GURU INDONESIA

Berbagi Informasi Untuk Guru Indonesia

METODE METODE PEMBELAJARAN EFEKTIF

January 23rd, 2016

Belajar atau pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan kepada anak-anak kita. Karena ia merupakan kunci sukses unutk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi. Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenakngkan dan tidak membosankan. Di bawah ini adalah beberapa metode pembelajaran efektif, yang mungkin bisa kita persiapkan.

Metode Debat
Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.
Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.
Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.

Metode Role Playing
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing:
Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.
1. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
4. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berpikir dan bertindak kreatif.
3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:
1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.

Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah:
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Kelebihan:
1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
2. Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain.
3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.
Kekurangan:
1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai.
2. Membutuhkan banyak waktu dan dana.
3. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini

Cooperative Script
Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah:
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2. Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
6. Kesimpulan guru.
7. Penutup.
Kelebihan:
• Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
• Setiap siswa mendapat peran.
• Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.
Kekurangan:
• Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
• Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut).

Picture and Picture
Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Langkah-langkah:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
3. Guru menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
4. Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5. Guru menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6. Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7. Kesimpulan / rangkuman.
Kebaikan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Melatih berpikir logis dan sistematis.
Kekurangan:Memakan banyak waktu. Banyak siswa yang pasif.

Numbered Heads Together
Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
Langkah-langkah:
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
6. Kesimpulan.
Kelebihan:
• Setiap siswa menjadi siap semua.
• Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
• Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan:
• Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
• Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru

Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Seleksi topik
Parasiswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
b. Merencanakan kerjasama
Parasiswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas.
c. Implementasi
Parasiswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
d. Analisis dan sintesis
Parasiswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
e. Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
f. Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.

Metode Jigsaw
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang.
Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.

Metode Team Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
1. Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2. Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
3. Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4. Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5. Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40

Model Student Teams – Achievement Divisions (STAD)
Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti.
Langkah-langkah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll.).
2. Guru menyajikan pelajaran.
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5. Memberi evaluasi.
6. Penutup.
Kelebihan:
1. Seluruh siswa menjadi lebih siap.
2. Melatih kerjasama dengan baik.
Kekurangan:
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
2. Membedakan siswa.

Model Examples Non Examples
Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus / gambar yang relevan dengan KD.
Langkah-langkah:
1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar.
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
6. Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
7. KKesimpulan.
Kebaikan:
1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.
2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekurangan:
1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
2. Memakan waktu yang lama.

Model Lesson Study
Lesson Study adalah suatu metode yang dikembangkan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah lesson study sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida.
Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:
a. Perencanaan.
b. Praktek mengajar.
c. Observasi.
d. Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran.
2. Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasar-dasar teori yang menunjang.
3. Guru yang telah membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana.
4. Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui.
5. Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
6. Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke (2).
Adapun kelebihan metode lesson study sebagai berikut:
– Dapat diterapkan di setiap bidang mulai seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga dan pada setiap tingkatan kelas.
– Dapat dilaksanakan antar/ lintas sekolah.Baca Juga

CIRI GURU KREATIF

January 23rd, 2016

Berikut ini adalah ciri-ciri guru kreatif, ..

1.memiliki kreasi-kreasi terbaru yang bersifat inovasi dalam mengembangkan model pembelajaran.

2.mampu merancang dan mendisain perangkat pembelajaran secara mandiri.

3.mampu menyajikan materi pelajaran dengan metode yang bervariasi.

4.Mampu menyajikan pembelajaran yang menyenangkan.

5.Selalu optimis dalam melaksanakan tugas.

6.Menjadi pemecah masalah dalam hubungan komunikasi social.

7.Selalu melakukan eksperimen dalam menjalankan tugasnya.

8.Berpikir positif.

9.Taat beribadah

10.Menjadi panutan bagi rekan sesama guru.

FAKTOR PENENTU KUALITAS PEMBELAJARAN

January 23rd, 2016

Ada 3 faktor utama penentu kualitas pembelajaran di ruang kelas:

1.Guru

Strategi dan metode mengajar yang digunakan akan menentukan kualitas pembelajaran di kelas. Strategi yang jitu dan metode yang tepat akan menciptakan pembelajaran bermakna bagi siswa. Pendekatan yang digunakan dalam mengajar meliputi perencanaan administrasi maupun non teknis. Metode yang tepat adalah metode mengajar yang sesuai dengan karakter materi pelajaran, siswa dan fasilitas belajar yang tersedia.

Gaya dan teknik mengajar guru juga ikut menentukan kualitas pembelajaran. Guru yang menguasai materi, piawai dalam berbahasa, demokratis dalam mengajar lebih berpeluang untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan siswa.

2.Sarana dan fasilitas belajar

Sarana dan fasilitas belajar merpakan semua benda atau materi yang dapat menunjang kelancaran proses pembelajaran. Pembelajaran memerlukan adanya media dan alat peraga. Kalau perlu dilengkapi dengan fasilitas laboratorium yang memadai. Semua bahan ini membantu siswa untuk menerima dan mencerna materi pelajaran dengan baik.

3.Siswa

Dalam konteks pendidikan, siswa adalah subjek sekaligus objek yang belajar. Siswa memiliki konsep-konsep ilmu yang sudah mereka dapatkan dari jenjang pendidikan sebelumnya dan pengalaman emperis sehari-hari. Pengembangan konsep ilmu tersebut diluruskan dan dikembangkan melalui proses pembelajaran. Siswa ternyata bukanlah ibarat botol kosong yang harus diisii dari awal.

Input siswa antara satu sekolah dengan sekolah lain tidak pernah persis sama. Latar belakang sosial dan geografi menentukan input siswa suatu sekolah. Sekolah yang merekrut siswa dengan sistem seleksi akan memiliki input intelektual yang lebih jika dibandingkan dengan sekolah yang melaksanakan wajib belajar.

STRATEGI DASAR DALAM MENGAJAR

January 23rd, 2016

1.Pembelajaran melibatkan aktivitas pisik dan psikis.

Pembelajaran harus melibatkan aktivitas fisik dan aktivitas mental siswa secara bervariasi. Mulai dari mata, telinga, hidung, kulit, tangan sampai ke otak terlibat saat pembelajaran berlangsung. Indikasi keterlibatan semua aktivitas ini adalah konsentrasi dan pemusatan perhatian pada materi pelajaran yang dibahas.

2.Penggunaan metode pembelajaran.

Pembelajaran mengisyaratkan agar guru menggunakan berbagai metode (multimetode) dalam menyampaikan materi pelajaran. Barangkali, tidak satupun metode pembelajaran yang dianggap paling bagus atau paling tidak bagus. Metode pembelajaran apapun bisa digunakan asal sesuai dengan karakter materi pelajaran dan ketersediaan sarana belajar. Yang penting metode itu bisa melibatkan aktivitas fisik dan mental siswa secara optimal.

3.Berorientasi pada siswa.

Aktivitas guru di ruang kelas seyogyanya lebih dikurangi sehingga guru tidak lebih sibuk dari pada siswanya. Guru harus mampu menekan dirinya untuk mau memberikan waktu belajar kepada siswa sebanyak mungkin dalam pembelajaran. Strategi dan metode pembelajaran yang dipilih guru sangat menentukan terlaksananya hal ini.

4.Motivator pembelajaran.

Idealnya dalam pembelajaran, peran guru itu menjadi motivator, fasilitator dan pembimbing siswa dalam belajar. Guru harus mampu menjadi pembangkit semangat siswa untuk belajar. Pada dasarnya siswa memiliki potensi motivasi yang besar dalam dirinya. Motivasi tersebut bisa saja berasal dari dalam diri siswa dan bisa pula dari luar diri siswa. Inilah peran guru, bagaimana memfasilitasi dan membimbing siswa agar semua potensi itu dapat dikembangkan secara optimal melalui pembelajaran.

Sasaran utama segenap rangkaian kegiatan pembelajaran adalah hasil belajar siswa yang optimal sehingga menjadi milik siswa. Hasil belajar tersebut bermanfaat bagi siswa secara kognitif, afektif dan psikomotorik. Demikianlah beberapa strategi dasar mengajar yang perlu diperhatikan oleh calon guru maupun guru baru.

INOVASI PEMBELAJARAN ONLINE DENGAN QUIQPPER SCHOOL

December 23rd, 2015

Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada pendidikan tingkat menengah baik itu SMP maupun SMA di Indonesia semakin mudah terselenggara dengan kehadiran beberapa startup pendidikan,

Materi dan soal berkualitas tinggi, dibuat oleh pengajar berpengalaman di Indonesia,

  • Tersedia setiap saat, baik digunakan sebagai tugas kelas maupun PR.
  • Dapatkan umpan balik mengenai performa siswa pada saat itu juga, ketahui kelebihan dan kelemahan mereka hanya dalam hitungan detik.
  • memberdayakan guru dengan siswa secara online, menambah ilmu pengetahuan dan meningkatkan hasil belajar.

Silakan memilih dari ribuan topik yang sudah kami sediakan, atau membuat konten edukasi Anda sendiri. Pilihan ada di tangan Anda. Lihat konten kami.

Quipper School merupakan startup pendidikan yang menyediakan dua layanan utama:

  • Pertama: Quipper School Learn sebuah portal khusus siswa dimana mereka bisa mengakses atau membaca materi pelajaran, menjawab soal, mengirimkan pesan ke guru, dan melihat performa belajar teman sekelasnya.
  • Kedua: Quipper School Link sebuah portal khusus untuk guru dimana mereka dapat menyiapkan tugas, melihat perkembangan siswa, mengirim pesan ke siswa, mengelola kelas, dan membuat kelas online.

Quipper-School-Screenshoot-

Secara teknis, melalui Quipper School Indonesia, guru dapat memberikan tugas kepada siswa secara online dan siswa dapat mengerjakannya (sekaligus mempelajari topik mata pelajaran yang berkaitan dengan tugas tersebut) baik di dalam maupun di luar kelas melalui perangkat mereka masing-masing yang terkoneksi dengan internet.

Setelah para siswa mengerjakan serta mengumpulkan tugasnya, sistem penilaian yang tersedia pada platform Quipper School Indonesia akan melakukan analisis data secara sederhana namun canggih yang akan membantu para Guru dalam mendapatkan gambaran yang jelas tentang pencapaian siswa. Tentu saja sistem penilaian hanya bersifat membantu, setelah guru secara manual memasukkan data soal dan jawabannya. Sehingga sistem penilaian bertugas mencocokkan antara jawaban dari siswa dengan kunci jawaban versi guru.

Para guru akan mendapatkan laporan mengenai seberapa baik sang siswa dalam menguasai mata pelajaran tertentu, bagaimanakah kemajuan belajar setiap siswa, mengetahui keunggulan atau potensi setiap siswa, siapa yang mendapat nilai tertinggi, dan lainnya. Melalui gambaran tentang pencapaian ini, para siswa pada saat itu juga akan memperoleh umpan balik mengenai hal-hal yang perlu diperbaiki terkait penguasaan terhadap suatu topik materi pelajaran tertentu.

Sistem-penilaian-thumb

Belum memperoleh pendapatan

Selama hampir setahun beroperasi di Indonesia, Quipper School Indonesia masih menggratiskan layanan dan konten yang disediakannya. Bagaimanapun, kedepannya Quipper School Indonesia berencana akan menyediakan fitur dan konten premium berbayar seperti online tutoring (les online) dan konten untuk persiapan Ujian Nasional (UN).

Sejauh ini pengguna yang sudah mendaftar di Quipper School Indonesia yaitu lebih dari 50.000 guru dan lebih dari 250.000 siswa. Namun, dari akumulasi jumlah guru dan siswa tersebut, baru 60 persen yang menjadi pengguna aktif bulanan. Para guru dan siswa ini bersumber dari sekitar 10.000 sekolah (dengan perbandingan SMA 70 persen dan SMP 30 persen). Setiap kelas online dalam Quipper School Indonesia sendiri dapat menampung hingga 60 siswa, tetapi para guru masih bisa membuat kelas online sebanyak-banyaknya sesuai kebutuhan.

Disinggung mengenai minimnya pengguna terdaftar dari kalangan siswa, Quipper School Indonesia mengatakan bahwa kemungkinan ini karena para guru yang sudah mendaftar belum langsung mengaktifkan akun mereka. Sementara para siswa baru akan mendaftar dan mengaktifkan akunnya, jika para guru terlebih dahulu sudah menggunakan platform ini.

Quipper School Indonesia sendiri mengklaim selama ini belum menemui banyak tantangan. Hal ini berkat adanya sebagian anggota tim yang berasal dari kalangan guru yang terus memberikan nasihat berharga dan pengetahuan baru mengenai ekosistem pendidikan nasional bagi tim Quipper School Indonesia. Kedepannya, Quipper School Indonesia akan membuat konten untuk SD kelas 3 hingga 4, membuat konten untuk pengguna mobile gadget, serta bekerjasama dengan dinas pendidikan baik tingkat daerah dan tentu saja tingkat nasional.

Sejak November 2014, Quipper School sudah memperoleh pendanaan sebesar USD 10 juta (sekitar Rp 120 miliar) yang bersumber dari perusahaan Venture Capital (VC) Atomico (Inggris), Globis (Jepang), 500 Startups (Amerika Serikat), dan Benesse (Jepang). Pegawai Quipper School sendiri berjumlah sekitar 100 orang (tidak termasuk Indonesia) yang tersebar di London, Tokyo, dan Manila (kantor pusat untuk wilayah di Asia).

Untuk Bapak Ibu guru daftar disini

Untuk siswa daftar disini

GURU PEMBELAJAR

December 2nd, 2015

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) sangat peduli dengan pengembangan dan pembinaan profesi guru, yang akan bermuara pada peningkatan hasil belajar siswa. Guru perlu secara berkelanjutan mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya agar dapat mengimplementasikan keprofesiannya di dalam kelas dan dapat memfasilitasi proses pencapaian belajar siswa dengan baik.

Pengembangan dan pembinaan profesi guru tidak hanya dilaksanakan dalam konteks formal seperti melalui seminar, workshop, konferensi, atau pendidikan formal di universitas, tetapi dapat juga dilaksanakan dalam konteks informal seperti diskusi antar sesama guru, belajar mandiri melalui membaca dan penelitian. Dalam konteks formal, Ditjen GTK mengembangkan program Guru Pembelajar (GP) yang dalam pelaksanaannya dikelola oleh unit pelaksana teknis (UPT) yang berada di bawahnya, yaitu Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS), dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kelautan, Perikanan, Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPPPTK-PKTK).

 

 



SIMULASI UKG 2015 SEMUA JENJANG DAN MATA PELAJARAN

November 12th, 2015

SD/TK

SMP

SMA

SMK

 

DOWNLOAD CARA PELAKSANAAN UKG ONLINE DAN OFFLINE

November 10th, 2015
Pelaksanaan UKG 2015 secara online memanfaatkan komputer dan internet dalam pengisian soal soal dan evaluasi nilai akhir. Tentunya akan terdapat beberapa kendala, khususnya bagi Bapak/Ibu Guru yang tidak terbiasa menggunakan komputer. Sebaliknya pelaksanaan UKG 2015 secara offline akan dilaksanakan secara manual.

Selain masalah teknis, juga perlu diketahui tata cara pelaksanaan UKG 2015 secara prosedural yang meliputi runtutan pelaksanaan UKG 2015 dari awal sampai selesai. Guna membantu Bapak/Ibu Guru dan juga sebagai gambaran pelaksanaan Uji Kompetensi Guru tahun 2015, berikut ini kami sajikan tata cara pelaksanaan UKG 2015 Online dan juga Offline. Silahkan diunduh pada link dibawah ini.

 

 

DOWNLOAD APLIKASI LATIHAN UKG 2015 LENGKAP VERSI ANDROID

November 7th, 2015
Dengan adanya Aplikasi Latihan UKG versi Android, kini Bapak/Ibu Guru dapat memanfaatkan Gadget Android yang dimiliki untuk memahami soal dan latihan – latihan guna persiapan dalam menghadapi Uji Kompetensi Guru tahun 2015.  Aplikasi Latihan UKG versi Android berikut didasarkan atas Bidang – Bidang tertentu. Berikut ini adalah beberapa tampilan dari Aplikasi Latihan UKG versi Android.
Kumpulan Aplikasi UKG 2015 versi Android
Aplikasi UKG IPA
Dengan adanya Aplikasi Latihan UKG versi Android kini Perangkat Android Bapak/Ibu Guru dapat lebih bermanfaat. Semoga Kumpulan Aplikasi Uji Kompetensi Guru versi Android diatas dapat membantu Bapak/Ibu Guru dalam persiapan menghadapi Uji Kompetensi Guru tahun 2015. Salam Pendidikan.

GURU INDONESIA

Berbagi Informasi Untuk Guru Indonesia