BLOG GURU INDONESIA

MENJADI GURU BERMUTU DAN PROFESIONAL

PROPOSAL SKRIPSI

September 16th, 2012

Berikut ini adalah Contoh Proposal Skripsi Terbaru dengan judul “Pengaruh Kegiatan Kelompok Belajar Siswa Terhadap Prestasi Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam”

 

Latar Belakang Masalah
Upaya pencapaian hasil belajar yang diharapkan dapat ditempuh dengan berbagai cara, diantaranya guru membimbing dan mengarahkan siswa agar dirinya merasa terpanggil, serta hingga ia mampu belajar mandiri baik individual maupun kelompok, misalnya dengan metode kerja kelompok, penugasan pemecahan masalah dan lain-lain. Dengan cara seperti ini timbul inisiatif siswa untuk membentuk belajar di lingkungan masyarakat sebagai tindak lanjut upaya guru dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Alloh berfirman : “dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan terhadap kesejahteraan mereka” Depag RI (1990: 16)

Yang dimaksud dengan kegiatan kelompok belajar ialah aktivitas sekelompok orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu ingin mendapatkan suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.

Dari hasil interaksi dengan lingkungan itu akan memperoleh keterampilan, kebiasaan, sikap kecakapan dan lain-lain.

Pada dasarnya kelompok kerja itu hampir sama dengan metode kerja kelompok, adapun yang membedakan antara keduanya hanyalah waktu pelaksanaannya saja, kerja kelompok biasa dilakukan dalam proses belajar mengajar di dalam kelas sedangkan kelompok belajar biasanya melakukan kegiatannya itu di luar jam pelajaran sekolah dan tidak diawasi oleh guru secara langsung, guru hanya memberikan arahan seperlunya kepada kelompok belajar untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya, sehingga tugas dapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan harapan yang diinginkan.
Itulah yang dimaksud kelompok belajar oleh penulis dalam penelitian ini.

Dengan adanya kelompok kegiatan belajar, semua anggota kelompok diharapkan mendapat tambahan waktu belajar yang maksimal di luar jam pelajaran di sekolah, mengingat alokasi waktu belajar sekolah, khususnya bidang studi pendidikan agama Islam nampaknya kurang memadai, disamping harapan itu agar berkembang dan tumbuh rasa percaya diri dan yang akhirnya akan mempertinggi prestasi belajar siswa khususnya prestasi belajar bidang studi pendidikan agama Islam.

Keberhasilan siswa dalam belajar tergantung kegiatan dan kedalaman belajar yang dilakukannya, baik faktor timbul dari dalam diri siswa maupun faktor yang timbul dari luar diri siswa.

Sementara itu prestasi belajar siswa di sekolah dasar negeri UnsilSter I dalam bidang studi pendidikan agama Islam, menurut pengamatan penulis dari hasil Sumatif secara kualitatif prestasi belajar siswa rata-rata mendapat nilai di bawah rata-rata (standar) dengan demikian prestasi belajar siswa menunjukkan tanda-tanda menurun.

Sejauh permasalahan tersebut diatas belum menunjukkan dan nyata kejelasannya, perlu dipermasalahkan bagaimana mekanisme kegiatan kelompok belajar siswa di Sekolah Dasar Negeri UnsilSter I, bagaimana prestasi belajarnya dalam bidang Studi Pendidikan Agama Islam dan apakah pengaruh kegiatan kelompok belajar siswa terhadap prestasi belajar pendidikan agama Islam berdasarkan latar belakang itulah penulis mengadakan penelitian tentang :

“PENGARUH KEGIATAN KELOMPOK BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM” (Studi Kasus di SD Negeri UnsilSter 1 Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya).

Perumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan diatas, maka masalah pokok yang akan diteliti adalah apakah kegiatan belajar siswa mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Islam.
Untuk mempermudah pengambilan penganalisaan masalah pokok tersebut, secara bertahap perlu juga dijawab masalah-masalah sebagai berikut :

  • Bagaimana kegiatan kelompok belajar siswa di sekolah dasar negeri UnsilSter 1?
  • Bagaimana prestasi belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam?
  • Bagaimana pengaruh kegiatan kelompok belajar siswa terhadap prestasi belajarnya dalam bidang pendidikan agama Islam?

Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah diatas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  • Untuk mengetahui tentang kegiatan kelompok belajar di SD Negeri UnsilSter 1.
  • Untuk memperoleh data yang kongkrit tentang prestasi belajar siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam.
  • Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara kegiatan kelompok belajar siswa terhadap prestasi belajarnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam

Kerangka Pemikiran
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989: 276) “Kegiatan” diartikan sebagai “Aktivitas; kegairahan; usaha; pekerjaan” berdasarkan pengertian tersebut maka yang dimaksud dengan kegiatan dalam penelitian ini adalah aktivitas kelompok belajar siswa kelas IV dan V SD Negeri UnsilSter I di luar jam belajar sekolah”.

Selengkapnya Download Contoh Proposal Skripsi Terbaru 2012

Sejarah seni lukis di Indonesia

June 2nd, 2012

Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar.
Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan.

Zaman prasejarah

Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan dedaunan atau batu mineral berwarna. Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.

Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar).
Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan objek-objek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari objek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap objeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam objek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya.

Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.

Seni lukis zaman klasik

Seni lukis zaman klasik kebanyakan dimaksudkan untuk tujuan:

  • Mistisme (sebagai akibat belum berkembangnya agama)
  • Propaganda (sebagai contoh grafiti di reruntuhan kota Di zaman ini lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin bentuk-bentuk yang ada di alam.
  •  Hal ini sebagai akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan dimulainya kesadaran bahwa seni lukis mampu berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam banyak hal.

Seni lukis zaman pertengahan

Sebagai akibat terlalu kuatnya pengaruh agama di zaman pertengahan, seni lukis mengalami penjauhan dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sihir yang bisa menjauhkan manusia dari pengabdian kepada Tuhan. Akibatnya, seni lukis pun tidak lagi bisa sejalan dengan realitas.
Kebanyakan lukisan di zaman ini lebih berupa simbolisme, bukan realisme. Sehingga sulit sekali untuk menemukan lukisan yang bisa dikategorikan “bagus”.
Lukisan pada masa ini digunakan untuk alat propaganda dan religi. Beberapa agama yang melarang penggambaran hewan dan manusia mendorong perkembangan abstrakisme (pemisahan unsur bentuk yang “benar” dari benda).

Seni lukis zaman Renaissance

Berawal dari kota Firenze. Setelah kekalahan dari Turki, banyak sekali ilmuwan dan budayawan (termasuk pelukis) yang menyingkir dari Bizantium menuju daerah semenanjung Italia sekarang. Dukungan dari keluarga deMedici yang menguasai kota Firenze terhadap ilmu pengetahuan modern dan seni membuat sinergi keduanya menghasilkan banyak sumbangan terhadap kebudayaan baru Eropa. Seni rupa menemukan jiwa barunya dalam kelahiran kembali seni zaman klasik. Sains di kota ini tidak lagi dianggap sihir, namun sebagai alat baru untuk merebut kembali kekuasaan yang dirampas oleh Turki. Pada akhirnya, pengaruh seni di kota Firenze menyebar ke seluruh Eropa hingga Eropa Timur.

Tokoh yang banyak dikenal dari masa ini adalah:
• Tomassi
• Donatello
• Leonardo da Vinci
• Michaelangelo
• Raphael

Revolusi Industri di Inggris telah menyebabkan mekanisasi di dalam banyak hal. Barang-barang dibuat dengan sistem produksi massal dengan ketelitian tinggi. Sebagai dampaknya, keahlian tangan seorang seniman tidak lagi begitu dihargai karena telah digantikan kehalusan buatan mesin. Sebagai jawabannya, seniman beralih ke bentuk-bentuk yang tidak mungkin dicapai oleh produksi massal (atau jika bisa, akan biaya pembuatannya menjadi sangat mahal). Lukisan, karya-karya seni rupa, dan kriya diarahkan kepada kurva-kurva halus yang kebanyakan terinspirasi dari keindahan garis-garis tumbuhan di alam.

Sejarah seni lukis di Indonesia

Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini.
Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktekkan pelukis Belanda. Raden Saleh kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa. Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama. Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah “kerakyatan”. Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.
Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda. Perjalanan seni lukis Indonesia sejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.
Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif atau seni kontemporer, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): “Installation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.

Pelukis terkenal Indonesia
• Affandi
• Jeihan
• Kartika Affandi
• Lee Man Fong
• Mario Blanco
• Otto Djaya
• Popo Iskandar
• Raden Saleh
• S. Sudjojono
• Srihadi
• Sri Warso Wahono
• Trubus
• Atim Pekok
• E. Darpo.S
• Agus Djaya
• Barli Sasmitawinata
• Basuki Abdullah
• Djoko Pekik
• Dullah
• Ferry Gabriel
• Hendra Gunawan
• Herry Dim

FORMAT LAPORAN PPL STAIN PALOPO

May 5th, 2012

DAFTAR  ISI  LAPORAN DAN SISTEM PEMBIMBINGAN DALAM KEGIATAN PPL

  1. Lembar sampul
  2. Kata pengantar
  3. BAB  1. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    2. Tujuan PPL

BAB II. KEGIATAN OBSERVASI – ORIENTASI DI  SEKOLAH

  1. Jenis Kegiatan
  2. Waktu Pelaksanaan
  3. Lembar kegiatan observasi di sekolah latihan
    1. Kegiatan 1. Berkenalan dengan kepala sekolah,guru pamong, guru-guru lainnya  dan staf sekolah.
    2. Kegiatan II. Mengenal lokasi, gedung sekolah, ruangan sekolah, kantor, dan fasilitas lainnya.
    3. Kegiatan III. Mempelajari tugas-tugas guru di sekolah, tata tertib sekolah baik untuk guru dan siswa, tata tertib mahasiswa praktek tata tertib dilampirkan.
    4. Kegiatan IV. Berkenalan dengan siswa tempat mahasiwa praktek
    5. Kegiatan  V.Mempelajari dan mencatat model persiapan mengajar yang dibuat guru pamong meliputi ; program tahunan, program  semester, kalender pendidikan, RPP dan lain-lain.
    6. Kegiatan VI. Observasi pelaksanaan guru pamong dan mengenal metode mengajar yang dipakai.
    7. Kegiatan VII. Merencanakan program kegiatan praktek ( tugas-tugas mengajar, tanggal, waktu, dan kelas berapa)
  4. Lembar penilaian :

1)    Format penilaian profesional komponen persiapan mengajar tertulis format penilaian frofesional komponen kemampuan mengajar.

2)    Format penilaian aspek personal

3)    Format penilaian aspek sosial

4)    Format rekapitulasi nilai komulatif

5)    Format rekapitulasi nilai komulatif

6)    Penilaian (kesimpulan nilai akhir)

  1. Penutup

SELENGKAPNYA DAPAT DILIHAT DISINI

PANDUAN PPL

March 16th, 2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan media bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan dasar profesi. Dalam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Praktik Pengalaman Lapangan diaplikasikan dalam bentuk praktik mengajar dan kegiatan edukasional lainnya di lembaga sekolah.

Berdasarkan cetusan  Undang-undang profesi yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tanggal 6 Dersember  tahun 2005 guru ditetapkan sebagai profesi. Dengan demikian pekerjaan guru selain harus mempunyai nilai tawar yang tinggi seperti profesi dokter dan professional lainnya, guru harus mempunyai kompetensi yang dapat diandalkan.

Praktik Pengalaman Lapangan yang dilakukan mahasiswa merupakan salah satu wadah agar mahasiswa mendapatkan pengalaman profesi yang dapat diandalkan. Dalam PPL mahasiswa akan dihadapkan pada kondisi riil aplikasi bidang keilmuan, seperti; kemampuan mengajar, kemampuan bersosialisasi dan bernegosiasi, dan kemampuan manajerial kependidikan lainnya.

Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unitomo,  PPL tidak hanya kegiatan mengajar yang harus ditempuh oleh mahasiswa, tetapi juga menyangkut kemampuan berpartisipasi, membangun, atau mengembangkan potensi pendidikan dimana ia berlatih. Partisipasi tersebut dapat berupa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ekstra seperti pembuatan atau pengembangan majalah sekolah, teater, penulisan kreatif, kelompok diskusi dan sebagainya.

Mengingat pentingnya kegiatan PPL, perlu adanya rambu-rambu yang mengatur pelaksaaannya. Rambu-rambu ini dibuat  bukan untuk membatasi kegiatan PPL, tetapi sebagai pedoman agar tujuan PPL benar-benar dapat dicapai dan tepat sasaran.

 

1.2   TUJUAN

Tujuan pelakasanaan Praktik Pengalaman Lapangan adalah sebagai berikut:

Memberikan wahana aplikasi kelimuan bagi mahasiswa

Memberikan pengalaman profesional mahasiswa sebagai calon guru, sehingga benar-benar menjadi lulusan kependidikan yang siap terjun di masyarakat khususnya dunia kependidikan.

Menjalin kerjasama edukasional dengan lembaga sekolah sebagai mitra dalam penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

 

1.3  TAHAP PELAKSANAAN

Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dilaksanakan dua tahap yaitu;

Tahap Program Micro teaching yang terintegrasi dalam mata kuliah Ketrampilan Dasar Mengajar,

Tahap Program Praktik Pengalaman Lapangan (Praktik Mengajar) dilaksanakan di sekolah latihan.

 

BAB II

MICRO TEACHING

 

2.1 PERSYARATAN MICRO TEACHING

Sebelum melakukan Praktik Mengajar di sekolah, mahasiswa harus melalui pelatihan belajar mengajar. Kegiatan latihan atau Microteaching tersebut dilakukan saat mahasiswa menempuh mata kuliah Ketrampilan Dasar Mengajar. Berikut beberapa pedoman yang berkaitan dengan pelaksaan Micro Teaching:

1.      Micro Teaching dilakukan saat mahasiswa menempuh mata kuliah Keterampilan Dasar Mengajar (2 SKS).

2.      Selama Menempuh   mata kuliah Keterampilan Dasar Mengajar  atau Micro Teaching, setiap mahasiswa harus melakukan kegiatan mengajar lebih dari 6 (enam) kali.

3.      Kegiatan Micro Teaching dibimbing oleh dosen mata kuliah Keterampilan Dasar Mengajar atau Microteaching  dibantu tim PPL.

4.      Kegiatan Micro Teaching dilakukan dengan pemanfaatan multi media (komputer, LCD, internet, dan media lain yang berhubungan dengan materi pembelajaran)

5.      Evaluasi Micro Teaching dilakukan berdasarkan kompetensi mengajar masing-masing mahasiswa.

2.2 TAHAP MICRO TEACHING

Kegiatan evaluasi Micro Teaching dilakukan dengan tahapan sebagai berikut;

a.       Mengamati kemampuan  mahasiswa dalam proses Micro Teaching

Pembimbing mengamati kemampuan masing-masing mahasiswa sehingga menemukan aspek-aspek dan materi pelatihan yang sesuai.  Dalam pengamatan juga dilakukan diskusi antara dosen dan mahasiswa.

b.      Pembimbing dan Tim memberikan model pengajaran yang ideal

Pembimbing memberikan contoh model-model pengajaran yang dibutuhkan mahasiswa dan sesuai dengan prinsip-prinsip kurikulum Berbasis Kompetensi.

c.       Menilai proses latihan Micro Teaching yang dilakukan oleh mahasiswa.

Memberikan penilaian terhadap hasil latihan micro teaching mahasiswa sesuai dengan format penilaian yang ditentukan dan/atau berdasarkan hasil kesepakatan dengan mahasiswa.

d.      Memberikan umpan balik terhadap kekurangan mahasiswa dan memberikan bimbingan dan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi mahasiswa.

e.       Mendiskusikan hasil Micro Teaching dengan sesama mahasiswa dengan arahan pembimbing.

2.3  ASPEK –ASPEK YANG DILATIH DALAM MICRO TEACHING

1.      Ketrampilan membuka pelajaran, dengan komponen-komponen:

a.       menarik perhatian siswa

(1)   Letak posisi guru

(2)   Penggunaan media pembelajaran

(3)   Menerangkan dengan cara yang komunikatif.

b.      Merangsang motivasi siswa,

(1)   Menimbulkan kehangatan dan keantusiasan

(2)   Memancing rasa ingin tahu

(3)   Memperhatikan minat siswa.

c.       Memberi acuan

(1)   Mengemukakan tujuan pembelajaran

(2)   Menjelaskan batas-batas tugas

(3)   Menjelaskan langkah-langkah kegiatan belajar yang akan dilakukan

(4)   Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas.

(5)   Mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

d.      Membuat kaitan

(1)   Membuat kaitan antarmateri yang  relevan

(2)   Membandingkan pengetahuan baru dan tekah diketahui siswa

(3)   Menjelaskan konsep sebelum memberikan uraian

 

2.      Ketrampilan menutup pelajaran dengan komponen-komponen;

a.       Meninjau kembali

(1)   Merangkum kembali bahan pelajaran

(2)   Siswa ditugas meringkas materi sajian

b.      Mengevaluasi dengan bentuk-bentuk antara lain;

(1)   Mengaplikasikan ide baru

(2)   Mengevaluasi pendapat siswa

(3)   Memberi soal-soal

c.       Tindak lanjut dengan bentuk:

(1)   Mengerjakan LKS

(2)   Pemberian tugas untuk dikerjakan di rumah

d.      Ketrampilan menjelaskan dengan komponen-komponen:

(1)   Mengerjakan LKS

(2)   Pemberian tugas

 

3.      Ketrampilan menjelaskan dengan komponen-komponen:

a.       Kemampuan menganalisis dan merencanakan

(1)   Yang berhubungan dengan isi pesan

–          menganalisis masalah secara keseluruhan

–          Menentukan jenis hubungan yang ada antara unsur-unsur yang dikaitkan

–          Menggunakan hokum, rumus, generalisasi yangs sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan

–          Pola penjelasan deduktif-induktif.

(2)   Yang berhubungan dengan penerimaan pesan;

–          Penjelasan cukup relevan dengan pertanyaan siswa

–          Penjelasan memadai (mudah diserap siswa).

b.      Kemampuan menyajikan suatu penjelasan, antara lain;

(1)   Kejelasan

(2)   Penggunaan contoh dan ilustrasi

(3)   Pemberian tekanan

(4)   Penjelasan yang sistematis

(5)   Kemampuan mengadakan penggalan-penggalan penjelasan

(6)   Balikan

4.      Ketrampilan bertanya, dengan komponen;

a.       Komponen ketrampilan bertanya

–          jelas dan singkat

–          Pemberian acuan

–          Pemusatan

–          Pindah gilir

–          Penyebaran

–          Pemberian waktu berpikir

–          Pemberian tunjungan

b.      Tingkat Pertanyaan

–          Pengetahuan (C1)

–          Pemahaman(C2)

–          Penerapan(C3)

–          Analisis(C4)

–          Sintesis(C5)

–          Evaluasi(C6)

5.      Ketrampilan variasi stimuli dengan komponen;

a.       Variasi dalam gaya mengajar guru

–          Penggunaan variasi suara

–          Pemusatan perhatian

–          Kesenyapan

–          Mengadakan kontak dengan pandangan

–          Gerakan badan dan mimik

–          Pergantian posisi guru dalam kelas

b.      Variasi dalam penggunaan media dan bahan pelajaran

–          Relevan dalam tujuan pembelajaran

–          Penggunaan multi media

–          Penggunaan multi indera

–          Ketrampilan mengoperasikan  media

c.       Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa: pola interaksi (Guru-kelompok; guru-murid; murid-murid)

6.      Ketrampilan  penguatan, dengan komponen:

a.       Penguatan verbal (kata-kata maupun kalimat)

b.      Penguatan noverbal  (mimik, pantomimic, sentuhan, dan gesture)

c.       Cara penguatan (pemberian penguatan dengan segera, variasi penguatan, dan ketepatan penguatan).

d.      Prinsip penggunaan penguatan (kehangatan, kebermaknaan, keantusiasan).

7.      Ketrampilan membimbing diskusi kelompok dengan komponen:

a.       Memusatkan perhatian

–          Merumuskan tujuan

–          Merumuskan masalah dan merumuskan kembali

–          Menandai hal-hal yang tidak relevan

–          Membuat rangkuman bertahap

b.      Memperjelas masalah atau urun pendapat;

–          Memparafrase

–          Merangkum

–          Menggali

–          Menguraikan secara rinci

c.       Mengalisis pandangan siswa

–          Merekam ketidaksetujuan dan persetujuan

–          Meneliti alasan

d.       Meningkatkan peran serta siswa;

–          menimbulkan perencanaan

–          menggunakan contoh

–          menggunakan hal-hal yang actual dan factual

–          menunggu

–          memberi dukungan

e.       menyebarkan kesempatan berpartisipasi;

–          meneliti pandangan

–          mencegah pembicaraan yang berlebihan

–          menghentikan (melarang) monopoli.

f.       Menutup diskusi

–          Merangkum

–          Memberi gambaran yang akan dating

–          Menilai

 

BAB III

PELAKSANAAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN

 TAHAP PERSIAPAN

Tahap persipan adalah suatu tahap dimana mahasiswa mempersiapkan diri sebelum  melaksanakan praktik mengajar si di sekolah. Tahap persiapan tersebut adalah:

1.      Mahasiswa sudah memprogram dan lulus mata kuliah Ketrampilan Dasar Mengajar/Microteching  dengan nilai minimal C.

2.      Mahasiswa mengorganisasikan diri membentuk kelompok terdiri dari 5-10 orang. Selanjutnya kelompok mahasiswa tersebut melakukan observasi mandiri terhadap sekolah yang akan ditempati kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Kegiatan observasi tidak hanya berupa pengamatan sepintas tentang sekolah yang akan ditempati, tetapi juga melakukan negosiasi dan pembicaraan lain yang mengantarkan terlaksananya kegiatan PPL. Kegiatan observasi harus dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa agar mahasiswa belajar bersosialisasi dengan lembaga profesi yang akan digeluti. Sekolah yang dijadikan media PPL diutamakan SLTA (misalnya SMA,SMK,MA dan lain-lain).

3.      Mahasiswa melaporkan hasil observasi yang telah di lakukan.

4.      Setiap mahasiswa menyiapkan alat peraga,media, kliping, dan media lain yang diperlukan dalam praktik.

 

TAHAP PEMBEKALAN

Pengarahan dari fakultas

–          Materi pengarahan berisi relevansi tuntutan sekolah dan materi umum tentang perkembangan teoritis dan praktis.

–          Masalah administrasi di sekolah

–          Tata tertib dan masalah  profesi keguruan

Pelepasan oleh pimpinan fakultas

Dalam rangka peresmian pemberangkatan mahasiswa, diadakan pelepasan oleh Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

TAHAPAN PELAKSANAAN PPL

Mahasiswa dapat mengikuti kegiatan PPL dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

1.      Mahasiswa diserahkan kepada pihak sekolah oleh Dosen Pendamping Lapangan.

2.      Mahasiswa melakukan kordinasi dengan guru pamong tentang kegiatan PPL.

3.      Mahasiswa melakukan Praktik mengajar secara terbimbing/mandiri di sekolah   tempat PPL.

4.      Mahasiswa harus hadir di sekolah setiap hari  jam pertama sampai jam terakhir.

5.      Mahasiswa harus berpartisipasi dalam pengaturan piket sekolah.

6.      Selama PPL mahasiswa tidak hanya melaksanakan tugas mengajar, tetapi juga harus terlibat (dengan ijin pihak sekolah) dalam kegiatan lain yang berkaitan dengan bidang keilmuan Bahasa & Sastra  dan Ilmu Matematika seperti pengelolaan perpustakaan, majalah sekolah, kegiatan teater, kelompok diskusi, dan lain-lain.

7.      Praktik Mengajar dilakukan 8-10 kali pertemuan dan minimal 8 minggu efektif. Selama 8 minggu tersebut mahasiswa harus selalu hadir walaupun tidak mendapatkan jadwal mengajar (sesuai peraturan sekolah).

8.      Apabila mahasiswa sudah dianggap lulus oleh guru pamong, maka praktik dapat diakhiri. Namun mahasiswa harus tetap aktif dalam kegiatan yang lain di sekolah.

9.      Bagi mahasiswa yang dianggap belum lulus oleh guru pamong, dapat diberi latihan tambahan dengan ketentuan tidak melewati batas waktu PPL.

10.  Selama pelaksanaan PPL mahasiswa harus berperilaku seperti guru dan menaati tata-tertib yang berlaku di sekolah tempat PPL

 

ORIENTASI MASALAH ADMINISTRASI PENDIDIKAN

Orientasi administrasi pendidikan meliputi hal-hal sebagi berikut:

keadaan fisik (letak,  denah, ruang kelas, runag BK, ruang TU, musholla, dan lain-lain).

Fasilitas belajar

struktur organisasi sekolah (structural, OSIS, BK, dan lain-lain).

personalia sekolah dan personalia bimbingan dan konseling.

kurikulum sekolah

kalender pendidikan

tata tertib sekolah, tata tertib keperpustakaan, dan tata tertib laboratorium.

keadaan siswa (statistik siswa)

prestasi sekolah yang pernah dicapai

 

PERSYARATAN DOSEN PEMBIMBING PPL & MICRO TEACHING

Persyaratan Dosen yang menjadi membimbing PPL dan Micro Teaching adalah sebagai berikut:

Memiliki bidang keahlian yang memadai atau

Memiliki kepangkatan  atau

Mempunyai keahlian membimbing PPL dengan sertifikasi tertentu (S2 Kependidikan),

dan ditugaskan oleh Dekan FKIP Unitomo atas usul Tim PPL.

 

TUGAS DOSEN PEMBIMBING PPL

Membimbing pembuatan rencana pembelajaran

Membimbing metode-metode dan tehnik pembelajaran

Meninjau pelaksanaan PPL di sekolah

Melakukan evaluasi pelaksanaan PPL (memberikan penilaian kepada mahasiswa)

PENINJAUAN PPL

Peninjauan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan  dilakukan oleh Dosen Pembimbing Lapangan yang dibentuk  berdasarkan kriteria  yang telah ditentukan pada poin sebelumnya. Berikut beberapa  pedoman tetang pelaksanaan peninjauan PPL;

1.      Peninjauan dilakukan minimal 3 kali oleh dosen pembimbing yang telah ditentukan.

2.      Setiap pembimbing PPL membimbing tidak lebih dari 2 sekolah latihan.

3.      Peninjau PPL harus mengisi lembar observasi dan mendiskusikan tentang permasalahan mahasiswa dengan guru pamong

EVALUASI PPL

Agar penilaian praktik Pengalaman Mengajar dapat terarah diperlukan rambu-rambu evaluasi. Berikut kriteria evaluasi PPL:

Aspek-aspek yang dievaluasi dalam pelaksanaan PPL antara lain;

a.       Proses persiapan mengajar; kesesuaian SAP dengan prinsip kurikulum yang berlaku dan teori-teori mutakhir.

b.      Kemampuan membuka pelajaran

c.       Kemampuan mengelola kelas dan kegiatan lain yang berkaitan dengan Proses Belajar Mengajar (lembar penilaian terlampir)

d.      Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan akademik lain dan ekstra kurikuler.

e.       Laporan mahasiswa tentang pelaksanaan PPL.

Alat Evaluasi PPL

a.       lembar observasi praktik (terlampir)

b.      Pedoman tentang penulisan laporan PPL

c.       Porto folio atau catatan khusus yang dibuat oleh guru pamong tentang kognisi, afeksi, dan psikomotor setiap mahasiswa yang melakukan praktik.

Pihak yang melakukan evaluasi(penilaian) dalam pelaksaaan Praktik Pengalaman Lapangan adalah:

a.       Guru pamong yang ditentukan oleh pihak sekolah

b.      Dosen Pembimbing yang ditentukan oleh tim PPL

 

HAK GURU PAMONG

Guru pamong ditentukan oleh sekolah masing-masing. Guru pamong memiliki hak penuh terhadap mahasiswa yang melakukan PPL. Berikut beberapa pedoman tentang hak guru pamong;

Guru pamong berhak menegur, memberikan peringatan atau memberikan sanksi kepada   mahasiswa yang dinilai tidak mematuhi aturan PPL.

Guru pamong berhak memberikan nilai seobjektif mungkin atas kelulusan mahasiswa yang melakukan PPL.

Guru pamong berhak mendapat sertifikat sebagai guru Pamong PPL dari tempat dia PPL yang dapat dipakai sebagai bahan kepangkatan dan keperluan lainnya.

Guru pamong berhak mendapat balas jasa yang setimpal yang akan dibicarakan dan diatur kemudian.

3.10   TUGAS GURU PAMONG

1.      Membimbing pembuatan rencana pembelajaran

2.      Membimbing mengatur jadual pelaksanaan pembelajaran   oleh mahasiswa (praktik mengajar)

3.      Mengatur pembagian tugas mahasiswa dalam kegiatan akademik dan ektra kurikuler

4.      Melakukan evaluasi terhadap mahasiswa (memberi penilaian)

BAB IV

TATA TERTIB PELAKSANAAN PPL (PRAKTIK MENGAJAR)

UMUM

1.      kelompok mahasiswa yang ditempatkan di suatu sekolah latihan disebut mahasiswa praktik mangajar.

2.      Praktik mengajar di sekolah latihan dikoordinir oleh seorang ketua Unit dan dibantu oleh sekerataris.

3.      kelompok mahasiswa dipimpin oleh seorang Dosen Pendamping Lapangan (DPL) pertama kali hadir di sekolah menyerahkan secara  formal sesuai jadwal yang ditentukan.

4.      mahasiswa harus selalu mendiskusikan permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan PPL.

5.      mahasiswa diharapkan mengajar sesuai dengan jurusan.

6.      penampilan mahasiswa di kelas dilengkapi dengan perangkat dan media mengajar sesuai dengan intruksi guru pamong.

7.      mahasiswa harus mempersiapkan satuan pelajara (SATPEL) dan rencana Pembelajaran (RP).

8.      sebelum mengajar SATPEL dan RP harus diketahui dan ditandatangani guru pamong.

9.      perpindahan sekolah latihan harus seizing Kepala Sekolah.

10.  mahasiswa harus mematuhi tata tertib yang telah ditetapkan sekolah.

11.  pelanggaran tata tertib akan diberi sanksi berupa: 1) peringatan, (2) penangguhan izin praktik mengajar, (3) pencabutan izin praktik mengajar.

12.  mahasiswa wajib  berpenampilan sopan dan rapi, termasuk pakaian dan rambut (pria: tidak boleh gondrong) dan bersepatu.

KHUSUS

1.      mahasiswa akan dibimbing oleh guru pamong yang ditentukan oleh Kepala Sekolah sesuai dengan jurusan dan bidang yang diampu.

2.      mahasiswa harus mempersiapkan satuan pelajara (SATPEL) dan rencana Pembelajaran (RP).

3.      kehadiran mahasiswa di sekolah diatur oleh Kepala Sekolah.

4.      mahasiswa yang berhalangan hadir karena suatu hal harus yang dapat dipertanggujawabkan harus seizing  Kepala Sekolah/Guru Pamong. Pemberitahuan dilakukan sekurang-kurangnya dua hari sebelumnya.

PPL MANDIRI

1.      mahasiswa mencari dan mengajukan permohonan Praktik mengajar di sebuah sekolah yang ditujukan kepada TU.

2.      Mahasiswa wajib menyerahkan surat keterangan kesediaan dari Kepala Sekolah tentang kesediaan ditempati PPL.

3.      mahasiswa membayar biaya PPL sesuai ketentuan yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta

B. Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Daryanto, 2005. Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta

E. Mulyasa. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

H. Prayitno dan Amti, Erman. 1999. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT.Rineka Cipta

S. Nasution. 2000. Mengajar Dengan Sukses. Jakarta: PT. Bumi Aksara

 

Singarimbun dan Effendi. 1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta: PT. PustakaLP3ES

Wardani dan Suparno. 1994. Program Pengalaman Lapangan. Direktorat Jendral  Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

W.J.S. Poerwodarminto. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Wina Sanjaya. 2006. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana

 

 

link mata kuliah

March 16th, 2012
  1. SAP Matakuliah Perkembangan Peserta Didik
  2. Satuan Acara Perkuliahan (SAP)  “Pengantar Pendidikan”  (Rulam Ahmadi).
  3. Tugas 001: Pengantar Pendidikan, Tugas untuk Mahasiswa PBSI I A & B.
  4. Tugas 002: Pengantar Pendidikan untuk Jurusan Pendidikan Matematika.
  5. Tugas 003: Pengantar Pendidikan untuk Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
  6. Tugas 004: Pengantar Pendidikan [Matematika]
  7. Tugas 005: Pengantar Pendidikan (Bahasa Inggris) – 31 Desember 2010
  8. Tugas 006: Pengantar Pendidikan (Bahsa Inggris) – 8 Januari 2011
  9. Tugas 007: Pengantar Pendidikan (PBSI Semester I A & B) – 11 Januari 2011.
  10. Tugas 008: Pengantar Pendidikan (Matematika Semester I A & B) – 12 Januari 2011.
  11. Tugas 009: Pengantar Pendidikan (Bahasa Inggris) – 14 Januari 2011
  12. Tugas 010: Profesi Keguruan (Matematika IV A dan B) – 7 Juni 2011
  13. Tugas 011: Profesi Keguruan (PBSI IV A dan B) – 8 Juni 2011
  14. Tugas 012: Profesi Keguruan (Matematika) – 5 Juli 2011
  15. Tugas 013: Pengantar Pendidikan (Matematika I A & B), 4 Januari 2012

.

Selamat belajar, semoga Anda berhasil!

PENGANTAR PENDIDIKAN

March 16th, 2012
BAB. I

Pengertian, objek serta Proses Pendidikan
A. Pengertian Pendidikan
1. Pendidikan dalam arti yang sederhana merupakan suatu usaha untuk membina keperibadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. H.1
2. Pendidikan merupakan usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
3. Langeveld: pendidikan merupakan usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.
4. John Dewey: pendidikan merupakan proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual, emosional ke arah alam dan sesama manusia.h. 2
5. J.J. Rousseau: pendidikan memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.
6. Driyarkara: pendidikan merupakan pemanusian manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf insani.
7. Carter V. Good: a. Pedagogy is the art, practice, or profession of teaching. The systematized learning or intructioan concerning principles and methods of teaching and of student control and guidance; largely replaced by the term education.
8. Ahmad D. Marimba. Pendidikan merupakan bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya keperibadian yang utama.
9. Ki Hajar Dewantara. Pendidikan merupakan tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak.
10. Menurut undang-undang no 2 th 1989. Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan pesdik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
11. menurut UU no 20 th 2003. pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar pesdik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memili kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pendidikan:
a. seni, praktik atau profesi sebagai pengajar,
b.ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip dan metode-metode mengajar, pengawasan dan binbingan murid; dalam arti luas digantikan dengan istilah pendidikan.
Unsur-unsur dalam pendidikan adalah:
a. Usaha (kegiatan), usaha itu bersifat bimbingan (pimpinan atau pertolongan) dan dilakukan secara sadar;
b. Ada pendidik, pembimbing;atau penolong;
c. Ada yang didik
d. Bimbingan itu mempunyai dasar dan tujuan;
e. Dalam usaha itu tentu ada alat-alat yang dipergunakan.
Beberapa pengertian dasar batasan-batasan pendidikan yang perlu dipahami sebagai berikut:
1. pendidikan merupakan suatu proses terhadap anak didik berlansung terus sampai anak didik mencapai pribadi dewasa susila.
2. pendidikan merupakan perbuatan manusiawi.
3. pendidikan merupakan hubungan antar pribadi pendidik dan anak didik.
4. tindakan atau perbuatan mendidik menuntun anak didik mencapai tujuan-tujuan tertentu, dan hal ini tanpak pada perubahan-perubahan dalam diri anak didik.
Pendidikan lebih tua dibandingkan ilmu pendidikan, sebab pendidikan telah ada sebelum ilmu pengetahuan.

Pengertian ilmu pendidikan:
1. Prof. Dr. N. Driyarkara; pemikiran ilmiah tentang realitas yang disebut pendidikan (mendidik dan dididik).
2. Prof. M. J. Langeveld; Paedogogic atau ilmu mendidik merupakan suatu ilmu yang bukan saja menelaah objeknya untuk mengetahui betapa keadaan atau hakiki objek itu, melainkan mempelajari pula betapa hendaknya bertindak.
3. Dr. Sutari Imam Barnadib; ilmmu pendidikan mempelajari suasana dan proses-proses pendidikan.
4. Prof. Brodjonegoro; ilmu pendidikan merupakan teori pendidikan, perenungan, tentang pendidikan.
B. Objek Pendidikan
C. Faktor-faktor Pendidikan
Dalam proses perkembangan pemikiran pendidikan di dunia barat, kegiatan pendidikan berkembang dari konsep paedagogi yang merupakan kegiatan pendidikan ditujukan hanya kepada anak yanng belum dewasa, menjadi andragogi yang merupakan kata dasar andro artinya laki-laki yang rupanya seperti perempuan, selanjutnya education yang berfungsi ganda, yakni “transfer of khnowledge” di satu sisi dengan “making scientific attitude” pada sisi yang lain.
Menurut Sutari Imam Barnadib, bahwa perbuatan mendidik dan dididik memuat faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi dan menentukan;
1. adanya tujuan yang hendak di capai
2. adanya subjek manusia
3. yang hidup bersama dalam linkungan hidup tertentu
4. yang menggunakan alat-alat tertentu untuk mencapai tujuan.
1. faktor tujuan; “ mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan , kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
a. Fungsi Tujuan bagi Pendidikan;
1) Sebagai arah pendidikan
2) Tujuan sebagai titik akhir
3) Tujuan sebagai titik pangkal mencapai tujujan lain
4) Memberi nilai pada usaha yang dilakukan
b. Macam-macam Tujuan Pendidikan
1) Tujuan umum, yang menjiwai pekerjaan mendidik dalam segala waktu dan keadaan, dirumuskan dengan memperhatikan hakikat kemannusian yang univesal.
2) Tujuan khusus, diantaranya: terhadap perbedaan individu anak didik, perbedaan lingkungan keluarga dan masyarakat, perbedaan yang berhubungan dengan tugas lembaga pendidikan, perbedaan yang berhubungan dengan pandangan atau falsafah hidup suatu bangsa.
3) Tujuan tak lengkap, yang merupakan tujujan yan g hanya mencangkup satu aspek tujuan saja
4) Tujuan sementara, tujjuan pertingkat sesuai denga jenjang pendidikan
5) Tujuan insidentil, tujuan yang bersifat sesaat karena adanya situasi yang terjadi secara kebetuilan, kendatipun demikian tujuan ini tak terlepas dari tujuan umum.
6) Tujuan intermedier; tujuan perantara
Kemudian, dalam hubungannya dengan hierarki tujuan pendidikan, dibedakan macam-macam tujuan yaitu; nasional, institusional, kurikuler dan instruksional.
2. Faktor Pendidik
Pendidik ialah orang yang memikul pertanggungjawaban untuk mendidik. Dwi Nugroho Hidayanto menginventarisasi bahwa pengertian pendidik ini meliputi: a, orang dewasa, b, orang tua, c, guru, d, pemimpin masyarakat, e, pemimpin agama. Karakteristik pribadi dewasa susila, yaitu; mempunyai individualitas yang utuh, mempunyai sosialitas yang utuh, mempunyai norma kesusilaan dan nilai-nilai kemanusian, bertindak sesuai dengan norma dan nilai-nilai atas tanggung jawab sendiri demi kebahagian dirinyya dan kebahagian masyarakat atau orang lain.
Orang dewasa dapat disifati secara umum melalui gejala-gejala kepribadiannya, yaitu; a, telah mampu mandiri, b, dapat mengambil keputusan batin sendiri atas perbuatannya, c, memilki pandangan hidup, dan prinsip hidup yang pasti dan tetap, d, kesanggupan untuk ikut serta secara konstruktif pada matra sosio kultural; e, kesadaran akan norma-norma; f, menunjjukkan hubungan pribadi dengan norma-norma.
a. Beberapa Karakteristik Pendidik.
1. Kematangan diri stabil
2. kematangan sosial yang stabil,
3. kematangan profisional,
b. Guru sebagai Pendidik Formal.
Di dalam UU Pokok Pendidikan No.4 tahun 1950 Pasal 15 ditetapkan bahwa: syarat-syarat menjadi guru, selain ijazah, dan syarat-yarat yang mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah sifat yang perlu untuk dapat memberikan pendidikan dan pengajaran, yaitu: syarat profisional (ijazah), syarat biologis (Kesehatan jasmani), syarat psikologis (kesehatan mental); syarat paedagogis-didaktis (pendidikan dan pengajaran).Persyaratan pribadi adalah: berbudi pekerti luhur, kecerdasan yang cukup, temperamen yang tenang dan kestabilan dan kematangan emosional. Persyaratan jabatan pengetahuan tentang manusia dan masyarakat, dasar fundamental jabatan profesi, keahlian dalam cabang ilmu pengetahuan, dalam kepemimpinan, filsafat pendidikan yang pasti.h. 20
c. Orang tua sebagai Pendidik di Rumah
Maa min mauluudin yuuladu a’la fitrah……………….,
3. faktor Anak Didik
Karakteristiknya adalah: belum memiliki pribadi dewasa, masih menyempurnakan aspek kedewasaannya, memiliki sifat-sifat dasar yang sedang ia kembangkan secara terpadu.
4. faktor Alat Pendidikan
Alat pendidikan adalah suatu tindakan atau situasi yang sengaja diadakan untuk tercapainya pendidikan tertentu.
a. Macam-macam alat pendidikan dari segi wujud: perbuatan pendidik dan benda-benda. Dari tiga sudut pandang: pengaruh terhadap tinngkah laku anak didik, akibat tindakan terhadap perasaan anak didik dan bersifat melindungi anak didik.h. 26
b. Dasar-dasar Pertimbangan penggunaan alat adalah tujuan yang ingin dicapai, orang yang menggunakan alat, untuk siapa alat itu digunakan, efektifitas penggunaan alat tersebut dengan tidak melahirkan efek tambahan yang merugikan. H.28
Penggunaan alat pendidikan,tampak dalam bentuk tindakan: teladan, anjuran, suruhan dan perintah, larangan, pujian dan hadiah, teguran, peringatan dan ancaman, hukuman didasari tiga prinsip kenapa diadakan; karena adanya pelanggaran, adanya kesalahan yang diperbuat, dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran.
5. faktor Lingkungan, menurut Sartain (ahli Psikologi Amerika), lingkungan (environment) meliputi kondisi dan alam dunia yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau llife processes. Pada dasarnya mencakup tempat, kebudayaan dan kelompok hidup bersama.

Pendidikan dalam arti luas

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.
Pendidikan dalam arti luas merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, yang berlangsung sepanjang hayat. Henderson (1959:44) mengemukakan :
But to see education as a process of growth and development taking place as the result of the interaction of an individual with his environment, both physical and sosial, beginning at birth and lasting as long as life it self a process in which the social heritatage as a part of the social environment becomes a tool to be used toward the development of the best and ost intelligent person possible, me and women who will promote human welfare, that is to see the educative process as philosophers and educational reformers conceived.
Menurut Henderson, pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepajang hayat sejak manusia lahir. Warisan sosial merupakan bagian dari lingkungan masyarakat, merupakan alat bagi manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
Dalam undang-undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuata sepiritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Pertama, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup. Usaha pendidikan sudah dimulai sejak manusia lahir dari kandungan ibunya sampai tutup usia, sepanjang ia mampu untuk menerima
pengaruh dan dapat mengembangkan dirinya. Suatu konsekuensi dari konsep pendidikan sepanjang hanyat adalah, bahwa pendidikan tidak identik dengan persekolaan. Pendidikan akan berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Kedua bahwa tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama semua manusia, tanggung jawab orang tua, tanggung jawab masyarakat dan tanggung jawab pemerintah. Pemerintah tidak boleh memonopoli segalanya. Bersama keluarga dan masyarakat, pemerintah berusaha semaksimal mungkin agar pendidikan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Ketiga, bagi manusia pendidikan merupakan suatu keharusan, karena dengan pendidikan manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang berkembang, yang disebut manusia seluruhnya. Henderson (1959) mengemukakan bahwa pendidikan pada dasarnya suatu hal yang tidak dapat dielakkan oleh manusia, suatu perbuatan yang “tidak boleh” tidak terjadi, karena pendidikan itu membimbing generasi muda untuk mencapai suatu generasi yang lebih baik. Bagi orang dewasa ilmu pendidikan yang mengkajinya disebut “andragogi”, yang berasal dari bahasa Yunani “andr” dan “agogos”. Dalam bahasa Yunani, “andr” berarti orang dewasa dan “agogos” berarti memimpin atau membimbing. Kniwles (1980) mendefinisikan andragogi sebagai seni dan ilmu dalam membantu warga belajar (orang dewasa) untuk beljar. Berbeda dengan pedagogi yang dapat diarti sebagai seni dan ilmu untuk mengajar anak-anak. Orang dewasa, tidak hanya dilihat dari segi biologis semata, melainkan dari segi sosial dan psikologis. Secara biologis, seseorang dikatakan telah dewasa apabila ia telah mampu melakukan reproduksi. Secara sosial, seseorang disebut dewasa apabila ia melakukan peran- pera sosial yang biasanya dibebankan kepada orang dewasa. Secara psikologis, seseorang dikatakan dewasa bila ia telah memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan keputusan yang diambil.
Andragogi adalah suatu model proses pembelajaran perserta didik (warga belajar) dewasa. Andragogi disebut juga sebagai teknologi pelibatan orang dewasa dalam kegiatan belajar. Proses pembelajaran dapat terjadi dengan baik apabila metode dan teknik pembelajaran dapat terjadi dengan baik apabila metode dan teknik pembelajaran ,melibatkan warga belajar. Keterlibatan diri warga belajar adalah kunci keberhasilan pendidikan orang dewas. Untuk itu sumber belajar hendaknya mampu membantu warga belajar untuk :
a. mengidentifikankan kebutuhan,
b. merumuskan tujuan belajar,
c. ikut serta memikul tanggung awab dalam perencanaan dan penyusunan pengalaman belajr dan,
d. ikut serta dalam mengevalusi kegiatan belajar.
3. Mendidik, mengajar dan melatih
Pendidikan pada hakekatnya mengandung tiga unsur, yaitu mendidik, mengajar, dan melatih.
Ketiga istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Secara sepintas bagi orang awan mungkin akan dianggap sama artinya. Dalam praktek sehari-hari di lapangan,kita sering mendengar kata-kata seperti: pendidikan olah raga, pengajaran olah raga, latihan olah raga; pendidikan kemiliteran, pengajaran kemiliteran, latihan kemiliteran, dan sebagainya.
Dalam bahasa sehari-hari kita sering mendengar kata-kata lain yang sering dipakai, seperti memelihara anak dan mengurus anak. Memelihara anak dapat diartikan memberi perlindungan
kepada anak supaya lestari hidupnya. Katamemelihara kadang-kadang dapat dihubungkan dengan kata-kata memelihara ayam, memelihara anjing, memelihara ternak. Oleh karena itu sebaiknya kata itu jangan dipakai terhadap anak manusia. Lebih baik dipakai kata-kata “mengurus anak”, tetapi “mengurus anak” tidak dapat disamakan dengan kata “mendidik anak”. Mendidik menurut Darji Darmodiharjo menunjukkan usaha yang lebih ditunjukkan kepada pengembangan budi pekerti, hati nurani semangat, kecintaan, rasa kesusilaan, ketaqwaan, dan lain-lain.
Mengurus anak dapat diartikan mengurus segala kebutuhan hidup anak, seperti menberi ank makan dan pakaian, mengurus kesehatannya, setiap hari dimandikan, jika sakit dirawat dan sebagainya, namun perkataan mendidik ank tidak dapat diindentikan (disamakan) dengan mengurus anak. Mengurus anak lebih banyak berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, mendidik anak menyangkut seluruh kepribadian anak.
Mengajar bearti memberi pelajaran tentang berbagai ilmu yang bermanfaat bagi perkembangan kemampuan berpikirnya. Disebut juga pendidikan intelektual. Intelek anak adalah kemampuan anak berpikir dalam berbagai bidang kehidupan. Jelas bahwa pengajaran atau pendidikan intelektual merupakan bagian dari seluruh proses pendidikan, atau
pengembangan mempunyai arti lebih sempit dari penddikan.
Lebih sempit lagi adalah kata latihan, seperti latihan mengambar, latihan menembak. Latihan ialah usaha untuk memperoleh ketrampilan dengan melatihkan sesuatu secara berulang-ulang, sehingga terjadi mekanisasi atau pembiasaan. Latihan dapat kita terapkan terhadap hewan, misalnya melatih anjng herder,melatih singa didalam sirkus, atau melatih lumba-lumba supaya dapat menjawab suatu soal hitungan yang seperti 3×4=12. Bagi hewan tidak bisa menggunakan istilah pendidikan gajah (yang berarti mendidik, mengajar dan melatih gajah, namun yang tepat adalah melatih gajah.
Proses belajar yang menyangkut intelek atau pikiran, hanya dapat diterapkan pada anak manusia. Ini berarti berada dalm taraf kegiatan yang lebih “rendah” dari proses belajar, sedangkan belajar berada dalam kegiatan yang lebih “rendah” dari proses mendidik. Pendidikan anak manusia meliputi seluruh ketrampilannya. Latihan menyngkut segi jasmani-rohaninya, atau dengan istilah teknis, menyangkut segi psikomotoris kepribadian.
Tujuan dari tiga jenis kegiatan itu juga berbeda. Tujuan mendidik ingin mencapai kepribadian yang terpadu, yang terintegrasi, yang sering dirumuskan untuk mencapai kepribadian yang dewasa.
Para akhli ilmu mendidik telah bersepakat, bahwa tujuan memendidik ialah untuk mencapai kedewasaan.tetapi apa arti kedewasaan itu, dan lebih umum lagi, apa tujuan pendidikan itu dalam arti yang sebenarnya, memerlukan pembahasan yang khusus (dibahas dalam tujuan pendidikan), karena masalahnya tidak semudah seperti kita duga. Tujuan pengajaran yang menggarap kehidupan intelek anak ialah supaya anak kelak sebagai orang dewasa memiliki kemampuan berpikir seperti yang diharapkan orang dewasa secara ideal, yaitu diantaranya mampu berpikir abstrak logis, obyektif, kritis, sistimatis analitis, sintesis, integratif,dan inovatif. Apa arti hal-hal itu sebenarnya, akan dapat kita temukan dalam bab mengenai pendidikan sekolah.
Tujuan latihan ialah untuk memperoleh keterampilan tentang sesuatu. Keterampilan adalah sesuatu perbuatan yang berlangsung secara mekanis, yang mempermudah kehidupan sehari- hari dan dapat pula membantu proses belajar seperti kemampuan berhitung, membaca, mempergunakan bahasa, dsb. Baik keterampilan maupun kemampuan berpikir akan membantu proses pendidikan, yang menyangkut pembangunan seluruh kepribadian seseorang. Jika kita perhatiankan, kita temukan gejala mendidikan dalam pergaulan antara orang dewasa dengan anak (yang belum dewasa). Tetapi tidak setiap pergaulan antara orang dewasa dan anak mengandung arti mendidik, seperti misalnya bila seorang yang sedang berusaha supaya dagangannya (kueh) laku dibeli oleh anak sekolah. Bahkan pergaulan antara orang dewasa dan anak kadang-kadang tidak membawa anak ketingkatan yang lebih tinggi, misalnya bila ada seorang dewasa memcoba menjualan gambar-gambar porno kepada anak-anak. Pendidikan (pedagogik) hanya ditujukan terhadap anak ang belum dewasa oleh orang yang telah mencapai kedewasaan dengan tujuan yang positif dan konstruktif, ialah supaya anak itu mencapai kedewasaan. Jika tujuannya negatif dan tidak konstruksitif sehingga destruktif (destruktif = merusakkan), hal itu tidak dapat kita sebutkan pendidikan (pedagogi), namun disebut
“demagogi”.
Dalam pergaulan antara orang dewasa dan anak yang bertujuan mendewasakan anak, kita temukan bahwa pergaulan tersebut mempunyai pengaruh tertentu terhadap anak, walaupun tidak setiap pergaulan antara orang dewasa dan anak mempunyai pengaruh. Istilah pendidikan dipergunakan khusus terhadap pergaulan yang berpengaruh positif terhadap anak oleh orang dewasa, sehingga pendidikan akan berakhir bila anak didik telah mencapai kedewasaannya.
Tujuan pendidikan untuk mencapai kedewasaan, oleh Hoogvled diartikan “secara mandiri dapat melaksanakan tugas hidupnya”. Oleh Langeveld, kedewasaan diartikan “kemampuan menentukan dirinya sendiri secara mandiri atas tanggung jawab sendiri. Anak hidup dalam berbagai situasi yang mengandung segala kemungkinan, karena ia selalu memperoleh pengaruh oleh berbagai faktor, bukan saja dirumah, disekolah, melainkan juga dalam masyarakat secara luas serta karena pengaruh alam sekelilingnnya. Majalah, harian dan buku-buku dibaca anak, film yang dilihatnya. Kawan-kawan sepermainan, sawah, ladang atau laut yang mengelilinginya, semuanya berpengaruh terhadap perkembangannya. Tetapi segala pengaruh tersebut walaupun bersifat positif dan konstruktif, tak dapat disebut pendidikan. Bila ada pendapat, bahwa segala pengaruh positif disebut pendidikan, pendapat itu dapat disebut “panpedagogisme”.
Pendidikan dalam arti ilmu mendidik, hanya kita batasi pada pengaruh yang dengan sengaja diusahakan oleh orang dewasa terhadap anak yang belum dewasa, sedangkan pengaruh itu harus bersifat positif dan konstruktif. Sebagai kesimpulan dapat dipertegas apa arti mendidik.
Mendidik ialah membimbing anak yang belum dewasa supaya anak mencapai kedewasaannya. Bimbingan itu dilaksanakan oleh orang yang telah dewasa.

D. Proses Pendidikan
Proses Pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualtas pengelolaaannya, pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso dan mikro. Adapun tujuan utama pengelolaan proses pendidikan yatiu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal.

Proses Pendidikan melibtakan beebrapa hal sebagai berikut :
1. Subjek yang dibimbing ( peserta didik)
2. Orang yang emmbimbung ( pendidik)
3. Interkasi antara peserta didik dengan pendidik(interaksi edukatif)
4. Kearah mana bimbingan ditujukan (tujuan Pendidikan )
5. Pengaruh yang diberikan alam bimbingan( materi pendidikan)
6. Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan Metode0
7. Tempat, dimana peristiwa bimbingan berlangsung ( lingkungan pendidikan )

Penjelasan
1. Peserta didik
Peserta didim berstatus sebagai subjek didik, pandanagn modern cendrung menyebutkan demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom yang ingin diakui keberdaaannya.
Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah :
a. Individu yang memiliki potensi dan psikis yang khas , sehingga merupakan insan yang unik
b. Individu yang sedang berkembang
c. Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakukan manusiawi
d. Individu yang emmiliki kemampuan untuk mandiri.
2. Orang yang membimbing ( Pendidik)
Yang dimaksud pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik, peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orng tua . guru. Pemimpn program pembelajaran latihan dan masyarakat.
3. Interaksi antra peserta dengan pendidik( interaksi edukatif)
Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan . Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses komunikasi intensif dengan mamanipuasi isi, metode, serta lata-alata pendidikan.
4. Arah Bimbingan di tujukan ( tujuan Pendidikan )
a. Alat dan Metode
Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara khusus alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat pendidikan dibedakan atas alata preventif dan yang kuiratif.
b. Tempat peristiwa bimbingan belangsung (lingkungan pendidikan )

Lingkungan pendidikan biasanya disebut Tri Pusat Pendidikan yaitu Keluarga, sekolah dan masyarakat.
Proses Pendidikan
Pendidikan merupakan proses transformasi budaya. Pendidikan merupakan proses pewarisan budaya, dan sekaligus pengembangan budaya. Education enables people and societies to be what they can be. Pendidikan membuat manusia dan masyarakat menjadi apa yang mereka inginkan. Demikian Bill Richardson berpesan kepada kita.
• Untuk mewariskan budaya tersebut, proses pendidikan dilakukan melalui tiga upaya yang saling kait mengait, yaitu: (1) pembiasaan (habit formation), (2) proses pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning process), dan (3) keteladanan (role model). Secara lebih lengkap, bacalah tulisan Fuad Hassan, mantan Mendikbud, dalam buku referensi Pendidikan Manusia Indonesia (Widiastono, 2004: 52).
• Immanuel Kant menyebutkan bahwa manusia merupakan animal educancum dan animal educandus, mahluk yang dapat dididik dan dapat mendidik. Oleh karena itu, maka sama sekali tidak benar jika ada pernyataan yang menyatakan bahwa “anak itu tidak dapat dididik”. Tidak! Proses dan metode yang digunakanlah yang kemungkan tidak tepat digunakan. Justru anak manusia akan menjadi manusia jika melalui proses pendidikan, melalui ketiga upaya tersebut.
• Manusia adalah pengemban budaya (culture bearer), dan dia akan mewariskan kebudayaannya tersebut kepada keturunannya. Proses pendidikan tidak lain merupakan proses transformasi budaya, yakni proses untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda.
• Pengertian pendidikan jauh lebih luas dari pengertian pengajaran. Proses pendidikan bukan hanya sebagai pengalihan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik (transfer of knowledge and skills) tetapi juga pengalihan nilai-nilai sosial dan budaya (transmission of social and culture values and norms). Untuk memperdalam pemahaman Anda tentang hal ini, cobalah buat tabel yang membedakan antara keduanya. Baca buku referensi, dan cari materi yang terkait dengan perbedaan pendidikan dan pengajaran.
Jenjang pendidikan
Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.
Pendidikan anak usia dini
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini mulai lahir sampai baligh (kalau perempuan ditandai menstruasi sedangkan laki-laki sudah mimpi sampai mengeluarkan air mani) adalah tanggung jawab sepenuhnya orang tua, apakah anak itu mau diarahkan Yahudi, Majusi, atau nashrani, atau Islam. pertanyaannya bagaimana kalau kedua orang tuanya sibuk bekerja
Pendidikan dasar Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
Pendidikan menengah
Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar. yang harus dilaksanakan minimal 9 tahun
Pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh [[perguruan tinggi Mata pelajaran pada perguruan tinggi merupakan penjurusan dari SMA, akan tetapi semestinya tidak boleh terlepas dari pelajaran SMA
Materi pendidikan
Materi Pendidikan harus disajikan memenuhi nilai-nilai hidup. nilai hidup meliputi nilai hidup baik dan nilai hidup jahat. penyajiannya tidak boleh pendidikan sifatnya memaksa terhadap anak didik, tetapi berikan kedua nilai hidup ini secara objektif ilmiah. dalam pendidikan yang ada di Indonesia tidak disajikan nilai hidup, sehingga bangsa Indonesia menjadi kacau balau seperti sekarang in
Jalur pendidikan
Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.
Pendidikan nonformal meliputi pendidikan dasar, dan pendidikan lanjutan.
Pendidikan dasar mencakup pendidikan keaksaraan dasar, keaksaraan fungsional, dan keaksaraan lanjutan paling banyak ditemukan dalam pendidikan usia dini (PAUD), Taman Pendidikan Al Quran (TPA), maupun Pendidikan Lanjut Usia. Pemberantasan Buta Aksara (PBA) serta program paket A (setara SD), paket B (setara B) adalah merupakan pendidikan dasar.
Pendidikan lanjutan meliputi program paket C(setara SLA), kursus, pendidikan vokasi, latihan keterampilan lain baik dilaksanakan secara terogranisasi maupun tidak terorganisasi.
Pendidikan Non Formal mengenal pula Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai pangkalan program yang dapat berada di dalam satu kawasan setingkat atau lebih kecil dari kelurahan/desa. PKBM dalam istilah yang berlaku umum merupakan padanan dari Community Learning Center (CLC)yang menjadi bagian komponen dari Community Center.
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Jenis pendidikan
Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.
Pendidikan umum
Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Pendidikan kejuruan
Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Pendidikan akademik
Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.
Pendidikan profesi
Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesional.
Pendidikan vokasi
Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).
Pendidikan keagamaan
Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama.
Pendidikan khusus
Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa/SLB).
Kualitas pendidikan
Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan — khususnya di Indonesia — yaitu:
• Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan.Dalam hal ini,interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.
• Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya.Dimana,masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan.
Penjelasan Definisi
• Perubahan akibat belajar dapat terjadi dalam berbagai bentuk perilaku, dari ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotor. Tidak terbatas hanya penambahan pengetahuan saja.
• Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.
• Perubahannya tidak harus langsung mengikuti pengalaman belajar. Perubahan yang segera terjadi umumnya tidak dalam bentuk perilaku, tapi terutama hanya dalam potensi seseorang untuk berperilaku.
• Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.
• Perubahan akan lebih mudah terjadi bila disertai adanya penguat, berupa ganjaran yang diterima – hadiah atau hukuman – sebagai konsekuensi adanya perubahan perilaku tersebut.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.
Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.
Istilah lain peserta didik
Siswa
Siswa / Siswi istilah bagi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Mahasiswa
Mahasiswa/Mahasiswi istilah umum bagi peserta didik pada jenjang pendidikan tinggi.
Warga Belajar
Warga belajar istilah bagi peserta didik pada jalur pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), baik Paket-A, Paket-B, Paket-C
Pelajar
Pelajar adalah istilah lain yang digunakan bagi peserta didik yang mengikuti pendidikan formal tingkat dasar maupun pendidikan formal tingkat menengah.
Murid
Murid istilah lain peserta didik.
Santri
Santri adalah istilah bagi peserta didik pada jalur pendidikan non formal, khususnya pesantren atau sekolah-sekolah salafiyah

BAB. II
HAKIKAT MANUSIA DAN PROSES SERTA LEMBAGA PENDIDIKAN
A. Hakikat Manusia
1. Hakekat Manusia
a. Manusia sebagai makhluk Tuhan mempunyai kebutuhan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Manusia membutuhkan lingkungan hidup berkelompok untuk mengembangkan dirinya.
c. Manusia mempunyai potensi-potensi yang dapat dikembangkan dan kebutuhan-kebutuhan materi serta spiritual yangharus dipenuhi.
d. Manusia itu pada dasarnya dapat dan harus dididik serta dapat mendidik diri sendiri.
2. Hakekat Masyarakat
a. Kehidupan masyarakat berlandaskan sistem nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya yang dianut warga masyarakat ; sebagian daripada nilai-nilai tersebut bersifat lestari dan sebagian lagi terus berubah sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
b. Masyarakat merupakan sumber nilai-nilai yang memberikan arah normative kepada pendidikan.
c. Kehidupan bermasyarakat ditingkatkan kualitasnya oleh insane-insan yang berhasil mengembangkan dirinya melalui pendidikan.
3. Hakekat Pendidikan
a. Pendidikan merupakan proses interaksi manusiawi yang ditandai keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik.
b. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan yang mengalami perubahan yang semakin pesat.
c. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupoan pribadi dan masyarakat.
d. Pendidikan berlangsung seumur hidup.
e. Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.
4. Hakekat Subjek Didik
a. Subjek didik betanggungjawab atas pendidikannya sendiri sesuai dengan wawasan pendidikan seumur hidup.
b. Subjek didik memiliki potensi, baik fisik maupun psikologis yang berbeda-beda sehingga masing-masing subjek didik merupakan insane yang unik.
c. Subjek didik merupakan pembinaan individual serta perlakuan yang manusiawi.
d. Subjek didik pada dasarnya merupakan insane yang aktif menghadapi lingkungan hidupnya.
5. Hakekat Guru dan Tenadga Kependidikan
a. Guru dan tenaga kependidikan merupakan agen pembaharuan.
b. Guru dan tenaga kependidikan berperan sebagai pemimpin dan pendukung nilai-nilai masyarakat.
c. Guru dan tenaga kependidikan sebagai fasilitator memungkinkan terciptanya kondisi yang baik bagi subjek didik untuk belajar.
d. Guru dan tenga kependidikan bertanggungjawab atas tercapainya hasil belajar subjek didik.
e. Guru dan tenaga kependidikan dituntut untuk menjadi conoh dalam pengelolaan proses belajar-mengajar bagi calon guru yang menjadi subjek didiknya.
f. Guru dan tenaga kependidikan bertanggungjawab secara professional untuk terus-menerus meningkatkatkan kemampuannya.
g. Guru dan tenaga kependidikan menjunjung tinggi kode etik profesional.
6. Hakekat Belajar Mengajar
a. Peristiwa belajar mengajar terjadi apabila subjek didik secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru.
b. Proses belajar mengajar yang efektif memerlukan strategi dan media/teknologi pendidikan yang tepat.
c. Program belajar mengajar dirancang dan diimplikasikan sebagai suatu sistem.
d. Proses dan produk belajar perlu memperoleh perhatian seimbang didalam pelaksanaan kegiata belajar-mengajar.
e. Pembentukan kompetensi profesional memerlukan pengintegrasian fungsional antara teori dan praktek serta materi dan metodelogi penyampaian.
f. Pembentukan kompetensi professional memerlukan pengalaman lapangan yang bertahap, mulai dari pengenalan medan, latihan keterampilan terbatas sampai dengan pelaksanaan penghayatan tugas-tugas kependidikan secara lengkap aktual.
g. Kriteria keberhasilan yang utama dalam pendidikan profesional adalah pendemonstrasian penguasaan kompetensi.
h. Materi pengajaran dan sistem penyampaiannya selalu berkembang.
7. Hakekat Kelembagaan
a. LPTK merupakan lembaga pendidikan profesional yang melaksanakan pendidikan tenaga kependidikan dan pengembangan ilmu teknologi kependidikan bagi peningkatan kualitas kehidupan.
b. LPTK menyelenggarakan program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat baik kualitatif maupun kuantitatif.
c. LPTK dikelola dalam suatu sistem pembinaan yang terpadu dalam rangka pengadaan tenaga kependidikan.
d. LPTK memiliki mekanisme balikan yang efektif untuk meningkatkan kualitas layanannya kepada masyarakat secara terus-menerus.
e. Pendidikan pra-jabatan guru merupakan tanggungjawab bersamaantara LPTK dan sekolah-sekolah pemakai (calon) lulusan.
Catatan : Pendidikan berdasarkan kompetensi bagi tenaga kependidikan lainnya memerlukan perangkat asumsi yang berbeda.
Secara visual beberapa asumsi tersebut diatas dapat digambarkan sebagai berikut :

B. Peranan Pendidikan di Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan suatu institusi awal bagi setiap individu manusia belajar dan berinteraksi dengan sesamanya. Sebagai suatu institusi tentunya dalam sebuah keluarga disepakati adanya aturan-aturan yang harus dipatuhi dan dikembangka Keluarga yang dimaksud disini, adalah keluarga inti yang terdiri dari Ayah, Ibu dan anak. Sebagaimana budaya ke-Timuran yang menganut asas patriakal, bahwa yang menjadi nahkoda (kepala) dalam sebuah keluarga inti adalah seorang Ayah. Karena dialah yang bertanggung jawab untuk menafkahi seluruh anggota keluarga dan juga bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarga secara utuh, termasuk mendidik anak. Dalam menjalankan perannya sebagai kepala keluarga, khususnya sebagai pendidik anak, seorang Ayah akan bekerja sama dengan istrinya, yang dalam hal ini adalah ibu dari anak-anaknya.

Selanjutnya Ayah dan Ibu disebut dengan orang tua yang mempunyai tanggung jawab penuh terhadap tumbuh kembang buah hatinya hingga mengantarnya ke gerbang kedewasaan dengan mampu berpikir, bertindak dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, masyarakat/lingkungannya dan terhadap Tuhan Penciptanya.

Bukan suatu yang berlebihan jika semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Semua orang tua mengharapkan kebahagiaan bagi anak-anaknya, baik untuk kehidupannya saat ini, dan kelak ketika si anak sudah dewasa. Bagaimana para orang tua dapat mewujudkan harapannya ini? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini, mengingat masih banyaknya kasus yang menunjukkan kegagalan orang tua dalam mendidik anaknya.

Untuk itulah kehadiran tulisan ini kiranya dapat dijadikan bahan renungan oleh para orang tua guna mencari model dalam mendidik anak-anaknya, demi terwujudnya harapan membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas secara utuh, yaitu memiliki iman dan taqwa, etika, rasa tanggung jawab serta menguasai pengetahuan dan teknologi.

II. MAKNA PENDIDIKAN KELUARGA

Kita ketahui bersama bahwa ada 3 (tiga) faktor determinan dalam proses pendidikan, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. Keluarga menjadi faktor utama dan pertama serta sangat penting dalam proses pendidikan anak. Jika pada proses awal pendidikan anak ini terdapat kesalahan, maka akan berdampak pada proses pendidikan berikutnya baik di sekolah maupun di masyarakat.

Kondisi faktual, bahwa di sekitar kita terdapat banyaknya anak-anak yang terlibat pada perilaku yang menyimpang. Ada kehidupan berkelompok dengan menamakan diri “Geng” tertentu yang mengakibatkan terjadinya tawuran antar pemuda atau pelajar/siswa, ada pula kelompok anak-anak yang melakukan vandalisme terhadap lingkungan sekitarnya atau ada juga kelompok anak-anak yang yang bersifat asosial dan selalu membuat keonaran di masyarakat baik dengan motor racing nya atau dengan sikap kriminalnya yang mabuk-mabukan dan melakukan sesuatu yang melanggar etika, norma atau hukum yang berlaku.

Banyaknya pula anak-anak yang membolos dari sekolah dan hanya duduk-duduk/nongkrong di pinggir jalan, atau jalan-jalan ke mall, diskotik dan lain sebagainya. Pertanyaannya : mengapa mereka melakukan demikian ?
Secara filosofis mengatakan bahwa perilaku menyimpang anak-anak itu lebih dominan didorong oleh kurangnya didikan orang tua. Apabila orang tua si anak memberikan didikan dan pengajaran yang baik semenjak bayi tentunya berdampak positif dengan perkembangan anak termasuk berpengaruh positif terhadap prestasi belajar di sekolah maupun interaksi dengan masyarakat sekitarnya. Keluargalah yang menjadi dasar perkembangan kepribadian anak ke depan.

Dalam keluargalah dimulainya proses internalisasi terhadap lingkungan sekitarnya dan dimulainya proses pematangan untuk menjadi orang dewasa. Yakni orang yang mampu hidup secara baik dan benar sesuai norma yang berlaku dan memiliki hati nurani serta pedoman hidup yang jelas. Sebagaimana dikatakan oleh Sigmund Freud, bahwa lima tahun pertama kehidupan anak sejak lahir sangat menentukan perkembangan kepribadian pada umur selanjutnya. Pada lima tahun pertama anak mengalami perkembangan mulai dari fase oral ( 0-1 tahun ), fase anal ( 1-3 tahun ) dan fase falik ( 3-5 tahun ).

Fase oral yakni seorang anak mulai melakukan relasi dengan ibunya melalui menyusu. Kontak yang terjadi ini terjadi secara timbal balik, seorang anak menyusu pada ibunya dan ibunya membelai, menyanyi atau mengucapkan kata-kata penuh kasih yang secara langsung akan menciptakan rasa nyaman dan aman pada si anak dan akan mengembangkan minat si anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya serta juga akan mengembangkan intelengensia si anak.

Fase anal yakni anak mulai berlatih menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, dengan aturan yang mengatur seperti kebersihan diri dan lingkungan. Peranan Ayah sangat penting pada fase ini karena ayah mempunyai kemampuan untuk memecahkan berbagai persoalan sehingga akan mendukung pula perkembangan ego anak. Ego merupakan pusat kesadaran sehingga mampu berhadapan dengan tantangan hidup yang dihadapi.

Fase falik ( phallus = penis ) yaitu fase disaat terjadi Oedipus Complex, karena terjadi persaingan antara anak dengan ayah dalam memperoleh kasih sayang ibu. Ketika ayah akrab dengan anak laki-laki maka fase ini dapat dselesaikan dengan baik. Selain sumber kekuatan kemauan dan kesadaran (ego), ayah juga menjadi simbol hidup atas dasar hati nurani ( super ego ) yang mana super ego sangat penting bagi kehidupan manusia karena memberikan pedoman hidup dan mengarahkan anak pada cita-cita hidupnya.

Anak yang lemah super ego nya memiliki watak yang kurang kuat dan mudah goyah oleh keinginan hawa nafsu, sebaliknya anak yang kuat super ego nya sangat mungkin akan diliputi kecemasan moral atau kurang toleran terhadap lingkungan.

Mencermati fase perkembangan anak pada lima tahun pertama tentunya memberikan makna bahwa pentingnya Orang tua memahami dengan baik dan benar cara mendidik anak yang berkualitas agar dapat mengemban peran dalam mendidik secara tepat sehingga langsung maupun tidak langsung telah membantu perkembangan kepribadian anak untuk berinteraksi dengan kelompok masyarakat sekitarnya.

Keberhasilan-keberhasilan yang dicapai seorang anak baik di sekolah maupun berkarier bukanlah satu-satunya indikator keberhasilan mendidik yang diperankan orang tua melainkan harus ditunjukkan pula oleh indikator lainnya, seperti indikator kecakapan hidup secara personal, yaitu: kemampuan si anak untuk beriman kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berpikir rasional, memahami diri sendiri, percaya diri, bertanggung jawab, menghargai dan menilai diri.

Juga tidak kalah penting adanya indikator kecakapan sosial, yaitu: bekerja sama, mengendalikan emosi, berinteraksi dalam budaya lokal dan global, meningkatkan potensi fisik, membudayakan sikap sportif, membudayakan sikap disiplin dan membudayakan sikap hidup sehat.

Inilah makna pentingnya pendidikan keluarga bagi perkembangan anak dan masa depan anak dalam menggumuli kehidupannya.

III. PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK

Dalam sebuah keluarga, tentunya yang sangat berperan adalah ayah dan ibu (orang tua) dalam mendidik anak. Apa saja yang harus dilakukan oleh ayah dan ibu sebagai sebuah keluarga yang ideal dalam mendidik dan mengembangkan potensi/kemampuan anak-anak :

1. Memahami makna mendidik.

Sebagai orang tua harus memahami benar apa makna dari mendidik sehingga tidak berpendapat bahwa mendidik adalah melarang, menasehat atau memerintah si anak. Tetapi harus dipahami bahwa mendidik adalah proses memberi pengertian atau pemaknaan kepada si anak agar si anak dapat memahami lingkungan sekitarnya dan dapat mengembangkan dirinya secara bertanggung jawab.

Proses memberi pengertian atau pemaknaan ini dapat melalui komunikasi maupun teladan/tindakan, contoh : jika ingin anak disiplin maka orang tua dapat memberi teladan kepada si anak akan hal-hal yang baik dan beretika atau orang tua menciptakan komunikasi dengan si anak yang dialogis dengan penuh keterbukaan, kejujuran dan ketulusan. Apabila kita mengedepankan sikap memerintah, menasehat atau melarang maka langsung ataupun tidak akan berdampak pada sikap anak yang bergaya otoriter dan mau menang sendiri. Kiranya orang tua dapat mengambil pesan moral dari sajak yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte dengan judul “Anak Belajar dari Kehidupannya”:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki / Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia akan belajar rendah diri / Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri / Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai / Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia akan belajar keadilan / Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia akan belajar menaruh kepercayaan / Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia akan belajar menghargai dirinya / Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Ada hubungan kausal antara bagaimana orang tua mendidik anak dengan apa yang diperbuat anak. Atau ibaratnya apa yang orang tua tabur itulah yang nanti akan dituai. Peran orang tua dalam mendidik anak tidak dapat tergantikan secara total oleh lembaga-lembaga persekolahan atau institusi formal lainnya. Karena bagaimanapun juga tanggung jawab mendidik anak ada pada pundak orang tua.

2. Hindari mengancam, membujuk atau menjanjikan hadiah

Dalam mendidik anak jangan memakai cara membujuk dengan menjanjikan hadiah karena hal ini akan melahirkan ketergantungan anak terhadap sesuatu hal baru dia melakuka sesuatu. Hal ini akan mematikan motivasi, kreatifitas, insiatif dan pengertian serta kemandirian mereka terhadap hal-hal yang harus dia kerjakan. Contoh : menjanjikan hadiah kalau nilai sekolahnya baik, atau mengancam tidak memberi hadiah bila nilainya rendah.

3. Hindari sikap otoriter, acuh tak acuh, memanjakan dan selalu khawatir

Seorang anak akan dapat mandiri apabila dia punya ruang dan waktu baginya untuk berkreasi sesuai dengan kemampuan dan rasa percaya diri yang dimilikinya. Ini harus menjadi perhatian bersama karena hal tersebut dapat muncul dari sikap orang tuanya sendiri yang sadar atau tidak sadar ditampakkan pada saat interaksi terjadi antara ayah dan ibu dengan anak. Sehingga anak-anak akan termotivasi untuk mengaktualisasika potensi yang ada pada dirinya tanpa adanya tekanan atau ketakutan.

4. Memahami bahasa non verbal

Memarahi anak yang melakukan kesalahan adalah sesuatu yang tidak efektif melainkan kita harus mendalami apa penyebab si anak melakukan kesalahan dan memahami perasaan si anak. Oleh karena itu perlu dikembangkan bahasa non verbal sebagai suatu upaya efektif untuk memahami masalah dan perasaan si anak. Bahasa non verbal adalah dengan memberi sentuhan, pelukan, menatap, memberi senyuman manis atau meletakkan tangan di bahu untuk menenangkan si anak, sehingga si anak merasa nyaman untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan atau perasaannya.

5. Membantu anak memecahkan persoalan secara bersama.

Pada kondisi tertentu dibutuhkan keterlibatan kita sebagai orang tua untuk memecahkan masalah yang dihadapi si anak. Dalam hal membantu anak memecahkan persoalan anak, kita harus melakukannya dengan tetap menjunjung tinggi kemandiriannya.

6. Menjaga keharmonisan dalam keluarga.

Ayah dan Ibu sering bertengkar dan berselisih bahkan melakukan kekerasan di depan anak-anak, sehingga anak-anak mencontoh dengan bertindak tidak menghargai teman sebayanya atau melakukan kekerasan pula pada temannya.

Demikian beberapa hal yang mestinya dijadi perhatian oleh para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Diakui bahwa hal tersebut di atas dapat ditambahkan dengan hal lain yang positif agar menjadi perbendaharaan pengetahuan dalam mendidik, namun yang terutama dari semua itu adalah orang tua harus “bagaimana menciptakan dan membangun komunikasi yang efektif” dengan anak. Karena hal ini akan secara langsung menjaga dan memelihara kedekatan secara emosional dengan anaknya sehingga dapat mencegah perilaku menyimpang dari si anak. Dalam komunikasi juga perlu ditanamkan sikap optimisme pada anak, mengembangkan sikap keterbukaan pada anak dan perlu mengajarkan tata krama pada anak.

IV. HUBUNGAN LOGIS PENDIDIKAN KELUARGA DENGAN MASA DEPAN ANAK.

Memahami pentingnya pendidikan keluarga tersebut di atas, maka diperoleh kesimpulan bahwa keberhasilan seorang anak dalam sekolah atau berkarier adalah sangat bergantung pada sejauhmana keterlibatan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Dapat digambarkan hubungan logisnya sebagai barikut :

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pendidikan keluarga sangat penting bagi masa depan anak. Masa depan yang diharapkan oleh setiap orang tua terhadap anak-anaknya adalah: memiliki pengetahuan yang memadai dan kemandirian hidup, bertanggung jawab, beretika dan bermoral, serta yang pastinya adalah dicapainya kebahagiaan hidup anak saat ini dan kelak ketika dewasa.

Demikian pencerahan yang dituangkan dalam tulisan ini, kiranya menjadi motivasi bagi setiap orang tua untuk lebih bertanggung jawab terhadap masa depan anak. Keberhasilan anak dalam pendidikan formal atau dalam berkarier tidak tergantung hanya pada institusi sekolah dan lingkunan masyarakat melainkan sangat bergantung pada kualitas pendidikan yang diberikan dalam lembaga keluarga yang dibangun.

Akhirnya saya mengajak Bapak/Ibu para pembaca yang budiman kiranya dalam mengemban tugas sebagai orang tua agar jadilah pendidik yang berkualitas dengan tetap menjunjung kemerdekaan berpendapat dan kemandirian si anak, maka niscaya kita memiliki generasi penerus bangsa yang berkualitas dan kompetitif dalam membangun Provinsi Nusa Tenggara Timur tercinta khususnya dan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada umumnya.

“Setiap anak itu dilahirkan menurut fitrahnya, maka hanya keduaorangtuanyalah yang akan menjadikannya seorang Yahudi, seorang Nasrani, atau seorang Majusi ” (HR. Bukhari).
Sabda Rasulullah SAW diatas, merupakan satu hal penting yang menujukkan fitrah seorang anak yang terlahir layaknya selembar kertas putih dan nantinya orang terdekatnya yaitu kedua orangtuanya yang akan menggoreskan warna apa yang mereka bubuhkan dalam lembaran putih yang masih suci tersebut.
Warna yang ada itulah yang akan menjadi dasar bagi seorang anak untuk tumbuh dan nantinya berkembang menjadi sosok manusia yang tidak akan jauh berbeda dengan bekal yang ia dapat. Orangtua yang terdiri dari ayah dan ibu adalah dua orang yang paling bertanggungjawab dalam memelihara dan menjaga amanah yang telah ALLAH SWT berikan. Keduanya memiliki peran yang penting dalam pertumbuhan seorang anak. Namun, dalam pelaksanaannya peran seorang ibulah yang sebenarnya paling menentukan pendidikan seperti apa yang akan ia terapkan. Jikalau kita bertanya, mengapa peran ummahat (kaum ibu) lebih berperan maka jawabnya adalah karena memang ummahat adalah pihak yang paling merasakan perjuangan dalam masa tumbuh kembang anak sejak ia dalam kandungan, dilahirkan hingga nantinya membesarkan. Alasan yang lain karena memang waktu kebersamaan seorang anak dalam masa pertumbuhannya lebih banyak ia habiskan bersama ibunya dibandingkan dengan waktu kebersamaannya dengan ayahnya.

Dalam hal ini, dengan tidak menafikan sebuah peran ayah dalam mendidik putranya, kita melihat bahwasannya memang adanya pembagian tugas dalam kehidupan berumahtangga. Seorang ayah lebih berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan cara menafkahi dan seorang ummahat lebih berperan dalam menjaga amanah dari suaminya untuk memelihara harta, termasuk didalamnya adalah amanah menjaga anak. Hal tersebut tampak pada sabda Rasulullah yang mengatakan bahwa “Dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah “. Lalu bila kita bertanya, siapakah wanita shalihah itu, “Kalau dipandang menyenangkan hati, kalau diperintah ia taat, kalau ditinggal pergi ia menjaga diri dan harta suaminya”.

Secara otomatis, ummahat adalah pihak yang paling menentukan. bagaimana proses sebuah tahap mendidik itu akan berlangsung dengan baik dan benar. Mendidik anak termasuk didalamnya memenuhi kebutuhannya baik itu secara jasmani maupun rohani adalah sebuah tahapan yang tidak bisa dikatakan mudah. Perlu ilmu serta pengalaman yang mencukupi agar seorang anak didik dapat tumbuh menjadi anak yang baik. “Baik” dalam konteks ini adalah anak yang sholeh dan sholehah. Nah, pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana mungkin seorang ibu yang tidak sholehah berharap akan mampu mendidik anak yang harapannya nanti berbudi pekerti baik serta memiliki landasan agama yang baik pula. Jadi, dalam hal ini tuntutan untuk melahirkan anak sholeh terkait erat dengan pihak ummahat yang bersangkutan. Persiapan untuk menjadi ummahat yang sholehah adalah sebuah proses panjang yang harus dipersiapkan oleh setiap calon ummahat yang ingin melahirkan generasi yang terbaik.

Kapankah saatnya calon ummahat untuk belajar menjadi ummahat yang terbaik. Jawabnya adalah sedini mungkin, semenjak akhil baligh telah ia lalui, maka kewajibannya tidak hanya menjadi seorang anak yang patuh kepada orangtuanya tetapi ia juga harus belajar untuk bersiap diri menjadi ummahat yang terbaik.

Ada beberapa langkah praktis dalam mempersiapkan diri menjadi ummahat, yang dimulai smenjak dini, langkah tersebut adalah :
1. Persiapan Ilmu

Ilmu disini adalah ilmu yang mencakup untuk semua konteks kehidupan. Ilmu agama adalah pegangan yang utama dan ilmu-ilmu yang lain merupakan bekal pendukung yang akan membantu calon ummahat untuk mengenali lingkungan dan memperoleh wawasan umum seluas-luasnya. Ilmu itulah yang nantinya akan berguna bagi dirnya serta bagi orang-orang disekitarnya, termasuk didalamnya adalah ilmu mendidik anak. Untuk mendapatkan ilmu itu, berbagai hal dapat ia lakukan seperti membaca buku,, bertanya pada ustadz, berdiskusi dengan teman hingga secara langsung bertanya tentang pengalaman pada seorang ummahat dalam membesarkan anak.
2. Persiapan Mental

Fitrah seorang wanita nantinya adalah menjadi seorang ummahat. Hal inilah yang harus disadari bagi seorang calon ummahat. Usia tertentu bukanlah tolak ukur yang patut kita kategorikan sebagai waktu yang matang utnuk memikirkan masa depan. Sedini mungkin seorang calon ummahat harus menyadari perannya kelak akan ikut menentukan nasib generasi mendatang. Kesadaran akan peran penting yang akan disandang inilah yang nantinya dapat menjadi sebuah rem untuk calon ummahat dalam berperilaku dan bertindak. Menjadikan Islam sebagai landasan utama dan tujuan untuk melahirkan generasi Robbani yang terbaik akan menghadirkan kehati-hatian calon ummahat dalam menjalani hidupnya. Bagimana mungkin ia berharap dapat melahirkan generasi terbaik, bila dirinya sendiri tidak dapat mencerminkan sebagai pribadi yang baik.
3. Persiapan Ketrampilan

Ketrampilan disini merupakan aplikasi dari sebauh ilmu yang diwujudkan secara langsung pada tindakan yang nyata. Ketrampilan yang berhubungan dengan kehidupan rumah tangga harusnya mulai dipelajari sedini mungkin. Sebuah proses belajar itulah yang nantinya akan menjadi jalan terwujudnya ummahat yang terampil dan nantinya mampu menjadi diri yang mandiri. Selain itu, persiapan sedini mungkin akan lebih baik sifatnya, karena ia akan memiliki waktu belajar yang lebih lama dan akhirnya memiliki banyak pengalaman. Penglaman-penglaman yang telah dilalui tersebut tentunya akan menjadi guru yang terbaik untuknya.
4. Persiapan Kesabaran

Sabar adalah sebuah kata yang mendamaikan, mudah dikatakan tetapi tak semudah itu untuk dilaksanakan. Sabar secara garis besar terbagi dalam tiga hal, yaitu sabar dalam ketaatan, sabar dalam kemaksiatan dan sabar dalam menerima cobaan, Sabar adalah tampak dalam kelapangan daada, dan adanya keyakinan bahwasannya akan datang petolongan ALLAH SWT yang akan diberikan kepada orang-orang yang bersabar.
“Fainna ma’al’usri yusraa inna ma’al usli yusraa’ Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Inilah yang dapat dijadikan sebagai calon ummahat. Janji ALLAH SWT akan kemudahan yang akan diberikan setelah kita melalui berbagai kesulitan. Persiapan menjadi ummahat yang tangguh bukanlah persiapan mudah yang tanpa melalui banyak cobaan serta tantangan. Maka, kesabaran yang bertahta dalam diri akan lebih membantu bagi seorang muslimah saat ia menjadi calon ummahat atau nantinya ia telah berperan sebagai ummahat sesungguhnya.
Itulah beberapa hal yang sebaiknya diketahui sedini mungkin bagi calon ummahat yang nantinya ingin melahirkan generasi Robbani terbaik yang akan menjadi ladang amal baginya dan akan mewujudkan generasi penerus yang cerdas dan tangguh karena Al-Quran dan As-Sunnah selalu dijadikan pegangan.
Proses Pendidikan
Pendidikan merupakan proses transformasi budaya. Pendidikan merupakan proses pewarisan budaya, dan sekaligus pengembangan budaya. Education enables people and societies to be what they can be. Pendidikan membuat manusia dan masyarakat menjadi apa yang mereka inginkan. Demikian Bill Richardson berpesan kepada kita.
• Untuk mewariskan budaya tersebut, proses pendidikan dilakukan melalui tiga upaya yang saling kait mengait, yaitu: (1) pembiasaan (habit formation), (2) proses pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning process), dan (3) keteladanan (role model). Secara lebih lengkap, bacalah tulisan Fuad Hassan, mantan Mendikbud, dalam buku referensi Pendidikan Manusia Indonesia (Widiastono, 2004: 52).
• Immanuel Kant menyebutkan bahwa manusia merupakan animal educancum dan animal educandus, mahluk yang dapat dididik dan dapat mendidik. Oleh karena itu, maka sama sekali tidak benar jika ada pernyataan yang menyatakan bahwa “anak itu tidak dapat dididik”. Tidak! Proses dan metode yang digunakanlah yang kemungkan tidak tepat digunakan. Justru anak manusia akan menjadi manusia jika melalui proses pendidikan, melalui ketiga upaya tersebut.
• Manusia adalah pengemban budaya (culture bearer), dan dia akan mewariskan kebudayaannya tersebut kepada keturunannya. Proses pendidikan tidak lain merupakan proses transformasi budaya, yakni proses untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda.
• Pengertian pendidikan jauh lebih luas dari pengertian pengajaran. Proses pendidikan bukan hanya sebagai pengalihan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik (transfer of knowledge and skills) tetapi juga pengalihan nilai-nilai sosial dan budaya (transmission of social and culture values and norms). Untuk memperdalam pemahaman Anda tentang hal ini, cobalah buat tabel yang membedakan antara keduanya. Baca buku referensi, dan cari materi yang terkait dengan perbedaan pendidikan dan pengajaran.

Pendidikan Sebagai Kegiatan Ilmu dan Seni
Masalah pendidikan mikro yang menjadi focus disini khususnya ialah dasar dan landasan pendidikan serta landasan ilmu pendidikan yaitu manusia atau sekelompok kecil manusia dalam fenomena pendidikan.
1. Pendidikan dalam Praktek Memerlukan teori
Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek di lapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori dalam arti seperangkat alasan dan rasional yang konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan, seketika dan aji mumpung. Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Sebabnya ialah karena unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan adalah makhluk manusia yang harus menghayati nilai-nilai agar mampu mendalami nilai-nilai dan menata perilaku serta pribadi sesuai dengan harkat nilai-nilai yang dihayati itu.
Kita baru saja menyaksikan pendidikan di Indonesia gagal dalam praktek berskala makro dan mikro yaitu dalam upaya bersama mendalami, mengamalkan dan menghayati Pancasila. Lihatlah bagaimana usaha nasional besar-besaran selama 20 tahun (1978-1998) dalam P-7 (Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) berakhir kita nilai gagal menyatukan bangsa untuk memecahkan masalah nasional suksesi kepresidenan secara damai tahun 1998, setelah krisis multidimensional melanda dan memporakporandakan hukum dan perekonomian negara mulai pertengahan tahun 1997, bahkan sejak 27 Juli 1996 sebelum kampanye Pemilu berdarah tahun 1997. itu adalah contoh pendidikan dalam skala makro yang dalam teorinya tidak pas dengan Pancasila dalam praktek diluar ruang penataran. Mungkin penatar dan petatar dalam teorinya ber-Pancasila tetapi didalam praktek, sebagian besar telah cenderung menerapkan Pancasila Plus atau Pancasila Minus atau kedua-duanya. Itu sebabnya harus kita putuskan bahwa P-7 dan P-4 tidak dapat dipertanggungjawabkan, setidak-tidaknya secara moral dan sosial. Mari kita kembali berprihatin sesuai ucapan Dr. Gunning yang dikutip Langeveld (1955).
2. Pendidikan Sebagai Kegiatan Ilmu
Masalah pendidikan mikro yang menjadi fokus di sini khususnya ialah dasar dan landasan pendidikan serta landasan ilmu pendidikan yaitu manusia atau sekelompok kecil manusia dalam fenomena pendidikan.

1. Pendidikan dalam Praktik Memerlukan teori
Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktik di lapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktik harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori, tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan, seketika, dan aji mumpung.
Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral
Mari kita kembali berprihatin sesuai ucapan Dr. Gunning yang dikutip Langeveld (1955). “Praktek tanpa teori adalah untuk orang idiot dan gila, sedangkan teori praktek hanya untuk orang-orang jenius”.
Itu berarti bahwa sebaiknya pendidikan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang mampu bertanggung jawab secara rasional, sosial, dan moral. Sebaliknya apabila pendidikan dalam praktik dipaksakan tanpa teori dan alasan yang memadai maka hasilnya adalah bahwa semua pendidik dan peserta didik akan merugi. Dalam hal ini kita bukan menyaksikan kegiatan (praktik) pendidikan tanpa dasar teorinya, tetapi suatu praktik pendidikan tanpa suatu teori yang baik.

2. Landasan Sosial dan Individual Pendidikan
Pendidikan sebagai gejala sosial dalam kehidupan mempunyai landasan individual, sosial, dan cultural. Pada skala mikro pendidikan bagi individu dan kelompok kecil berlangsung dalam skala relatif terbatas seperti antara sesama sahabat, antara seorang guru dengan satu atau sekelompok kecil siswanya, serta dalam keluarga antara suami dan isteri, antara orang tua dan anak serta anak lainnya.
Pendidikan dalam skala mikro diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang semua potensinya dalam arti perangkat pembawaanya yang baik dengan lengkap. Pada tingkat dan skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang mengandalkan interaksi manusia sebagai sesama (subyek) yang masing-masing bernilai setara.
Pada skala makro pendidikan berlangsung dalam ruang lingkup yang besar seperti dalam masyarakat antardesa, antarsekolah, antarkecamatan, antarkota, masyarakat antarsuku dan masyarakat antarbangsa. Dalam skala makro masyarakat melaksanakan pendidikan bagi regenerasi sosial yaitu pelimpahan harta budaya dan pelestarian nilai-nilai luhur dari suatu generasi kepada generasi muda dalam kehidupan masyarakat.
Pada skala makro ini pendidikan sebagai gejala sosial sering terwujud dalam bentuk komunikasi terutama komunikasi dua arah. Dilihat dari sisi makro, pendidikan meliputi kesamaan arah dalam pikiran dan perasaan yang berakhir dengan tercapainya kemandirian oleh peserta didik. Maka pendidikan dalam skala makro cenderung dinilai bersifat konservatif dan tradisional karena sering terbatas pada penyampaian bahan ajar kepada peserta didik dan bisa kehilangan ciri interaksi yang afektif.

C. Ilmu Pendidikan
Uraian di atas mengisyaratkan bahwa praktik pendidikan sebagai ilmu yang sekadar rangkaian fakta empiris dan eksperimental akan tidak lengkap dan tidak memadai. Fakta pendidikan sebagai gejala sosial tentu sebatas sosialisasi dan itu sering beraspirasi daya serap kognitif dibawah 100 % (bahkan 60 %). Sedangkan pendidikan nilai-nilai akan menuntut siswa menyerap dan meresapi penghayatan 100 % melampaui tujuan-tujuan sosialisasi, mencapai internaliasasi (mikro) dan hendaknya juga enkulturasi (makro). Itulah perbedaan esensial antara pendidikan (yang menjalin aspek kognitif dengan aspek afektif) dan kegiatan mengajar yang paling-paling menjalin aspek kognitif dan psikomotor. Dalam praktek evaluasinya kegiatan pengajaran sering terbatas targetnya pada aspek kognitif. Itu sebabnya diperlukan perbedaan ruang lingkup dalam teori antara pengajaran dengan mengajar dan mendidik.

1. Pedagogik sebagai ilmu murni menelaah fenomena pendidikan
Jelaslah bahwa telaah lengkap atas tindakan manusia dalam fenomena pendidikan melampaui kawasan ilmiah dan memerlukan analisis yang mandiri atas data pedagogic (pendidikan anak) dan data andragogi (Pendidikan orang dewasa). Adapun data itu mencakup fakta dan nilai serta jalinan antara keduanya.
Data faktual tidak berasal dari ilmu lain tetapi dari objek yang dihadapi (fenomena) yang ditelaah Ilmuwan itu (pedagogi dan andragogi) secara empiris. Begitu pula data nilai (yang normative) tidak berasal dari filsafat tertentu melainkan dari pengalaman atas manusia secara hakiki. Itu sebabnya pedagogi dan andragogi memerlukan jalinan antara telaah ilmiah dan telaah filsafah. Tetapi tidak berarti bahwa filsafat menjadi ilmu dasar karena ilmu pendidikan tidak menganut aliran atau suatu filsafat tertentu.

2. Telaah ilmiah dan kontribusi ilmu bantu
Bidang masalah yang ditelaah oleh teori pendidikan sebagai ilmu ialah sekitar manusia dan sesamanya yang memiliki kesamaan dan keragaman di dalam fenomena pendidikan. Yang menjadi inti ilmu pendidikan teoritis ialah Pedagogik sebagai ilmu mendidik yaitu mengenai tealaah atau studi pendidikan anak oleh orang dewasa.
Pedagogik teoritis selalu bersifat sistematis karena harus lengkap problematik dan pembahasannya. Tetapi pendidikan (pedagogi) diperlukan juga oleh semua orang termasuk orang dewasa dan lanjut usia.

D. Filsafat Ilmu Pendidikan
Filsafat keilmuan terkait dalam arti dasar ontologis, dasar epistemologis dan aksiologis, dan dasar antropolgis ilmu pendidikan.

1. Dasar ontologis ilmu pendidikan
Agar pendidikan dalam praktik terbebas dari keragu-raguan, maka objek formal ilmu pendidikan dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam fenomena atau situasi pendidikan. Di dalam situiasi sosial manusia itu sering berperilaku tidak utuh, hanya menjadi makhluk berperilaku individual atau makhluk sosial yang berperilaku kolektif. Hal itu boleh-boleh saja dan dapat diterima terbatas pada ruang lingkup pendidikan makro yang berskala besar mengingat adanya konteks sosio-budaya yang terstruktur oleh sistem nilai tertentu. Akan tetapi, pada latar mikro sistem nilai harus terwujud dalam hubungan inter dan antar pribadi yang menjadi syarat mutlak (conditio sine qua non) bagi terlaksananya mendidik dan mengajar, yaitu kegiatan pendidikan yang berskala mikro.
Hal itu terjadi mengingat pihak pendidik yang berkepribadian sendiri secara utuh memperlakukan peserta didiknya secara terhormat sebagai pribadi pula, terlepas dari faktor umum, jenis kelamin ataupun pembawaanya. Jika pendidik tidak bersikap afektif utuh demikian maka menurut Gordon (1975: Ch. I) akan terjadi mata rantai yang hilang (the missing link) atas faktor hubungan serta didik-pendidik atau antara siswa-guru. Dengan begitu pendidikan hanya akan terjadi secara kuantitatif sekalipun bersifat optimal, misalnya hasil THB summatif, NEM atau pemerataan pendidikan yang kurang mengajarkan demokrasi jadi kurang berdemokrasi. Sedangkan kualitas manusianya belum tentu utuh.

2. Dasar epistemologis ilmu pendidikan
Dasar epistemologis diperlukan oleh pendidik atau pakar ilmu pendidikan demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Sekalipun pengumpulan data di lapangan sebagaian dapat dilakukan oleh tenaga pemula, telaah atas objek formil ilmu pendidikan memerlukaan pendekatan fenomenologis yang akan menjalin studi empirik dengan studi kualitatif-fenomenologis.
Pendekaatan fenomenologis itu bersifat kualitatif, artinya melibatkan pribadi dan diri peneliti sabagai instrumen pengumpul data secara pasca positivisme. Karena itu penelaah dan pengumpulan data diarahkan oleh pendidik atau ilmuwan sebagai pakar yang jujur dan menyatu dengan objeknya. Dengan demikian uji kebenaran pengetahuan sangat diperlukan secara korespondensi, secara koheren dan sekaligus secara praktis dan atau pragmatis (Randall &Buchler,1942).

3. Dasar aksiologis ilmu pendidikan
Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu, nilai ilmu pendidikan tidak hanya bersifat intrinsik sebagai ilmu seperti seni untuk seni, melainkan juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah dasar-dasar kemungkinan bertindak dalam praktik melalui kontrol terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan pengaruh yang positif dalam pendidikan.
Dengan demikian, ilmu pendidikan tidak bebas nilai mengingat hanya terdapat batas yang sangat tipis antar pekerjaan ilmu pendidikan dan tugas pendidik sebagi pedagok. Dalam hal ini relevan sekali untuk memperhatikan pendidikan sebagai bidang yang sarat nilai seperti dijelaskan oleh Phenix (1966). Itu sebabnya pendidikan memerlukan teknologi pula tetapi pendidikan bukanlah bagian dari iptek. Namun harus diakui bahwa ilmu pendidikan belum jauh pertumbuhannya dibandingkan dengan kebanyakan ilmu sosial dan ilmu prilaku.

4. Dasar antropologis ilmu pendidikan
Pendidikan yang intinya mendidik dan mengajar ialah pertemuan antara pendidik sebagai subjek dan peserta didik sebagai subjek pula dimana terjadi pemberian bantuan kepada pihak yang belakangan dalam upayanya belajar mencapai kemandirian dalam batas-batas yang diberikan oleh dunia di sekitarnya. Atas dasar pandangan filsafat yang bersifat dialogis ini maka 3 dasar antropologis berlaku universal tidak hanya (1) sosialitas dan (2) individualitas, melainkan juga (3) moralitas.

E. Perangkat Asumsi Filosofis Pendidikan Guru
Program Pendidikan Guru Berdasarkan Kompetensi (PGBK) dikembangkan bertolak dari perangkat kompetensi yang diperkirakan dipersyaratkan bagi pelaksanaan tugas-tugas keguruan dan kependidikan yang telah ditetapkan dan bermuara pada pendemonstrasian perangkat kompetensi tersebut oleh siswa calon guru setelah mengikuti sejumlah pengalaman belajar.
Perangkat kompetensi yang dimaksud, termasuk proses pencapaiannya, dilandasi oleh asumsi-asumsi filosofis, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang dianggap benar, baik atas dasar bukti-bukti empirik, dugaan-dugaan maupun nilai-nilai masyarakat berdasarkan Pancasila. Asumsi-asumsi tersebut merupakan batu ujian di dalam menilai perancangan dan implementasi program dari penyimpangan-penyimpangan pragmatis ataupun dari serangan-serangan konseptual.
Asumsi-asumsi yang dimaksud mencakup 7 bidang yaitu yang berkenaan dengan hakekat-hakekat manusia, masyarakat, pendidikan, subjek didik, guru, belajar-mengajar dan kelembagaan. Tentu saja hasil kerja tersebut perlu dimantapkan dan diverifikasi lebih jauh melalui forum-forum yang sesuai seperti Komisi Kurikulum, Konsorsium Ilmu Kependidikan.

Diposkan oleh: Syafwi Khalil

Fungsi Supervisi Pendidikan

March 16th, 2012

Menurut Marks (Made Pidarta, 2009:84)

  • Sebagai perantara dalam menyampaikan minat para siswa, orang tua, dan program sekolah kepada pemerintah dan badan-badan kompeten lainnya
  • Memantau penggunaan dan hasil-hasil sumber belajar
  • Merencanakan program pendidikan untuk generasi selanjutnya
  • Mengembangkan program baru untuk jabatan baru yang diperkirakan dapat muncul
  • Mengintegrasikan program yang diajukan pemerintah, ekonomi, perdagangan, dan industri
  • Menilai dan meningkatkan pengertian gaya hidup
  • memilih inovasi yang konsisten dengan masa depan

Made Pidarta mengingatkan agar supervisor tetap mengembangkan profesi guru dengan tidak mengabaikan politik negara supaya tetap profesional. Jangan semata-mata memandang politik negara saja, karena nanti supervisor, kepala sekolah dan guru hanya akan menjadi alat negara sehingga profesionalitas mereka akan hilang dan tidak ahli lagi di bidangnya. (2009:84)

SUPERVISI PENDIDIKAN

March 16th, 2012

1. Definisi Supervisi Pendidikan

Istilah supervisi pendidikan dibangun dari dua kata: supervisi dan pendidikan. Dalam uraian uraian berikut hanya istilah supervise yang lebih banyak diberbicarakan dari pendidikan, karena istilah pendidikan (education) lebih lengkap telah dikupas habis dalam mata kuliah Dasar-Dasar Kependidikan. Supervisi adalah istilah yang relative baru dikenal di dunia pendidikan di Indonesia (lihat sejarah supervisi), karena itu perlu uraian secara lengkap tentang pengertiannya, yang akan dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu dari sudut etimologis, morfologis, dan semantik.

Secara etimologis, kata supervisi berasal dari bahasa Inggris, yaitu supervision, artinya pengawasan. Oteng (1983: 222) mengatakan bahwa penggunaan istilah supervisi sering diartikan sama dengan directing atau pengarahan. Sementara Suharsimi (1988: 152) mengatakan bahwa memang sejak dulu banyak orang menggunakan istilah pengawasan, penilikan atau pemeriksaan untuk istilah supervisi, demikian pula pada zaman Belanda orang mengenal istilah inspeksi.

Secara morfologis, kata supervisi terdiri atas dua kata, super dan visi (super dan vision). Menurut Ametembun (1981: 1) super berarti atas atau lebih, sedangkan visi berarti lihat, tilik, dan awasai. Jadi supervisi berarti melihat, menilik dan mengawasi dari atas; atau sekaligus menunjukan bahwa orang yang melaksanakan supervise berada lebih tinggi dari orang yang dilihat, ditilik, dan diawasi.

Secara sematik Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya.

2. Ruang Lingkup Supervisi Pendidikan

Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa materi supervisi pendidikan telah mulai diperkenalkan mata kuliah Dasar-Dasar Administrasi Pendidikan, yang menunjukkan bahwa materi supervisi tidak terlepas dari Administrasi Pendidikan pada umumnya. Rifai (1982: 124) mengatakan, bahwa di mana ada administrasi harus ada supervisi, dan jika ada supervisi tentu ada suatu yang dilaksanakan, ada administrasi sesuatu.

Dengan demikian, kedudukan supervisi pendidikan sama pentingnya dengan administrasi pendidikan, namun secara hirarkis supervisi merupakan salah satu fase atau tahap dari administrasi. Thomas H Briggs dalam Rifai (1982: 225) menegaskan, bahwa supervisi merupakan bagian atau aspek dari administrasi. Khususnya yang mengenai usaha peningkatan guru sampai kepada taraf penampilan tertentu. Sarwoto (1985: 104) menjelaskan bahwa secara teoritis yang menjadi objek supervisi ada dua aspek, yaitu:

  1. Aspek manusianya, seperti sikap terhadap tugas, disiplin kerja, moral kerja, kejujuran, ketaatan terhadap peraturan organisasi, kerajinan, kecakapan kerja, kemampuan dalam bekerja sama, watak;
  2. Aspek kegiatannya, seperti cara bekerja kerja (cara mengajar), metoda pendekatan terhadap siswa, efisiensi kerja, dan hasil kerja.

Pendapat Sarwoto ini secara jelas membedakan apa yang menjadi objek pengawasan (controlling) dan supervisi (supervision).

3. Tujuan Supervisi Pendidikan

Tujuan utama supervisi adalah memperbaiki pengajaran. Tujuan umum Supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru dan staf agar personil  tersebut mampu meningkatkan kwalitas kinerjanya, dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan proses belajar mengajar .

Secara operasional dapat dikemukakan beberapa tujuan konkrit dari supervisi pendidikan yaitu:

A. Meningkatkan mutu kinerja guru

1.  Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai tujuan tersebut

2.  Membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya.

3.  Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif, bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai satu dengan lainnya.

4. Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa.

5. Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan alat pengajaran.

6. Menyediakan sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang dapat membantu guru dalam pengajaran.

7. Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk reposisi guru.

B. Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik

C. Meningkatkan keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa

D. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan.

E. Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi yang tenang dan tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang menunjukkan keberhasilan lulusan.

Adapun sasaran utama dari pelaksanaan kegiatan supervisi tersebut adalah  peningkatan kemampuan profesional guru (Ngalim ,2003)

Sasaran Supervisi Ditinjau dari objek yang disupervisi, ada 3 macam bentuk supervisi:
1. Supervisi Akademik

Menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik, yaitu hal-hal yang berlangsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu

2. Supervisi Administrasi

Menitikberatkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran.

3. Supervisi Lembaga

Menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada di sekolah. Supervisi ini dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan. Misalnya: Ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), Perpustakaan dan lain-lain.

Supervisi yang baik akan menghasilkan pola kinerja yang baik, jika supervise dilakukan dengan cara dan metode yang benar pula, tentu ini menuntut pengetahuan yang benar pula bagi para supervisi dalam melaksanakan tugasnya.

  1. Tujuan Umum Supervisi pendidikan

a)      Berdasarkan Tujuan Umum Pendidikan
Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia “dewasa” yang
sanggup berdiri sendiri.

b)       Berdasarkan Tujuan Pendidikan Nasional
Yaitu membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia-manusia
pembangunan yang dewasa dan pancasilais.

c)      Berdasarkan Tujuan Supervisi sendiri
Agar tercapai perbaikan situasi pendidikan dan pengajaran pada umumnya
dan peningkatan mutu mengajar pada khususnya

  1. Tujuan Khusus Supervisi Pendidikan

a)      Membantu guru-guru untuk lebih memahami tujuan yang sebenarnya dari pendidikan dan perencanaan sekolah dalam usaha mencapai tujuannya.

b)      Membantu guru-guru untuk dapat lebih menyadari dan memahami kebutuhan- kebutuhan dan kesulitan-kesulitan murid dan menolong mereka untuk mengatasinya.

c)      Memperbesar kesanggupan guru-guru untuk memperlengkapi dan mempersiapkan murid-muridnya menjadi anggota masyrakat yang efektif.

d)      Membantu guru-guru mengadakan diagnose secara kritis aktivitas-aktivitasnya, serta kesulitan- kesulitan mengajar dan belajar murid-muridnya, dan menolong mereka merencanakan perbaikan.

e)      Membantu guru-guru untuk dapat menilai aktivitas-aktivasnya dalam rangka tujuan perkembangan anak-anak.

f)        Memperbesar kesadaran guru-guru terhadap tata kerja yang demokratis dan guru dapat mempelajari bersama catatan-catatan tentang kemajuan murid guna menilai keefektivan program yang disusun.

g)      Memperbesar ambisi guru-guru untuk meningkatkan mutu karyanya secara maksimal dalam bidang profesi (keahlianya).

h)      Membantu guru-guru untuk dapat lebih memamfaatkan pengalaman-pengalamannya sendiri.

i)        Membantu untuk lebih mempopulerkan sekolah kepada masyarkat agar bertambah simpati dan kesedian masyarakat untuk menyokong sekolah.

j)        Memperkenalkan guru-guru atau karyawan baru kepada situasi sekolah profesinya.

k)      Melindungi guru-guru dan karyawan terhadap tuntutan-tuntutan yang tak wajar dan kritik-kritik yang tak sehat dari masyarkat.

l)        Mengembangkan “profesionalisme” guru-guru.

4. Fungsi Supervisi Pendidikan

Fungsi supervisi adalah memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar guru di kelas yang pada gilirannya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Bukan saja memperbaiki kemampuan mengajar tetapi juga mengembangkan potensi kualitas guru (Sahertian, 2000:19).Permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi di lingkungan pendidikan dasar adalah bagaimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang konstruktif dan kreatif, yaitu sikap yang menciptakan situasi dan relasi di mana guru-guru merasa aman dan diterima sebagai subjek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu, supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang objektif (Sahertian, 2000:20).Supandi (1986:252), menyatakan bahwa ada dua hal yang mendasari pentingnya supervisi dalam proses pendidikan.

a)      Perkembangan kurikulum merupakan gejala kemajuan pendidikan.
Perkembangan tersebut sering menimbulkan perubahan struktur maupun fungsi kurikulum. Pelaksanaan kurikulum tersebut memerlukan penyesuaian yang terus-menerus dengan keadaan nyata di lapangan. Hal ini berarti bahwa guru-guru senantiasa harus berusaha mengembangkan kreativitasnya agar daya upaya pendidikan berdasarkan kurikulum dapat terlaksana secara baik. Namun demikian, upaya tersebut tidak selamanya berjalan mulus. Banyak hal sering menghambat, yaitu tidak lengkapnya informasi yang diterima, keadaan sekolah yang tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum, masyarakat yang tidak mau membantu, keterampilan menerapkan metode yang masih harus ditingkatkan dan bahkan proses memecahkan masalah belum terkuasai. Dengan demikian, guru dan Kepala Sekolah yang melaksanakan kebijakan pendidikan di tingkat paling mendasar memerlukan bantuan-bantuan khusus dalam memenuhi tuntutan pengembangan pendidikan, khususnya pengembangan kurikulum.

b)      Pengembangan personel, pegawai atau karyawan senantiasa merupakan upaya yang terus-menerus dalam suatu organisasi.
Pengembangan personal dapat dilaksanakan secara formal dan informal. Pengembangan formal menjadi tanggung jawab lembaga yang bersangkutan melalui penataran, tugas belajar, loka karya dan sejenisnya. Sedangkan pengembangan informal merupakan tanggung jawab pegawai sendiri dan dilaksanakan secara mandiri atau bersama dengan rekan kerjanya, melalui berbagai kegiatan seperti kegiatan ilmiah, percobaan suatu metode mengajar, dan lain sebagainya.Kegiatan supervisi pengajaran merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan dalam penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan kegiatan supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam memberikan pembinaan kepada guru. Hal tersebut karena proses belajar-mengajar yang dilaksakan guru merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu kegiatan supervisi dipandang perlu untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran.

Hal-hal yang diamati pengawas sekolah ketika melakukan kegiatan supervisi untuk memantau kinerja kepala sekolah, di antaranya administrasi sekolah, meliputi:

1)      Bidang Akademik, mencakup kegiatan:(a) menyusun program tahunan dan semester,(b) mengatur jadwal pelajaran,(c) mengatur pelaksanaan penyusunan model satuan pembelajaran,(d) menentukan norma kenaikan kelas,(e) menentukan norma penilaian,(f) mengatur pelaksanaan evaluasi belajar,(g) meningkatkan perbaikan mengajar,(h) mengatur kegiatan kelas apabila guru tidak hadir, dan (i) mengatur disiplin dan tata tertib kelas.

2)       Bidang Kesiswaan, mencakup kegiatan:(a) mengatur pelaksanaan penerimaan siswa baru berdasarkan peraturan penerimaan siswa baru, (b) mengelola layanan bimbingan dan konseling,(c) mencatat kehadiran dan ketidakhadiran siswa, dan(d) mengatur dan mengelola kegiatan ekstrakurikuler.

3)      Bidang Personalia, mencakup kegiatan: (a) mengatur pembagian tugas guru,(b) mengajukan kenaikan pangkat, gaji, dan mutasi guru,(c) mengatur program kesejahteraan guru,(d) mencatat kehadiran dan ketidakhadiran guru, dan(e) mencatat masalah atau keluhan-keluhan guru.

4)      Bidang Keuangan, mencakup kegiatan:(1) menyiapkan rencana anggaran dan belanja sekolah,(2) mencari sumber dana untuk kegiatan sekolah,(3) mengalokasikan dana untuk kegiatan sekolah, dan(4) mempertanggungjawab-kan keuangan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

5)      Bidang Sarana dan Prasarana, mencakup kegiatan:(1) penyediaan dan seleksi buku pegangan guru,(2) layanan perpustakaan dan laboratorium,(3) penggunaan alat peraga,(4) kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah,(5) keindahan dan kebersihan kelas, dan(6) perbaikan kelengkapan kelas.

6)       Bidang Hubungan Masyarakat, mencakup kegiatan:(1) kerjasama sekolah dengan orangtua siswa,(2) kerjasama sekolah dengan Komite Sekolah,(3) kerjasama sekolah dengan lembaga-lembaga terkait, dan(4) kerjasama sekolah dengan masyarakat sekitar (Depdiknas, 2001).

Sedangkan ketika mensupervisi guru, hal-hal yang dipantau pengawas juga terkait dengan administrasi pembelajaran yang harus dikerjakan guru, diantaranya:

a. Penggunaan program semester
b. Penggunaan rencana pembelajaran
c. Penyusunan rencana harian
d. Program dan pelaksanaan evaluasi
e. Kumpulan soal
f. Buku pekerjaan siswa
g. Buku daftar nilai
h. Buku analisis hasil evaluasi
i. Buku program perbaikan dan pengayaan
j. Buku program Bimbingan dan Konselingk. Buku pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler

5. Prinsip-Prinsip Supervisi Pendidikan

Dalam melaksanakan tugasnya, supervisor hendaknya bertumpu pada prinsip-prinsip supervisi. Menurut E. Mulyasaprinsip-prinsip supervisi antara lain:

  1. hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkis,
  2. dilaksanakan secara demokratis,
  3. berpusat pada tenaga kependidikan (guru),
  4. dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan (guru),
  5. merupakan bantuan profesional

Dalam buku Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan karangan Piet A. Sahertian mengemukakan prinsip supervisi antara lain :

  1. Prinsip ilmiah (scientific), prinsip ini mengandung ciri-ciri sebagai berikut:

a)    Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan  proses belajar mengajar.

b)    Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data, seperti angket, observasi, percakapan pribadi, dan          seterusnya.

c)    Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis, berencana dan kontinu.

  1. Prinsip Demokratis

Layanan dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya.

  1. Prinsip kerjasama

Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi ‘sharing of idea, sharing of experience’, memberi support mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.

  1. Prinsip konstruktif dan kreatif

Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan potensi kreativitas kalau supervisi mampu mencipakan suasana kerja yang menyenangkan, bukan melalui cara-cara yang menakutkan.

Sedangkan Oteng Sutisna mengemukakan prinsip dalam pelaksanaan kegiatan supervisi, yaitu:

  1. Supervisi merupakan bagian integral dari program pendidikan yang bersifat kooperatif dan mengikutsertakan
  2. Semua guru memerlukan dan berhak atas bantuan supervisi
  3. Supervisi hendaknya disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan perseorangan dari personil sekolah
  4. Supervisi hendaknya membantu menjelaskan tujuan-tujuan dari sasaran-sasaran pendidikan
  5. Supervisi hendaknya membantu memperbaiki sikap dan hubungan dari semua anggota staf sekolah
  6. Tanggung jawab bagi pengembangan program supervisi berada pada kepala sekolah bagi sekolahnya.
  7. Efektivitas program supervisi hendaknya dinilai secara periodik.

Dengan demikian prinsip supervisi merupakan bagian yang sangat penting untuk dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan supervisi. Dalam pelaksanaan prinsip supervisi sangat terlihat dari peran kepala sekolah sebagai supervisor atau pengawas internal bagi sekolahnya dalam memajukan dan mengembangkan sekolahnya, sehingga dengan adanya pedoman.prinsip supervisi kepala sekolah diharapkan memberikan pelayanan yang baik tanpa ada pemaksaan kepada guru-guru atau personal.

6. Sasaran Supervisi Pendidikan

Supervisi pendidikan ditujukan kepada usaha memperbaiki situasi belajar mengajar. Yang dimaksud dengan situasi belajar mengajar adalah situasi di mana terjadi proses interaksi antara guru dan murid dalam usaha mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan. Dalam kegiatan pembelajaran sangat sukar menentukan mana yang benar dalam praktek mengajar karena mengajar adalah seni. mengajar dalam pekerjaan disekolah bukan pekerjaan yang mudah, sehingga kepala sekolah dalam demonstrasi pembelajaran tidak perlu mengakui kelemahan dan perlu mencarikan ahli yang dapat memberikan gambaran tentang pembelajaran yang baik.

Sebetulnya apabila dicermati secara rinci, kegiatan supervisi yang sesuai dengan sasarannya dapat dibedakan menjadi dua yaitu: supervisi akademik, supervisi ini lebih menitikberatkan pengamatan pada masalah akademik, yaitu yang langsung berada dalam lingkup kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru unuk membantu siswa ketika sedang dalam proses belajar mengajar. Dan yang kedua adalah supervisi administrasi, yang lebih menitikberatkan pengamatan pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran. Di samping dua macam supervisi yang disebut dengan objeknya atau sasarannya, ada lagi supervisi yang lebih luas yaitu supervisi lembaga dan akreditasi. Yang membedakan antara kedua hal tersebut adalah pelaku dan waktu dilaksanakannya. Supervisi lembaga dilakukan oleh orang yang ada di dalam lembaga yaitu kepala sekolah dan dari luar lembaga yaitu pengawas secara terus menerus, sedangkan supervisi akreditasi dilakukan oleh tim dari luar hanya dalam waktu-waktu tertentu. Tujuannya sama yaitu meningkatkan kualitas lembaga baik parsial maupun keseluruhan. Dengan kata lain yang menjadi sasaran atau objek supervisi akademik, supervisi administrasi, supervisi lembaga, dan supervisi akreditasi adalah sama yaitu meningkatkan kualitas lembaga, tetapi lingkup dan harapan tentang kualitasnya berbeda.

7. Metode & Teknik Supervisi Pendidikan

Tugas pengawas satuan pendidiakan ketika melaksanakan tugas pengawasaannya, haruslah memahami metode dan teknik supervisi akademik agar kegiatan supervise dapat dilaksanakan dengan baik dan hasil pembinaanya mencapai tujuan pembinaan. Ada beberapa metode dan teknik supervise yang dapat dilakukan pengawas. Metode-metode tersebut dibedakan antara yang bersifat individual dan kelompok. (Made, 1992)

  1. 1. Teknik supervisi individual

Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada guru tertentu yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. Supervisor atau pengawas hany berhadapan seorang guru yang dipandang memiliki persoalan tertentu. Teknik-teknik supervisi yang dikelompokkan sebagai teknik individual meliputi: kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antar kelas, dan menilai diri sendiri.

a)        Kunjungan kelas

Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah, pengawas, dan Pembina lainnya dalam rangka mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar, sehingga memperoleh data yang diperlukan dalam rangka pembinaan guru. Tujuan kunjungan kelas ini adalah untuk menolong guru dalam mengatasi kesulitan atau masalah guru di dalam kelas. Melalui kunjungan kelas, pengawas akan membantu permasalahan yang dialaminya.kunjungan kelas dapat dilakukan dengan pemberitahuan atau tanpa oemberitahuan terlebih dahulu, dan bias juga atas dasar undangan dari guru itu sendiri.

Dalam melaksan akan kunjungan kelas, terdapat empat tahap, yaitu

1)    Tahap persiapan, Pada tahap ini, pengawas merencanakan waktu, sasaran, dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas.

2)    Tahap pengamatan, yaitu mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung.

3)    Tahap akhir kunjungan, pada tahap akhir ini pengawas bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi, setelah itu dilakukan tindak lanjut.

Ada beberapa criteria kunjungan kelas yang baik, yaitu;

1)      Memiliki tujuan-tujuan tertentu.

2)      Mengungkapkan aspek-aspek yang dapat memperbaiki kemampuan guru.

3)      Menggunakan instrument observasi tertentu untuk mendapatkan daya yang obyektif.

4)      Terjadi interaksi antara Pembina dan yang dibina sehingga menimbulkan sikap saling pengertian.

5)      Pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses belajar mengajar.

6)      Pelaksanaannya diikuti dengan program tindak lanjut.

b)        Observasi kelas

Observasi kelas secara sederhana dapat diartikan melihat dan memperhatikan secara teliti terhadap gejala yang tampak. Observasi kelas adalah teknik observasi yang dilakukan oleh supervisor terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Tujuannya adalah untuk memperoleh data seobyektif mungkin mengenai aspek-aspek dalam situasi belajar mengajar, kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam usaha memperbaiki proses belajar mengajar. Secara umum yang diamati selama proses pembelajaran adalah:

1)      Usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran.

2)      Cara penggunaan media pengajaran.

3)      Reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar.

4)      Keadaan media pengajaran yang dipakai dari segi materialnya.

Dalam pelaksanaan observasi kelas dilakukan beberapa tahap, yaitu:

1)      Persiapan observasi kelas.

2)      Pelaksanaan observasi kelas.

3)      Penutupan pelaksanaan observasi kelas.

4)      Penilaian hasil observasi.

5)      Tindak lanjut.

Ketika supervisor/pengawas melaksanakan observasi kelas, sebaiknya menggunakan instrument observasi tertentu, antara lain evaluative check-list, activity check-list.

c)        Pertemuan individual

Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara Pembina atau supervisor guru, guru dengan guru, mengenai usaha meningkatkan kemampuan professional guru. Tujuannya adalah: (1) memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan masalah yang dihadapi; (2) mengembangkan hal mengajar yang lebih baik; (3) memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri sendiri; dan (4) menghilangkan atau menghindari segala prasangka yang bukan-bukan.

d)        Kunjungan antar kelas

Kunjungan antarkelas dapat juga digolongkan sebagai teknik supervisi secara perorangan. Kegiatan ini dilakukan guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Melalui kunjungan antarkelas ini diharapkan guru akan memperoleh pengalaman baru dari teman sejawatnya mengenai pelaksanaan proses pembelajaran, pengelolaan kelas, dan sebagainya. Agar kunjungan antarkelas ini dapat berhasil dengan baik dan bermanfaat, maka harus ada beberapa hal yang diperhatikan antara lain:

1)      Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi dengan sebaik-baiknya. Diupayakan agar mencari guru yang berpengalaman sehingga mampu memberikan pengalaman baru bagi guru-guru yang akan mengunjungi.

2)      Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi.

3)      Sediakan segala fasilitas yang diperlukan dalam kunjungan kelas.

4)      Supervisor/pengawas hendaknya mengikuti acara ini denbgan cermat. Amatilah apa-apa yang ditampilakn secara cermat, dan mencatatnya pada format-format tertentu.

5)      Adakan tindak lanjut setelah kunjungan antarkelas selesai. Missal, dengan percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu.

6)      Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, yaitu dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi.

7)      Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.

e)        Menilai diri sendiri

Menilai diri sendiri merupakan satu teknik individual dalam supervisi pendidikan. Penilaian diri sendiri memberikan informasi secara obyektif kepada guru tentang peranannya di kelas dan memberikan kesempatan kepada guru mempelajari metode pengajarannya dalam mempengaruhi murid. Dengan demikian guru akan terdorong untuk mengembangkan diri secara professional.

Ada beberapa cara/alat untuk menilai diri sendiri yaitu:

1)      Buat suatu pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas (buat dalam bentuk pertanyaan bias pertanyaan tertutup atau terbuka dan tidak perlu menyebut nama).

2)      Menganalisis tes-tes terhadap unit kerja.

3)      Mencatat murid-murid dalam suatu catatan, baik mereka bekerja secara perorangan maupun secara kelompok.

  1. 2. Teknik supervisi kelompok

Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian pada kelompok ini diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang dihadapi.

Teknik supervisi kelompok ada beberapa diantaranya adalah:

a)        Kepanitiaan-kepanitiaan

b)        Kerja kelompok

c)        Laboratorium kurikulum

d)        Baca terpimpin

e)        Demonstrasi pembelajaran

f)          Darmawisata

g)        Kuliah/studi

h)        Diskusi panel

i)          Perpustakaan jabatan

j)          Organisasi professional

k)        Bulletin supervisi

l)          Pertemuan guru.

m)      Lokakarya atau konferensi kelompok.

  1. 3. Langkah-langkah pembinaan kemampuan guru

Ada beberapa langkah pembinaan kemampuan guru melalui supervisi akademik, yaitu

a)        Menciptakan hubungan-hubungan yang harmonis

Langkah pertama dalam pembinaan keterampilan pembelajaran guru adalah menciptakan hubungan yang harmonis antara pengawas dan guru, serta semua pihak yang terkait dengan program pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Dalam upaya melaksanakan supervisi akademik diperlukan kejelasan informasi antar personil yang terkait. Tanpa adanya kejelasan, maka guru akan bingung, tidak tahu apa yang diharapkan oleh kepala sekolah, dan meyakini bahwa tujuan pokok dalam pengukuran kemampuan guru, sebagai langkah awal setiap pembinaan keterampilan pembelajaran melalui supervisi akademik. Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi guru yang baik dan kurang terampil dala mengajar.

Untuk mewujudkan penciptaan hubungan yang harmonis diperlukan komunikasi yang efektif. Dalam komunikasi yang efektif memiliki sejumlah prinsip yang harus diterapkan oleh kepala sekolah, yaitu:

1)      Berbicara sebijaksana dan sebaik mungkin.

2)      Ikutilah pembicaraan orang lain secara seksama.

3)      Ciptakan hubungan interpersonal antar personil.

4)      Berpikirlah sebelum berbicara.

5)      Ikutilah norma-norma yang berlaku pada latar sekolah.

6)      Usahakanlah untuk memahami pendapat orang lain.

7)      Konsentrasikan pada pesanmu, bukan pada dirimu sendiri.

8)      Kumpulkan materi untuk mengadakan diskusi bila perlu.

9)      Persingkat pembicaraan.

10)  Ciptakan ketindaksanggupan

11)  Bersemangatlah.

12)  Raihlah sikap orang lain untuk membantu program.

13)  Berkomunikasilah dengan “eye communication”.

14)  Selalu mencoba.

15)  Jadilah pendengar yang baik.

16)  Ketahuilah kapan sebaiknya berhenti berkomunikasi.

b)        Analisis kebutuhan

Analisis kebutuhan sebagai langkah kedua dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru. Secara hakiki, analisis kebutuhan merupakan upaya menentukan perbedaan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan dan secara nyata dimiliki. Dalam rangka memenuhi prinsip ini diperlukan analisis kebutuhan tentang keterampilan pengajaran guru yang harus dikembangkan melalui supervisi pengajaran. Untuk melaksanakan kegiatan ini menggunakan langkah-langkah menganalisis kebutuhan sebagai berikut:

1)      Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan atau masalah-masalah pendidikan-perbedaan (gap) apa saja yang ada antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang nyata dimiliki guru dan yang seharusnya dimiliki guru? Perbedaan di kelompok, disintesiskan dan diklarifikasi.

2)      Mengidentifikasi lingkungan dan hambatan-hambatannya.

3)      Menetapkan tujuan umum jangka pangjang.

4)      Mengidentifikasi tugas-tugas manajemen yang dibutuhkan fase ini, seperti keuangan, sumber-sumber, perlengkapan dan media.

5)      Mencatat prosedur-prosedur untuk mengumpulkan informasi tambahan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki guru. Pergunakanlah teknik-teknik tertentu, seperti; mengundang konsultan dari luar sekolah, wawancara, dan kuesioner.

6)      Mengidentifikasi dan mencatat kebutuhan-kebutuhan khusu pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Pergunakanlah kata-kata perilau atau performasi.

7)      Menetapkan kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan pembelajaran guru yang bias dibina

8)      Mencatat dan member kode kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan pembelajaran guru yang akan dibina melalui cara-cara lainnya.

c)        Mengembangkan strategi dan media

d)        Menilai

e)        Revisi.

8. Kompetensi dasar Supervisor dan Pendekatan Supervisi

Ada tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang supervisor dalam rangka melaksanakan tugas-tugasnya, antara lain sebagai berikut :

  1. Human Relations

Kunci sukses pembimbingan dan bantuan professional kepada para guru terletak pada proses interaksi antar sesame. Komunikasi efektif merupakan media keterampilan human relations. Pesan perlakuan professional sehebat apapun  tidak akan sampai jika pesan tersebut tidak ssampai secara efektif ke guru-guru. Pesan akan sampai ke communicant jika proses interaksi itu terjadi baik secara langsung atau tidak langsung.

  1. Administrasi

Kemampuan administratif merupakan alat penting dalam mengelola lembaga agar bias berjalan dengan baik untuk mencapai tujuan pendidikan. Seorang supervisor harus memiliki kemampuan merencanakan, mengorganisir personel dan sumber daya lainnya, menggerakkan serta mengawasi. Supervisor adalah seorang pemimpin, sudah seharusnya dia mengetahui apa yang harus dilakukan untuk membawa orang-orang dan lembaga dalam rangka mencapai tujuan. Kepemimpinan dan administrasi diibaratkan ruh dan jasadnya.

  1. Evaluasi

Kemampuan evaluasi diperlukan berkaitan dengan peran supervisor itu sendiri sebagai pembimbing dan pembantu pertumbuhan profesionalitas para guru. Untuk mampu membimbing dan membantu diperlukan informasi dan bahan-bahan yang tepat mengenai akar permasalahan yang ditemui oleh para guru. Oleh karena itu, kemampuan evaluasi sangat diperlukan oleh seorang supervisor.

Dalam pelaksanaannya, proses supervise meliputi tiga pendekatan, yaitu :

a)    Supervisi artistik

Proses supervisi merupakan suatu hal yang tidak bias dijelaskan secara rasional. Kreativitas supervisor memiliki peran yang dominan dalam memperbaiki kualitas pelayanan pendidikan.

b)    Supervise saintifik

Proses supervisi yang dilaksanakan haruslah berdasarkan empirica evidence, sistematis dan ilmiah. Segala hal harus berdasarkan atas fakta dan data. Dalam implementasinya, segala aktivitas supervise harus berdasarkan aktivitas penelitian.

c)    Supervise klinis

Proses supervisi dilakukan dalam rangka mengobati. Perbaikan penampilan guru dalam mengajaradalah tujuannya. Pendekatan ini mengajarkan bagaimana guru dikenalkan dengan ilmu dan keterampilan didaktik metodik yang baikdan benar, mengadministrasi pengajaran. Supervise klinis diterjemahkan sebagai suatu proses bimbingan dan bantuan yang diberikan dalam rangka memperbaiki keterampilan guru dalam mengajar di kelas.

9. Langkah-langkah supervisi

Supervisi dilakukan secara cermat sehingga hubungan antara supervisor dengan klien bersifat sejajar dan terbuka. Untuk dapat memperoleh hasil yang maksimal. Maka dilalui langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Pertemuan pendahuluan

Kegiatan yang dilkukan antara lain :

a.  Menciptakan suasana kekeluargaan antara guru dengan supervisor (establish rapport) agar komunikasi selama kegiatan dapat berjalan dengan efektif.

b.  Membuat kesepakatan (contract) antara guru dengan supervisor tentang aspek proses belajar mengajar yang akan dikembangkan dan ditingkatkan (misalnya keterampilan bertanya, cara memotivasi siswa).

Secara singkat, pertemuan pendahuluan ini akan disepakati mengenai :

1) Sasaran atau keterampilan mengajar yang akan diamati secara cermat oleh supervisor

2) Strategi observasi yang akan dilaksanakan

3) Panduan atau instrumen observasi yang akan digunakan

4) Criteria atau tolok ukur yang akan digunakan dalam pengisisan observasi

  1. Perencanaan oleh guru dan supervisor

Kegiatan yang dilakukan antara lain :

  1. Persiapan mengajar tertulis yang sudah dibuat terlebih dahulu untuk dibicarakan kekurangan-kekurangan yang mungkin masih perlu dibenahi, serta membicarakan bagian dari persiapan tertulis tersebut yang akan mendapat perhatian khusus.
  2. Persiapan media atau alat-alat pelajaran yang akan digunakan sekaligus strategi penggunaannya.
  3. Cara-cara mencatat atau perekaman data yang akan digunakan oleh supervisor serta arah pengambilan data. Hgal ini perlu dibicarakan agar guru tidak merasa terganggu pada waktu sedang beraksi.
  4. Pelaksanaan latihan mengajar dan observasi

Pada waktu ini guru melaksanakan mengajar sedangkan suoervisor melakukan pengamatan secara cermat dengan menggunakan observasi. Dalam melakukan observasi, kegiatan yang dilakukan antara lain :

  1. Pengamata dilakukan secara terus menerus selama guru mengajar, tetapi hanya menekankan dan mencatat bagian yang menjadi sasaran saja, sedangkan bagian yang lain dicatat kesan umumnya saja.
  2. Pengamatan intensif dilakukan setiap selang beberapa menit dan dalam jangka waktu tertentu.

Beberapa alternative yang biasa dilkukan adalah :

  1. Periode 5 menit, yaitu mengamati 5 menit, berhenti 5 menit, mengamati lagi 5 meit, berhenti lagi 5 menit, dan seterusnya.
  2. Periode 10-5, yaitu mengamati 10 menit, berhenti 5 menit, mengamati lagi 10 menit, dan seterusnya.
  3. Mengamati terus menerus tetapi pencatatan dilakukan setiap 2 menit atau 4 menit.
  4. Mengadakan analisis data

Hal-hal yang perlu didiskusikan antara lain :

  1. Kesenjangan antara apa yang telah direncanakan dengan pelaksanaannya
  2. Hasil rekaman baik ynag dituliskan dalam instrumen observasi maupun dalam kaset (apabila rekaman dilakukan dengan foto atau film tentu saja belum bias diikutkan untuk didiskusikan saat ini).
  3. Cara atau strategi yang digunakan dalam penyampaian umpan balik. Apabila disepakati bahwa umpan balik  disampaikan secara tertulis agar terdokumentasikan dengan baik maka setelah selesai diskusi analisis data rekaman, supervisor menuliskan kesimpulan akhir untuk umpan balik kepada guru.
    1. Diskusi memberikan umpan balik

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan umpan balik yang dilakukan oleh supervisor kepada guru yang sedang berlatih mengajar meningkatkan keterampilannya. Pemberian umpan balik haruis dilakukan dengan segera dan objektif mengenai sasaran yang telah dibicarakan dalam pertemuan pendahuluan. Sehubungan dengan pemberian umpan balik, terdapat rambu-rambu sebagai berikut :

  1. Sesudah latihan selesai, (calon) guru diminta untuk mengungkapkan persepsi/ kesannya mengenai kegiatan mengajar yang ia lakukan.
  2. Supervisor bersama-sama dengan guru menganalisis kegiatan tersebut langkah demi langkah dilengkapi dengan data hasil pengamatan supervisor. Hal penting dalam langkah ini adalah melatih guru agar dapat melakukan penilaian terhadap diri sendiri.
  3. Dalam mengidentifikasi hal-hal yang sudah baik dan kekurangan dalam latihan, supervisor tidak boleh menunjuk dengan tegas dan keras secara langsung tetapi melalui pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menggali dan mengorek kelemahan sendiri sehingga akhirnya guru menyadari kelemahannya.
  4. Hal yang perlu diingat bahwa dalam langkah ini supervisor harus sekali-kali memberikan pujian, ulasan positif, penguatan, penghargaan terhadap guru agar ada perasaan puas dean bangga, sehingga tumbuh kemauan keras untuk memperbaiki diri.
  5. Pada akhir diskusi, supervisor bersma-sama guru menarik kesimpulan dari latihan yang baru saja dilakukan yaitu hal-hal yang sudah berhasil dan yang masih harus diperbaiki pada lain kesempatan.

Kesimpulan

1.   Supervisi dapat dirumuskan sebagai serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan profesional yang diberikan oleh supervisor ( Pengawas sekolah, kepala sekolah, dan pembina lainnya) guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar. Karena supervisi atau pembinaan guru tersebut lebih menekankan pada pembinaan guru tersebut pula.

2.   Secara teoritis yang menjadi objek supervisi ada dua aspek, yaitu:

2.1.      Aspek manusianya, seperti sikap terhadap tugas, disiplin kerja, moral kerja, kejujuran, ketaatan terhadap peraturan organisasi, kerajinan, kecakapan kerja, kemampuan dalam bekerja sama, watak;

2.2.      Aspek kegiatannya, seperti cara bekerja kerja (cara mengajar), metoda pendekatan terhadap siswa, efisiensi kerja, dan hasil kerja.

3.   Tujuan supervisi pendidikan digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu:

3.1.      Tujuan Umum Supervisi pendidikan

3.2.      Tujuan Khusus Supervisi Pendidikan

4.   Fungsi supervisi adalah memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar guru di kelas yang pada gilirannya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Bukan saja memperbaiki kemampuan mengajar tetapi juga mengembangkan potensi kualitas guru

5.   Prinsip-prinsip Supervisi Pendidikan supervisi antara lain :

5.1.      Prinsip ilmiah (scientific), prinsip ini mengandung ciri-ciri sebagai berikut:

5.2.      Prinsip Demokratis

5.3.      Prinsip kerjasama

5.4.      Prinsip konstruktif dan kreatif

6.   Sasaran dari upervisi pendidikan ditujukan kepada usaha memperbaiki situasi belajar mengajar.

7.   Metode dan teknik supervisi pendidikan:

7.1.      Teknik supervisi individu

7.2.      Teknik supervisi kelompok

8.   Ada tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang supervisor dalam rangka melaksanakan tugas-tugasnya yaitu human relations, administrasi dan evaluasi

9.   Langkah-langkah supervisi :

9.1.      Pertemuan pendahuluan

9.2.      Perencanaan oleh guru dan supervisor

9.3.      Pelaksanaan latihan mengajar dan observasi

9.4.      Mengadakan analisis data

9.5.      Diskusi memberikan umpan balik

2 Referensi

  • Ametembun, N.A. 1981. sekolah. Bandung: IKIP Bandung.
  • Arikunto, Suharsimi. 1

 

BLOG GURU INDONESIA

MENJADI GURU BERMUTU DAN PROFESIONAL