djaya
• Popo Iskandar
• Raden Saleh
• S. Sudjojono
• Srihadi
• Sri Warso Wahono
• Trubus
• Atim Pekok
• E. Darpo.S
• Agus Djaya
• Barli Sasmitawinata
• Basuki Abdullah
• Djoko Pekik
• Dullah
• Ferry Gabriel
• Hendra Gunawan
• Herry Dim

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan media bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan dasar profesi. Dalam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Praktik Pengalaman Lapangan diaplikasikan dalam bentuk praktik mengajar dan kegiatan edukasional lainnya di lembaga sekolah.

Berdasarkan cetusan  Undang-undang profesi yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tanggal 6 Dersember  tahun 2005 guru ditetapkan sebagai profesi. Dengan demikian pekerjaan guru selain harus mempunyai nilai tawar yang tinggi seperti profesi dokter dan professional lainnya, guru harus mempunyai kompetensi yang dapat diandalkan.

Praktik Pengalaman Lapangan yang dilakukan mahasiswa merupakan salah satu wadah agar mahasiswa mendapatkan pengalaman profesi yang dapat diandalkan. Dalam PPL mahasiswa akan dihadapkan pada kondisi riil aplikasi bidang keilmuan, seperti; kemampuan mengajar, kemampuan bersosialisasi dan bernegosiasi, dan kemampuan manajerial kependidikan lainnya.

Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unitomo,  PPL tidak hanya kegiatan mengajar yang harus ditempuh oleh mahasiswa, tetapi juga menyangkut kemampuan berpartisipasi, membangun, atau mengembangkan potensi pendidikan dimana ia berlatih. Partisipasi tersebut dapat berupa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ekstra seperti pembuatan atau pengembangan majalah sekolah, teater, penulisan kreatif, kelompok diskusi dan sebagainya.

Mengingat pentingnya kegiatan PPL, perlu adanya rambu-rambu yang mengatur pelaksaaannya. Rambu-rambu ini dibuat  bukan untuk membatasi kegiatan PPL, tetapi sebagai pedoman agar tujuan PPL benar-benar dapat dicapai dan tepat sasaran.

 

1.2   TUJUAN

Tujuan pelakasanaan Praktik Pengalaman Lapangan adalah sebagai berikut:

Memberikan wahana aplikasi kelimuan bagi mahasiswa

Memberikan pengalaman profesional mahasiswa sebagai calon guru, sehingga benar-benar menjadi lulusan kependidikan yang siap terjun di masyarakat khususnya dunia kependidikan.

Menjalin kerjasama edukasional dengan lembaga sekolah sebagai mitra dalam penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

 

1.3  TAHAP PELAKSANAAN

Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dilaksanakan dua tahap yaitu;

Tahap Program Micro teaching yang terintegrasi dalam mata kuliah Ketrampilan Dasar Mengajar,

Tahap Program Praktik Pengalaman Lapangan (Praktik Mengajar) dilaksanakan di sekolah latihan.

 

BAB II

MICRO TEACHING

 

2.1 PERSYARATAN MICRO TEACHING

Sebelum melakukan Praktik Mengajar di sekolah, mahasiswa harus melalui pelatihan belajar mengajar. Kegiatan latihan atau Microteaching tersebut dilakukan saat mahasiswa menempuh mata kuliah Ketrampilan Dasar Mengajar. Berikut beberapa pedoman yang berkaitan dengan pelaksaan Micro Teaching:

1.      Micro Teaching dilakukan saat mahasiswa menempuh mata kuliah Keterampilan Dasar Mengajar (2 SKS).

2.      Selama Menempuh   mata kuliah Keterampilan Dasar Mengajar  atau Micro Teaching, setiap mahasiswa harus melakukan kegiatan mengajar lebih dari 6 (enam) kali.

3.      Kegiatan Micro Teaching dibimbing oleh dosen mata kuliah Keterampilan Dasar Mengajar atau Microteaching  dibantu tim PPL.

4.      Kegiatan Micro Teaching dilakukan dengan pemanfaatan multi media (komputer, LCD, internet, dan media lain yang berhubungan dengan materi pembelajaran)

5.      Evaluasi Micro Teaching dilakukan berdasarkan kompetensi mengajar masing-masing mahasiswa.

2.2 TAHAP MICRO TEACHING

Kegiatan evaluasi Micro Teaching dilakukan dengan tahapan sebagai berikut;

a.       Mengamati kemampuan  mahasiswa dalam proses Micro Teaching

Pembimbing mengamati kemampuan masing-masing mahasiswa sehingga menemukan aspek-aspek dan materi pelatihan yang sesuai.  Dalam pengamatan juga dilakukan diskusi antara dosen dan mahasiswa.

b.      Pembimbing dan Tim memberikan model pengajaran yang ideal

Pembimbing memberikan contoh model-model pengajaran yang dibutuhkan mahasiswa dan sesuai dengan prinsip-prinsip kurikulum Berbasis Kompetensi.

c.       Menilai proses latihan Micro Teaching yang dilakukan oleh mahasiswa.

Memberikan penilaian terhadap hasil latihan micro teaching mahasiswa sesuai dengan format penilaian yang ditentukan dan/atau berdasarkan hasil kesepakatan dengan mahasiswa.

d.      Memberikan umpan balik terhadap kekurangan mahasiswa dan memberikan bimbingan dan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi mahasiswa.

e.       Mendiskusikan hasil Micro Teaching dengan sesama mahasiswa dengan arahan pembimbing.

2.3  ASPEK –ASPEK YANG DILATIH DALAM MICRO TEACHING

1.      Ketrampilan membuka pelajaran, dengan komponen-komponen:

a.       menarik perhatian siswa

(1)   Letak posisi guru

(2)   Penggunaan media pembelajaran

(3)   Menerangkan dengan cara yang komunikatif.

b.      Merangsang motivasi siswa,

(1)   Menimbulkan kehangatan dan keantusiasan

(2)   Memancing rasa ingin tahu

(3)   Memperhatikan minat siswa.

c.       Memberi acuan

(1)   Mengemukakan tujuan pembelajaran

(2)   Menjelaskan batas-batas tugas

(3)   Menjelaskan langkah-langkah kegiatan belajar yang akan dilakukan

(4)   Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas.

(5)   Mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

d.      Membuat kaitan

(1)   Membuat kaitan antarmateri yang  relevan

(2)   Membandingkan pengetahuan baru dan tekah diketahui siswa

(3)   Menjelaskan konsep sebelum memberikan uraian

 

2.      Ketrampilan menutup pelajaran dengan komponen-komponen;

a.       Meninjau kembali

(1)   Merangkum kembali bahan pelajaran

(2)   Siswa ditugas meringkas materi sajian

b.      Mengevaluasi dengan bentuk-bentuk antara lain;

(1)   Mengaplikasikan ide baru

(2)   Mengevaluasi pendapat siswa

(3)   Memberi soal-soal

c.       Tindak lanjut dengan bentuk:

(1)   Mengerjakan LKS

(2)   Pemberian tugas untuk dikerjakan di rumah

d.      Ketrampilan menjelaskan dengan komponen-komponen:

(1)   Mengerjakan LKS

(2)   Pemberian tugas

 

3.      Ketrampilan menjelaskan dengan komponen-komponen:

a.       Kemampuan menganalisis dan merencanakan

(1)   Yang berhubungan dengan isi pesan

–          menganalisis masalah secara keseluruhan

–          Menentukan jenis hubungan yang ada antara unsur-unsur yang dikaitkan

–          Menggunakan hokum, rumus, generalisasi yangs sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan

–          Pola penjelasan deduktif-induktif.

(2)   Yang berhubungan dengan penerimaan pesan;

–          Penjelasan cukup relevan dengan pertanyaan siswa

–          Penjelasan memadai (mudah diserap siswa).

b.      Kemampuan menyajikan suatu penjelasan, antara lain;

(1)   Kejelasan

(2)   Penggunaan contoh dan ilustrasi

(3)   Pemberian tekanan

(4)   Penjelasan yang sistematis

(5)   Kemampuan mengadakan penggalan-penggalan penjelasan

(6)   Balikan

4.      Ketrampilan bertanya, dengan komponen;

a.       Komponen ketrampilan bertanya

–          jelas dan singkat

–          Pemberian acuan

–          Pemusatan

–          Pindah gilir

–          Penyebaran

–          Pemberian waktu berpikir

–          Pemberian tunjungan

b.      Tingkat Pertanyaan

–          Pengetahuan (C1)

–          Pemahaman(C2)

–          Penerapan(C3)

–          Analisis(C4)

–          Sintesis(C5)

–          Evaluasi(C6)

5.      Ketrampilan variasi stimuli dengan komponen;

a.       Variasi dalam gaya mengajar guru

–          Penggunaan variasi suara

–          Pemusatan perhatian

–          Kesenyapan

–          Mengadakan kontak dengan pandangan

–          Gerakan badan dan mimik

–          Pergantian posisi guru dalam kelas

b.      Variasi dalam penggunaan media dan bahan pelajaran

–          Relevan dalam tujuan pembelajaran

–          Penggunaan multi media

–          Penggunaan multi indera

–          Ketrampilan mengoperasikan  media

c.       Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa: pola interaksi (Guru-kelompok; guru-murid; murid-murid)

6.      Ketrampilan  penguatan, dengan komponen:

a.       Penguatan verbal (kata-kata maupun kalimat)

b.      Penguatan noverbal  (mimik, pantomimic, sentuhan, dan gesture)

c.       Cara penguatan (pemberian penguatan dengan segera, variasi penguatan, dan ketepatan penguatan).

d.      Prinsip penggunaan penguatan (kehangatan, kebermaknaan, keantusiasan).

7.      Ketrampilan membimbing diskusi kelompok dengan komponen:

a.       Memusatkan perhatian

–          Merumuskan tujuan

–          Merumuskan masalah dan merumuskan kembali

–          Menandai hal-hal yang tidak relevan

–          Membuat rangkuman bertahap

b.      Memperjelas masalah atau urun pendapat;

–          Memparafrase

–          Merangkum

–          Menggali

–          Menguraikan secara rinci

c.       Mengalisis pandangan siswa

–          Merekam ketidaksetujuan dan persetujuan

–          Meneliti alasan

d.       Meningkatkan peran serta siswa;

–          menimbulkan perencanaan

–          menggunakan contoh

–          menggunakan hal-hal yang actual dan factual

–          menunggu

–          memberi dukungan

e.       menyebarkan kesempatan berpartisipasi;

–          meneliti pandangan

–          mencegah pembicaraan yang berlebihan

–          menghentikan (melarang) monopoli.

f.       Menutup diskusi

–          Merangkum

–          Memberi gambaran yang akan dating

–          Menilai

 

BAB III

PELAKSANAAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN

 TAHAP PERSIAPAN

Tahap persipan adalah suatu tahap dimana mahasiswa mempersiapkan diri sebelum  melaksanakan praktik mengajar si di sekolah. Tahap persiapan tersebut adalah:

1.      Mahasiswa sudah memprogram dan lulus mata kuliah Ketrampilan Dasar Mengajar/Microteching  dengan nilai minimal C.

2.      Mahasiswa mengorganisasikan diri membentuk kelompok terdiri dari 5-10 orang. Selanjutnya kelompok mahasiswa tersebut melakukan observasi mandiri terhadap sekolah yang akan ditempati kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Kegiatan observasi tidak hanya berupa pengamatan sepintas tentang sekolah yang akan ditempati, tetapi juga melakukan negosiasi dan pembicaraan lain yang mengantarkan terlaksananya kegiatan PPL. Kegiatan observasi harus dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa agar mahasiswa belajar bersosialisasi dengan lembaga profesi yang akan digeluti. Sekolah yang dijadikan media PPL diutamakan SLTA (misalnya SMA,SMK,MA dan lain-lain).

3.      Mahasiswa melaporkan hasil observasi yang telah di lakukan.

4.      Setiap mahasiswa menyiapkan alat peraga,media, kliping, dan media lain yang diperlukan dalam praktik.

 

TAHAP PEMBEKALAN

Pengarahan dari fakultas

–          Materi pengarahan berisi relevansi tuntutan sekolah dan materi umum tentang perkembangan teoritis dan praktis.

–          Masalah administrasi di sekolah

–          Tata tertib dan masalah  profesi keguruan

Pelepasan oleh pimpinan fakultas

Dalam rangka peresmian pemberangkatan mahasiswa, diadakan pelepasan oleh Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

TAHAPAN PELAKSANAAN PPL

Mahasiswa dapat mengikuti kegiatan PPL dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

1.      Mahasiswa diserahkan kepada pihak sekolah oleh Dosen Pendamping Lapangan.

2.      Mahasiswa melakukan kordinasi dengan guru pamong tentang kegiatan PPL.

3.      Mahasiswa melakukan Praktik mengajar secara terbimbing/mandiri di sekolah   tempat PPL.

4.      Mahasiswa harus hadir di sekolah setiap hari  jam pertama sampai jam terakhir.

5.      Mahasiswa harus berpartisipasi dalam pengaturan piket sekolah.

6.      Selama PPL mahasiswa tidak hanya melaksanakan tugas mengajar, tetapi juga harus terlibat (dengan ijin pihak sekolah) dalam kegiatan lain yang berkaitan dengan bidang keilmuan Bahasa & Sastra  dan Ilmu Matematika seperti pengelolaan perpustakaan, majalah sekolah, kegiatan teater, kelompok diskusi, dan lain-lain.

7.      Praktik Mengajar dilakukan 8-10 kali pertemuan dan minimal 8 minggu efektif. Selama 8 minggu tersebut mahasiswa harus selalu hadir walaupun tidak mendapatkan jadwal mengajar (sesuai peraturan sekolah).

8.      Apabila mahasiswa sudah dianggap lulus oleh guru pamong, maka praktik dapat diakhiri. Namun mahasiswa harus tetap aktif dalam kegiatan yang lain di sekolah.

9.      Bagi mahasiswa yang dianggap belum lulus oleh guru pamong, dapat diberi latihan tambahan dengan ketentuan tidak melewati batas waktu PPL.

10.  Selama pelaksanaan PPL mahasiswa harus berperilaku seperti guru dan menaati tata-tertib yang berlaku di sekolah tempat PPL

 

ORIENTASI MASALAH ADMINISTRASI PENDIDIKAN

Orientasi administrasi pendidikan meliputi hal-hal sebagi berikut:

keadaan fisik (letak,  denah, ruang kelas, runag BK, ruang TU, musholla, dan lain-lain).

Fasilitas belajar

struktur organisasi sekolah (structural, OSIS, BK, dan lain-lain).

personalia sekolah dan personalia bimbingan dan konseling.

kurikulum sekolah

kalender pendidikan

tata tertib sekolah, tata tertib keperpustakaan, dan tata tertib laboratorium.

keadaan siswa (statistik siswa)

prestasi sekolah yang pernah dicapai

 

PERSYARATAN DOSEN PEMBIMBING PPL & MICRO TEACHING

Persyaratan Dosen yang menjadi membimbing PPL dan Micro Teaching adalah sebagai berikut:

Memiliki bidang keahlian yang memadai atau

Memiliki kepangkatan  atau

Mempunyai keahlian membimbing PPL dengan sertifikasi tertentu (S2 Kependidikan),

dan ditugaskan oleh Dekan FKIP Unitomo atas usul Tim PPL.

 

TUGAS DOSEN PEMBIMBING PPL

Membimbing pembuatan rencana pembelajaran

Membimbing metode-metode dan tehnik pembelajaran

Meninjau pelaksanaan PPL di sekolah

Melakukan evaluasi pelaksanaan PPL (memberikan penilaian kepada mahasiswa)

PENINJAUAN PPL

Peninjauan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan  dilakukan oleh Dosen Pembimbing Lapangan yang dibentuk  berdasarkan kriteria  yang telah ditentukan pada poin sebelumnya. Berikut beberapa  pedoman tetang pelaksanaan peninjauan PPL;

1.      Peninjauan dilakukan minimal 3 kali oleh dosen pembimbing yang telah ditentukan.

2.      Setiap pembimbing PPL membimbing tidak lebih dari 2 sekolah latihan.

3.      Peninjau PPL harus mengisi lembar observasi dan mendiskusikan tentang permasalahan mahasiswa dengan guru pamong

EVALUASI PPL

Agar penilaian praktik Pengalaman Mengajar dapat terarah diperlukan rambu-rambu evaluasi. Berikut kriteria evaluasi PPL:

Aspek-aspek yang dievaluasi dalam pelaksanaan PPL antara lain;

a.       Proses persiapan mengajar; kesesuaian SAP dengan prinsip kurikulum yang berlaku dan teori-teori mutakhir.

b.      Kemampuan membuka pelajaran

c.       Kemampuan mengelola kelas dan kegiatan lain yang berkaitan dengan Proses Belajar Mengajar (lembar penilaian terlampir)

d.      Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan akademik lain dan ekstra kurikuler.

e.       Laporan mahasiswa tentang pelaksanaan PPL.

Alat Evaluasi PPL

a.       lembar observasi praktik (terlampir)

b.      Pedoman tentang penulisan laporan PPL

c.       Porto folio atau catatan khusus yang dibuat oleh guru pamong tentang kognisi, afeksi, dan psikomotor setiap mahasiswa yang melakukan praktik.

Pihak yang melakukan evaluasi(penilaian) dalam pelaksaaan Praktik Pengalaman Lapangan adalah:

a.       Guru pamong yang ditentukan oleh pihak sekolah

b.      Dosen Pembimbing yang ditentukan oleh tim PPL

 

HAK GURU PAMONG

Guru pamong ditentukan oleh sekolah masing-masing. Guru pamong memiliki hak penuh terhadap mahasiswa yang melakukan PPL. Berikut beberapa pedoman tentang hak guru pamong;

Guru pamong berhak menegur, memberikan peringatan atau memberikan sanksi kepada   mahasiswa yang dinilai tidak mematuhi aturan PPL.

Guru pamong berhak memberikan nilai seobjektif mungkin atas kelulusan mahasiswa yang melakukan PPL.

Guru pamong berhak mendapat sertifikat sebagai guru Pamong PPL dari tempat dia PPL yang dapat dipakai sebagai bahan kepangkatan dan keperluan lainnya.

Guru pamong berhak mendapat balas jasa yang setimpal yang akan dibicarakan dan diatur kemudian.

3.10   TUGAS GURU PAMONG

1.      Membimbing pembuatan rencana pembelajaran

2.      Membimbing mengatur jadual pelaksanaan pembelajaran   oleh mahasiswa (praktik mengajar)

3.      Mengatur pembagian tugas mahasiswa dalam kegiatan akademik dan ektra kurikuler

4.      Melakukan evaluasi terhadap mahasiswa (memberi penilaian)

BAB IV

TATA TERTIB PELAKSANAAN PPL (PRAKTIK MENGAJAR)

UMUM

1.      kelompok mahasiswa yang ditempatkan di suatu sekolah latihan disebut mahasiswa praktik mangajar.

2.      Praktik mengajar di sekolah latihan dikoordinir oleh seorang ketua Unit dan dibantu oleh sekerataris.

3.      kelompok mahasiswa dipimpin oleh seorang Dosen Pendamping Lapangan (DPL) pertama kali hadir di sekolah menyerahkan secara  formal sesuai jadwal yang ditentukan.

4.      mahasiswa harus selalu mendiskusikan permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan PPL.

5.      mahasiswa diharapkan mengajar sesuai dengan jurusan.

6.      penampilan mahasiswa di kelas dilengkapi dengan perangkat dan media mengajar sesuai dengan intruksi guru pamong.

7.      mahasiswa harus mempersiapkan satuan pelajara (SATPEL) dan rencana Pembelajaran (RP).

8.      sebelum mengajar SATPEL dan RP harus diketahui dan ditandatangani guru pamong.

9.      perpindahan sekolah latihan harus seizing Kepala Sekolah.

10.  mahasiswa harus mematuhi tata tertib yang telah ditetapkan sekolah.

11.  pelanggaran tata tertib akan diberi sanksi berupa: 1) peringatan, (2) penangguhan izin praktik mengajar, (3) pencabutan izin praktik mengajar.

12.  mahasiswa wajib  berpenampilan sopan dan rapi, termasuk pakaian dan rambut (pria: tidak boleh gondrong) dan bersepatu.

KHUSUS

1.      mahasiswa akan dibimbing oleh guru pamong yang ditentukan oleh Kepala Sekolah sesuai dengan jurusan dan bidang yang diampu.

2.      mahasiswa harus mempersiapkan satuan pelajara (SATPEL) dan rencana Pembelajaran (RP).

3.      kehadiran mahasiswa di sekolah diatur oleh Kepala Sekolah.

4.      mahasiswa yang berhalangan hadir karena suatu hal harus yang dapat dipertanggujawabkan harus seizing  Kepala Sekolah/Guru Pamong. Pemberitahuan dilakukan sekurang-kurangnya dua hari sebelumnya.

PPL MANDIRI

1.      mahasiswa mencari dan mengajukan permohonan Praktik mengajar di sebuah sekolah yang ditujukan kepada TU.

2.      Mahasiswa wajib menyerahkan surat keterangan kesediaan dari Kepala Sekolah tentang kesediaan ditempati PPL.

3.      mahasiswa membayar biaya PPL sesuai ketentuan yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta

B. Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Daryanto, 2005. Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta

E. Mulyasa. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

H. Prayitno dan Amti, Erman. 1999. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT.Rineka Cipta

S. Nasution. 2000. Mengajar Dengan Sukses. Jakarta: PT. Bumi Aksara

 

Singarimbun dan Effendi. 1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta: PT. PustakaLP3ES

Wardani dan Suparno. 1994. Program Pengalaman Lapangan. Direktorat Jendral  Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

W.J.S. Poerwodarminto. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Wina Sanjaya. 2006. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana

 

 

ADMIN
Alexa Rank
POPULER
Like Box Facebook